Siang itu warga Desa Pujasari masih menikmati makan siang yang disiapkan oleh para wanita. Makan siang kala itu, cukup mengobati perasaan mencekam yang dirasakan sejak semalam. Kebiasaan makan bersama bias dilakukan apabila ada kenduri atau masa tanam di kebun. Kali ini, makan bersama dilakukan ketika warga bekerja sama untuk membangun kandang ternak.
Mereka tidak ingin jika domba-domba kembali menjadi sasaran makhluk tanpa rupa yang membunuhnya. Ternak yang masih hidup dikumpulkan dalam satu kandang demi memudahkan pengawasan.
Untuk sesaat, mereka lupa akan lara yang menimpa. Tapi, masalah yang mendera belum reda. Apalagi, jika masalah yang mereka hadapi sampai terdengar oleh Pemerintah di Ibu Kota. Bingung, apakah mereka harus gembira atau tidak nyaman hati karena urusan biasanya lebih rumit jika melibatkan Pemerintah.
Di bawah terik mentari kala itu, warga mendengar suara derap langkah kuda dari kejauhan. Di antara mereka menjadi bertanya-tanya, siapa yang datang?
Suara langkah kuda itu semakin jelas terdengar, tanda mereka sudah mendekat. Semua mata tertuju pada gapura desa, karena dari sanalah para tamu akan tiba.
"Oh, ternyata para serdadu Kompeni," di antara mereka pun saling berbisik.
Ki Lurah mendengar orang yang saling berbisik. Dia pun menoleh kepada orang tersebut kemudian memberi isyarat. Telunjuk kanan mendekat ke bibir, warga pun mengerti betul maksud isyarat demikian.
"Selamat datang di desa kami, Tuan Frederik," Raden Bakti menyambut ramah tamunya. Tangan kanan sang kepala desa meraih tali kekang kuda kecokelatan yang ditunggangi si tamu.
"Apa kabar, Raden?" sembari membuka topi Kapten Frederik menyapa tuan rumah.
"Maaf, dengan berat hati saya katakan kalau kami sedang tidak baik-baik saja."
Frederik mengatupkan bibir kemudian berucap, "kami turut prihatin dengan apa yang terjadi pada desa Anda."
"Sepertinya Tuan sudah tahu apa yang menimpa kami?"
"Berita cepat menyebar, Raden." Sang kapten mengangkat bahu, pertanda jika dia pun memaklumi apabila berita tentang apa pun mudah tersiar. Tak terkecuali kabar dari desa yang terpencil sebagaimana Desa Pujasari.
"Silakan masuk ke rumah saya."
"Tidak usah, terima kasih." Frederik membungkukkan badan. Dia tetap bersikap sopan di depan warga pribumi yang berkumpul tepat di sisi rumah Lurah Bakti.
"Maaf, jika penyambutan kami kurang berkenan."
"Saya memaklumi, karena desa lain juga mengalami situasi yang hampir sama. Mereka sedang membangun kandang bersama untuk menjaga keamanan."
"Apakah Tuan ...?"
"Ya, saya datang ke beberapa desa sebelum ke sini. Ternak-ternak mereka banyak yang mati secara serempak." Frederik hanya mengungkapkan kenyataan yang dilihat sepanjang perjalanan dari Batavia.
Lurah Bakti menebak sesuatu yang bisa saja memiliki kesamaan antara peristiwa di desanya dengan di desa lain. "Terluka di leher?"
"Persis."
Lagi-lagi Raden Bakti menerka, "mungkinkah penyebabnya sama?"
"Kami menyimpulkan begitu."
"Saya pikir hanya terjadi di desa kami."
"Bukan hanya di desa, imbasnya hingga ke Ibu Kota. Bangkai-bangkai ternak banyak yang terapung di sungai yang melintas ke tengah kota." Frederik menggelengkan kepala.
"Kami pastikan bukan berasal dari desa kami."
"Ya, saya tahu. Lagipula desa Pujasari masih jauh dari sungai." Sang kapten pun menganggukkan kepala, setuju dengan pernyataan Ki Lurah.
"Kami menguburnya langsung, Tuan. Di sana," Raden Bakti menunjuk ke arah salah satu kebun milik keluarganya.
"Saya percaya, jika Raden bisa menyelesaikan masalah."
Mereka berhenti berbincang, keduanya berjalan ke arah kuburan domba-domba yang dimaksud. Frederik melihat ke sekeliling, memahami keadaan.
"Kami juga kehilangan seorang anak kecil ... waktunya bersamaan dengan matinya domba-domba ini." Suara sang kepala desa terdengar lirih.
"Saya turut prihatin. ... Raden, tidak adakah seorang saksi?"
"Tidak ada." Raden Bakti menggelengkan kepala. "Semalam kami mencari Pranata, nama anak yang hilang, hanya para wanita dan anak kecil yang ada di rumah. Kejadian begitu cepat. Tidak ada yang menaruh curiga pada apapun ... atau ... siapa pun."
"Di desa sebelumnya, saya mendapatkan informasi yang hampir sama." Frederik memicingkan mata. "Polanya mirip. Ada anak yang hilang dan ternak yang mati serempak."
"Ini bencana bersama ...."
"Tapi, yakinlah. Kami akan bekerja semampu kami untuk mengungkap ini semua." Bagi seorang serdadu pemerintah kolonial memikat kepercayaan masyarakat menjadi hal penting. Itu pula yang sedang dilakukan oleh Frederik.
"Terima kasih, Tuan."
Mereka saling menatap, meyakinkan. Sekaligus saling meragukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Aksiyon"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
