Bajra dan Panca masih berada di tengah hutan. Di sekitar mereka hanyalah gelap, suara serangga, dan dedaunan yang bergoyang karena hembusan angin. Tidak ada orang lain selain mereka. Dua remaja yang memberanikan diri mencari bayangan yang masih misteri, hanya bermodalkan rasa penasaran.
Berbekal obor sebagai penerangan, mereka berdua bisa memperoleh gambaran bagaimana keadaan hutan. Bukan pepohonan besar yang membuat jantungnya berdegup kencang karena pohon rindang biasa ditemukan di pekarangan rumah. Mereka khawatir bertemu dengan sesuatu yang lain tanpa terduga.
Tanda diduga, salah satu hal asing itu terdengar tetapi tidak terlihat wujudnya.
Bajra mundur dan berdiri di belakang Panca sesaat setelah mendengar suara yang asing di telinga. Dia ketakutan ketika terdengar suara gemerisik. Binatang buas?
"Raden, itu binatang ...?" Bajra mencoba meyakinkan.
Panca tidak memberikan jawaban yang pasti. Hingga dia memperhatikan dengan seksama sesuatu yang menimbulkan suara tadi. "Aduuhhh ... Bajra. Dia bukan binatang buas."
"Lalu apa?"
"Coba perhatikan bentuk tubuhnya?" Raden Panca mendekatkan obor pada sumber suara itu berasal.
"Hah ... Pandu! Kau mengagetkanku saja." Seekor tupai berdiri di dahan pohon yang menjulur ke jalan setapak.
Ternyata, si Pandu. Tupai yang akrab dengan Panca dan Bajra. Si tupai biasa berkeliaran di sekitar rumah dua sekawan itu, bahkan meminta jatah makan. Seharian ini dia tidak terlihat mampir ke rumah, ternyata dia sedang main ke tengah hutan.
"Pandu, ke mana saja kau seharian ini?" Raden Panca mengelus kepala binatang pengerat itu.
"Aha ... aku tahu. Pasti kamu sedang mencari pasangan ...," Bajra menggoda Si Pandu sembari menggelitik tubuhnya yang mungil.
Hewan menggemaskan itu seakan mengerti apa yang dibicarakan dua anak remaja di dekatnya. Si Pandu melompat ke atas pundak Raden Panca. Ekor yang bergoyang menjadi penanda jika hatinya tengah bergembira.
Kehadiran Si Pandu cukup mengendurkan ketegangan. Sekaligus menambah keyakinan jika Panca dan Bajra akan meneruskan misi mereka mencari bayangan hingga ke tengah hutan. Untuk sesaat, mereka duduk di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah. Ujung obor yang runcing bisa tertancap di tanah tepat di sela akar yang besar. Tampak jalan setapak yang menanjak sebagai penanda jika warga sudah terbiasa menggunakan jalur tersebut apabila merambah hutan.
"Raden, bagaimana? Kita lanjutkan perjalanan?" Bajra bertanya kepada Panca. Anak bertubuh gempal itu tidak sepenuhnya yakin untuk terus menapaki jalan yang menanjak.
"Baiklah. Ayo ...!"
Tenaga mulai berkurang, tetapi tujuan telah ditetapkan.
Mereka bertiga pun meneruskan perjalanan. Malam semakin larut, hawa dingin mulai terasa menusuk kulit. Awalnya, hawa dingin itu tidak terasa ketika mereka semangat mengejar bayangan. Tatkala semangat mengendur maka hawa dingin itu semakin menyapa.
"Bajra, kau yakin kita akan meneruskan usaha pencarian ini?"
"Ya, kenapa kau bertanya begitu. Ini penting buat kampung kita." Gaya bicara anak bertubuh gempal itu terkesan meyakinkan.
"Begini, maksudku ... kenapa tidak kita tunda saja hingga besok. Sekarang masih gelap." Alasan dari Panca memang bisa diterima oleh akal sehat.
Walaupun, Bajra punya alasan lain. "Justru itu. Kalau sudah siang bayangan itu tidak akan muncul."
"Baiklah ... aku paham."
Mereka tidak ingin meneruskan obrolan yang bisa mematahkan semangat. Panca harus memimpin kawannya dan seekor tupai demi memantapkan tujuan. Jangan sampai terlintas pemikiran untuk mundur ke belakang setelah berjalan jauh hingga ke tengah hutan. Betis kaki yang pegal bukanlah alasan untuk kembali pulang sebelum memperoleh hasil yang diinginkan.
Hingga, suatu saat perhatian kedua anak itu tertuju pada suara yang tidak biasa. Terdengar seperti suara gesekan daun kelapa diterpa angin malam. Obor pun diarahkan ke sumber suara. Ternyata cahaya yang redup tidak cukup demi memastikan suara apa gerangan yang mendekat.
Wajah Panca mendongak sedangkan Bajra memilih untuk memeluk si Pandu yang enggan menjauh dari kedua anak remaja itu. Tanpa ada yang memberi komando, mereka mendekap batang pohon terbesar di sana bermaksud untuk berlindung dari kemungkinan yang tak terduga.
Inilah saat-saat yang ditunggu, bertemu sesuatu yang ditunggu kemunculannya.
"Bajra ... apakah kemunculan bayangan seperti ini yang kau harapkan?"
"Mana ... mana bayangannya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
