"Bagaimana bisa?" Kapten Frederik keheranan sekaligus marah.
Tumpukan guci-guci itu berantakan oleh ulah seekor tupai.
"Ahhhh ...!" Kapten Frederik marah besar.
Dor!
Kapten Frederik menembakan sebutir peluru ke tubuh Si Pandu yang sedang melompat-lompat.
Dor!
Dor!
Anak buahnya mengikuti, senapan yang ada memuntahkan peluru.
Peluru yang diarahkan kepada hewan pengerat itu tidak menyentuh tubuhnya. Timah panas malah menembus dinding batu. Ternyata, Si Pandu lebih lincah dari pada butiran peluru. Dia masuk ke dalam cerobong asap dan berhasil kabur ... tidak terlihat lagi.
Rencana yang sudah tersusun kini berantakan.
Kapten Frederik mengarahkan pandangan ke anak buahnya. Mata lelaki itu melotot. Mukanya memerah.
"Kacau ... kacau ... bagaimana bisa? Bagaimana bisa seekor tupai mengacaukan ini semua?"
Anak buahnya tidak berani berkata-kata. Mereka belum pernah melihat pimpinannya begitu murka seperti saat ini. Sebuah kerja keras yang dilakukan berhari-hari bisa dikacaukan oleh seekor tupai yang menyusup.
Si Plontos, Si Jabrik dan Si Pria Besar hanya tertunduk. Merasa bersalah. Mereka tahu rencana bisa berubah. Dan, itu memerlukan waktu dan biaya yang lebih banyak dari sebelumnya.
Kapten Frederik begitu kesal, hingga dia lupa pada dua remaja yang sedang ditawan. Dia membalikan badan, dan ... terjadi sesuatu.
"Kemana dua anak itu?!"
Tidak ada yang sanggup memberikan jawaban. Mereka yang ditanya hanyalah bisa menunjukkan sesuatu. Hal yang tidak diharapkan oleh pihak manapun apabila menahan seseorang untuk tidak pergi.
Hanya seutas tali yang tergeletak di dekat tiang goa itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
