54

155 37 0
                                        

"Kita ke mana, Raden?" Bajra bertanya sambil berlari. Tentu bukan lari kencang sebagaimana yang diharapkan oleh Panca. Anak bertubuh tambun itu tidak sanggup melakukannya.

"Kita pulang."

Raden Panca dan Bajra berlari secepat yang mereka sanggup. Bukan berlari di tanah lapang atau jalan raya yang lurus, berlari di antara pohon-pohon besar tidaklah mudah. Ketakutan menjadi pendorong serta tidak menghiraukan resiko akan tersandung atau terjatuh.

Matahari di atas kepala sudah meninggi. Sang surya bisa menjadi penunjuk waktu sekaligus pengingat jika mereka cukup lama ditawan oleh komplotan Frederik. Keringat pun bercucuran di tubuh kedua anak remaja tersebut.

Seekor monyet terkaget-kaget pada kehadiran mereka berdua. Si monyet melompat ke dahan pohon, padahal dia sedang menikmati pisang kesukaannya. Ada apa dengan manusia ini?

"Apakah mereka akan mengejar kita?" Bajra merasa was-was jika para penghuni goa itu mengejar.

Panca mengajak Bajra untuk melalui jalan pulang yang telah dikenali sebelumnya. Mereka tidak mempertimbangkan jika jalur tersebut bisa menjadi jalan termudah bagi para penjahat itu untuk mengejar hingga keduanya tertangkap.

"Entahlah. Pokoknya kita harus berlari secepat mungkin." Hanya itulah yang terpikir oleh Panca.

Langkah mereka terhenti ketika menemui aliran sungai yang lebih deras. Tidak ada cara lain untuk menyeberang kecuali berenang. Di sana tidak tampak batu yang menonjol ke permukaan. Pertanda sungai itu dalam.

"Ayo! Mereka masih jauh. Kita menyeberang!" Panca mengajak sahabatnya menyeberangi sungai.

Bajra tampak ragu.

"Percaya padaku!" Tangan Panca memegang erat lengan Bajra.

Mereka bukan perenang yang handal. Desa Pujasari berada jauh dari sungai besar, tidak banyak waktu untuk belajar berenang. Namun, hal demikian bukan alasan untuk tidak bergerak maju. Sesekali terlihat ikan muncul di permukaan air. Ada ikan dengan ukuran sebesar telapak tangan hingga ikan sebesar jari tangan. Binatang air itu seakan memberi tuntunan tentang bagaimana menjadi perenang yang baik.

Ketika sampai di tepi seberang, Panca dan Bajra masih sempat memperhatikan si ikan. Terima kasih, Ikan.

Sayang, nasib si ikan tidak mujur setelah bermaksud baik kepada dua manusia yang ditemuinya.

Haap! Seekor burung cekakak menyambar si ikan kecil itu. Sungguh malang nasibnya menjadi mangsa si burung. Si ikan pasrah, dia tahu ajalnya telah tiba.

"Ayo lari! Jangan sampai nasib kita sama dengan ikan itu," Raden Panca menyemangati Bajra yang selalu berlari lebih lambat. Badannya yang gemuk sulit diajak bergerak cepat.

Berpuluh menit kemudian, kedua anak remaja itu sampai di sebuah jalan setapak. Jalan yang dikenalinya.

Sebenarnya Panca bisa berlari lebih cepat dari Bajra. Tapi, dia tidak tega meninggalkan temannya itu. Dia terlalu sering berhenti, demi mengambil nafas.

"Raden ... bagaimana dengan Si Pandu?"

"Ya, aku juga mengkhawatirkan dia. Tapi, yakinlah Si Pandu akan baik-baik saja. Dia binatang cerdas."

Bajra dan Raden Panca berhenti sejenak. Dia sudah dekat dengan perkampungan. Berharap para penghuni goa itu tidak mengejar mereka hingga ke pemukiman warga.

Di hadapan mereka banyak pohon pisang dan pohon singkong milik warga. Pertanda akan ada orang di sekitar tempat itu, biasanya ada yang sedang berkebun. Mereka berharap ada yang menolong.

"Panca! ... Bajra!"

Terdengar suara dari arah timur memanggil nama mereka. Sontak Raden Panca dan Bajra kegirangan. Dilihatnya banyak warga yang berjalan ke arah mereka.

"Ayah!"

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang