37

171 44 0
                                        

Perahu yang digantung di pohon pertanda tiga orang yang dikejar  Panca dan Bajra tidak ingin meninggalkan jejak. Perahu itu sengaja disembunyikan oleh seseorang di antara pepohonan nan rimbun. Kendaraan air tersebut tidak ditambatkan di pinggir sungai selayaknya perahu yang tidak digunakan.

"Hati-hati, mungkin mereka tidak jauh di sekitar sini." Panca menyentuh pundak kawannya sebagai isyarat untuk tidak bergerak. "Jangan sampai keberadaan kita diketahui mereka."

"Ya, kita berjalan pelan saja."

Panca dan Bajra pun berjalan pelan menyusuri semak belukar yang tumbuh di antara pepohonan nan rimbun. Sesekali terdengar satwa liar berteriak meminta perhatian.

"Waaakkkk ...!" terdengar suara monyet yang memulai pagi.

"Cuit ... cuit ... cuit ...," suara burung pun bisa melenakan perhatian Raden Panca dan Bajra.

Keadaan di hutan itu sungguh menenangkan. Bau udara yang segar serta bunyi-bunyi khas hutan tropis sebenarnya bisa menjadi obat mujarab bagi mereka yang membutuhkan kesehatan jiwa. Andaikan mereka berdua berniat untuk bertamasya maka hutan di tepi sungai tersebut bisa menjadi pilihan lokasi yang tepat. Sayangnya, mereka berdua datang ke sana bukan untuk melepas penat. Sebaliknya, jantung kedua anak remaja itu berdebar lebih kencang.

Perhatian mereka masih tertuju ke arah depan. Siapa tahu ada seseorang yang menunggu. Namun, setelah cukup lama berjalan mereka tidak menemukan tanda-tanda jika ada manusia.

"Raden, lihat ke sana! Masih ada kelelawar yang beterbangan," Bajra menunjuk ke arah tebing yang dipenuhi sulur-sulur yang merambat menutupi dinding batu.

"Mereka kelelawar yang belum masuk sarang."

"Dan ... itulah sarangnya."

Mereka berdua takjub dengan lubang yang menganga di tebing itu. Sebuah gua.

Lubangnya tidak terlalu besar. Atau, tidak terlihat besar karena tertutup tumbuhan yang merambat. Wajar jika tempat ini dianggap menakutkan.

"Kita masuk ke sana?" Bajra penasaran.

"Jangan dulu. Kita lihat keadaan."

"Baiklah."

Panca dan Bajra berjongkok sambil bersembunyi di antara pepohonan yang besar. Ada akar yang menyembul ke permukaan tanah. Itu sudah cukup untuk menyembunyikan tubuh kedua anak remaja tersebut. Mata mereka memperhatikan keadaan, apakah tempat ini aman?

"Sepertinya, tidak ada orang di sekitar sini."

"Atau ...," Bajra berpikir lain, "mereka bersembunyi?"

"Ya, makanya kita harus berhati-hati." Panca masih memikirkan keselamatan diri. Ini penting.

"Jangan-jangan ... tiga orang itu sudah masuk ke gua itu?"

"Mungkin. ... Tapi, kita harus masuk ke sana ... untuk memastikan apakah mereka ada di sana atau tidak ...."

"Juga memastikan, apakah Pranata dibawa ke sini?"

"Ya. Anak itu mungkin sekali diculik kemudian dibawa ke tempat seperti ini."

Bajra beranjak dan diikuti Raden Panca. Mereka berjalan beberapa langkah ke arah mulut gua itu dengan pelan. Berhati-hati.

"Aduhh!" kaki Bajra tersandung pada sesuatu.

"Kenapa?"

"Kakiku tersandung ...."

Bajra tidak menghiraukan benda yang menghalangi langkahnya. Tapi, tidak demikian dengan Panca.

"Sebentar, apa itu?"

Panca melihat sesuatu yang tidak lumrah berada di hutan rindang seperti tempat mereka kini berdiri. Kanopi hutan yang terbentuk membuat cahaya matahari tidak bisa menyentuh tanah. Bagi remaja itu, benda yang tidak lumrah ini bisa menjadi sebuah penanda. Dia pun menyapu dedaunan kering yang menghalangi dengan tangannya untuk melihat benda yang tergeletak di tanah.

"Apa itu? Seperti besi," Bajra merasa aneh.

"Ya, besi yang panjang ...." Bola mata Panca bergerak-gerik dari kiri ke kanan hingga beberapa kali.

"Hei, ada satu lagi." Kaki Bajra pun menginjak benda serupa yang berdekatan.

"Apa ini? Dua besi panjang mengarah ke gua ...."

"Tepatnya, dua besi memanjang dari sungai menuju mulut gua."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang