"Menurutmu, apakah kejadian kehilangan Pranata dengan matinya domba-domba kita ada hubungannya?"
"Kenapa kamu bilang begitu?" Raden Panca paham kebiasaan sahabatnya. Pikirannya penuh rasa penasaran.
"Aku merasa semuanya nampak serba kebetulan. Kita jadi dibuat sibuk oleh permasalahan yang datang secara bersamaan."
Panca menarik tubuhnya ke belakang sambil bertanya, "maksudmu, semuanya nampak tidak alami?"
"Seperti sebuah rekayasa."
Raden Panca mengangguk tanda setuju jalan pikiran Bajra. Sembari mengunyah nasi, mereka membuka perbincangan di bawah pohon mangga. Meskipun siang itu warga makan bersama setelah lelah bekerja membangun kandang baru, Raden Panca dan Bajra memisahkan diri agar pembicaraannya tidak didengar oleh warga lain.
"Ini sih diantara kita saja, jangan dulu bicara pada orang lain," Raden Panca memberi peringatan.
"Bukankah seharusnya semua warga tahu akan keganjilan ini?"
"Jangan," dari arah belakang Pratiwi menguatkan pendapat Raden Panca.
"Hei ... Pratiwi. Kenapa kamu berpendapat begitu?" Bajra tersipu saat Pratiwi menghampirinya.
Gadis itu langsung duduk di hamparan rerumputan, tepat di sisi Bajra. Bola matanya memperhatikan warga yang sedang menikmati hidangan di piring masing-masing. Sedangkan kedua tangannya merapihkan kain sarung yang membelit pinggang. Kebiasaan perempuan pribumi sebelum duduk, tetap memperhatikan tatakrama.
Pratiwi enggan jika ada orang yang memperhatikan. Anak gadis itu duduk membelakangi kerumunan warga. "Semalam aku melihat sesuatu di kandang domba belakang rumah," Pratiwi memulai ceritanya.
"Apa yang kamu lihat?"
Pratiwi mencondongkan badan sambil memberi penjelasan. "Ketika para pria sholat maghrib di masjid, aku mendengar suara domba ribut di dalam kandang."
Bajra ingin segera tahu kelanjutan cerita dari Pratiwi, "lalu?"
"Awalnya aku takut keluar rumah. Aku juga takut untuk melihat keadaan di luar. Hari sudah gelap waktu itu." Pikiran Pratiwi menerawang, mengingat kejadian malam tadi. "Tapi, rasa penasaranku membuat aku jadi berani untuk memeriksa halaman belakang."
"Kau memang selalu penasaran." Panca mengomentari sifat saudari sepupunya.
"Eee ... meskipun deg-degan ... aku buka pintu belakang ... walaupun hanya sedikit." Pratiwi mengurangi kecepatan bicara. Dia semakin serius untuk bercerita. "Aku intip lewat pintu."
"Ada apa?"
"Ada bayangan yang berlari dari arah kandang." Pratiwi mengarahkan pandangan pada tempat yang dimaksud.
"Dia lari ke arah mana?"
Pratiwi menunjuk hutan yang berbatasan langsung dengan kawasan kampung. "Ke arah hutan."
"Hanya bayangan? Tidak jelas."
"Ya. Belum jelas. Makanya aku belum memberitahu siapa-siapa agar orang-orang tidak berpikir macam-macam. Ya, kecuali pada kalian."
"Kamu yakin? Mungkin itu hanya penglihatanmu saja ...." Panca hanya menegaskan jika Pratiwi yakin dengan apa yang pernah dilihatnya.
"Makanya aku tidak mau sesumbar pada banyak orang."
"Tapi ini kabar yang penting," Bajra menarik kesimpulan cerita Pratiwi.
Panca pun kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri, "hanya sekedar bayangan?"
"Bayangan itu ... pasti bukan binatang?" Bajra pun seakan meragukan cerita dari Pratiwi.
"Apakah bentuknya seperti manusia?" Raden Panca menyelidiki.
"Tidak. Bentuknya tidak seperti manusia. Bentuknya lebih lebar." Pratiwi memberi isyarat dengan merentangkan kedua tangannya.
"Tapi, aku yakin dia manusia. Mungkin manusia berjubah."
"Bajra, apa yang membuat kamu yakin?" Pratiwi mengerutkan dahi.
"Karena binatang tidak mungkin tahu kapan para pria tidak ada di rumah ...," Bajra meyakinkan dua kawannya.
"Ya ... binatang juga tidak mungkin paham jika wanita dan anak-anak banyak yang takut pada gelap," Raden Panca paham arah pembicaraan Bajra.
"Ya ... binatang juga tidak akan paham jika para pria sedang keluar rumah mencari anak hilang ...," tambah Pratiwi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
