31

167 42 0
                                        

Malam itu Pratiwi sulit memejamkan matanya. Hawa dingin menyelusup melalui sela-sela kunang-kunang kecil di antara papan-papan kayu yang tersusun rapi. Ditambah ketakutan yang menyelimuti Desa Pujasari sejak kejadian kehilangan anak kecil, kematian hewan ternak hingga kemunculan bayangan yang menebar kekhawatiran.

Dia hanya bisa berbaring di samping ibunya yang telah tertidur. Wajah Pratiwi hanya menengadah ke langit-langit kamar, meskipun pikiran membayangkan rencana yang telah disepakati bersama dengan Panca.

Apakah besok aku bisa menjalankan rencana itu?

Sesekali terdengar suara warga yang sedang melakukan ronda malam. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, ronda kali ini dilakukan serempak sehingga bisa membuat orang terjaga semalaman karena kesulitan tidur.

Perhatian gadis itu teralihkan ketika ada suara dari pintu yang diketuk dari luar. Pintu tersebut berbahan kayu dan udara malam yang dingin membuat suara pelan terdengar seakan lebih keras.

"Assalamu'alaikum!" seseorang mengucapkan salam.

"Wa'alaikumsalam," Pratiwi menjawab salam sambil bertanya-tanya ada apa malam-malam begini membangunkan orang tidur?

Ketika pintu dibuka, Pratiwi sedikit terheran akan kedatangan seorang pria serta beberapa warga. "Paman Lurah, ada apa ya?"

"Pratiwi, Paman mau bertanya padamu. Pasti kamu tahu ...."

"Bertanya apa, Paman?" Sebenarnya Pratiwi sudah menduga jika Ki Lurah akan bertanya perihal sang anak.

"Kamu tahu kan ke mana Panca dan Bajra pergi?"

"Eee...."

"Sudah lama mereka berdua tidak terlihat di rumah. Padahal Paman memberi mereka tugas untuk berjaga di sekitar rumah Paman."

"Eee ...."

"Beritahu saja. Paman tidak akan marah padamu." Kalimat yang terlontar tidak sejalan dengan mimik muka sang kepala desa. Hal demikian yang membuat Pratiwi enggan berbicara terus terang.

Hanya saja, Ki Lurah menunggu hingga keponakannya itu mau untuk bicara. Beberapa saat, lelaki itu berjalan mondar-mandir di serambi karena tidak bisa tenang.

"Sebenarnya ... mereka ... pergi mengikuti bayangan itu, Paman."

"Apa?" Lurah Bakti kaget dengan kelakuan anaknya itu. Begitu juga Ayahnya Bajra dan beberapa warga yang kebetulan ikut serta dan menunggu di halaman rumah. Mereka tidak paham dengan cara berpikir dua anak remaja itu.

"Mereka hanya ingin membantu mencari Pranata."

"Ke arah mana mereka pergi?"

"Mereka pergi ke arah selatan, Paman." Pratiwi bicara pelan sembari menunduk, merasa bersalah.

Lurah Bakti dan beberapa orang warga menampakan wajah khawatir. Membayangkan hal buruk bisa saja menimpa mereka.

"O ya, Paman. Panca berpesan untuk tidak usah mencarinya. Percayalah ... mereka akan baik-baik saja."

"Paman juga berharap begitu."

Lurah Bakti mengalihkan pandangan pada warga yang sedang menunggu pimpinannya itu bicara. Dia menghela nafas panjang sambil berpikir.

"Pratiwi, terimakasih sudah memberitahu Paman. Sekarang sepertinya Paman tahu, ke mana mereka pergi."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang