38

167 42 1
                                        

"Pratiwi, untuk apa kamu datang ke Batavia sepagi ini?"

"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Ayah," Pratiwi bicara perlahan pada Aditama.

"Apa? Pentingkah?"

"Sangat penting, Ayah."

Pratiwi dan Aditama berbicara di tempat yang agak sepi. Mereka pun keluar dari rumah makan orang Cina. Pratiwi menuntun kuda hingga keluar dari kawasan Pecinan. Aditama sengaja menjauh dengan maksud mencari tempat yang dianggap aman dari orang yang bisa menguping.

"Ini mengenai kampung kita, Ayah."

"Ada apa? Ada kejadian apa yang Ayah tidak tahu?" Wajar saja jika Aditama terheran-heran karena sudah beberapa hari dia meninggalkan désa Pujasari.

"Pranata hilang. Sudah tiga hari ini, Pranata belum ada kabarnya."

"Pranata ... anak yang badannya tambun itu?"

"Ya." Pratiwi mengangguk pelan.

Mata Aditama melotot. "Lalu, kau berusaha mencarinya kemari?"

"Ya. Kami menduga dia dibawa ke kotapraja."

"Kenapa harus kamu yang menghubungi Ayah. Memangnya di sana tidak ada orang dewasa?" Nada suara sang ayah terdengar meninggi.

"Aku datang menemui Ayah atas prakarsa Panca dan Bajra." Pratiwi menggerakkan kedua telapak tangan sambil menyambung, "orang lain tidak tahu, termasuk Ibu."

"Jadi ...?"

"Ya, aku menemui Ayah secara sembunyi-sembunyi. Soalnya, kami curiga kehilangan Pranata melibatkan orang kampung sendiri."

Kedua anak dan ayah itu saling pandang. Pratiwi menunjukkan wajah cemas sekaligus serius karena memikirkan masalah yang sedang ditangani. Aditama pun sama, menggelengkan kepala karena merasa jika urusan serius seperti kehilangan anak-anak malah ditangani pula oleh seorang anak remaja. Membahayakan nyawa.

"Panca dan Bajra, ke mana mereka?"

"Mereka mencari ke Gua Kelelawar." Suara Pratiwi lebih pelan dari sebelumnya. Sorot matanya pun lebih redup.

"Ha, Gua Kelelawar yang ada di hulu sungai."

"Kami berbagi tugas."

"Tapi, Batavia ini terlalu luas." Aditama menggelengkan kepala sambil berkacak pinggang. "Kita harus mencari Pranata ke mana?"

Pratiwi dan Raden Aditama saling pandang. Mereka saling menerka pikiran lawan bicaranya.

"Apakah ada petunjuk?" Raden Aditama bertanya pada Pratiwi.

"Tidak ada. Hanya saja kejadian hilangnya Pranata bersamaan dengan kematian domba-domba warga secara serempak."

"Mati karena sakit?"

"Bukan, mati karena ...."

"Lehernya digorok?"

"Iya, kok Ayah tahu?"

"Bangkai ternak dari desa lain juga sampai ke sungai yang melintas ke tengah Batavia."

"Berarti ... seperti yang disampaikan oleh Kapten Frederik ... benar adanya," Pratiwi mencoba menyimpulkan keadaan.

"Kapten Frederik ke kampung kita?"

"Ya, dia memeriksa untuk memastikan sumber bangkai ternak yang terapung di sungai."

Raden Aditama kembali berpikir. Pratiwi melihat kerut di kening ayahnya.

Sejenak, kedua anak dan ayah itu kembali terdiam. Satu sama lain berharap memperoleh gagasan untuk melakukan sesuatu. Mereka berdua melihat keadaan sekeliling yang berbeda dengan keadaan di desa. Di kota besar sebagaimana Batavia, banyak sekali kemungkinan yang terjadi termasuk kejahatan penculikan anak.

Namun, Aditama lebih mengajak anaknya untuk rehat setelah perjalanan jauh dari desa. "Pratiwi, kamu sudah makan?"

"Belum."

"Sebaiknya kau makan dulu. Ayah merasa kita akan melalui hari yang berat."

"Maksud Ayah?"

"Ayah tahu harus memulai pencarian kita dari mana."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang