Panca dan Bajra beranjak untuk kembali menjalankan misi mereka. Misi mencari bayang-bayang. Mereka memperhatikan ke sekeliling, adakah seseorang atau sesuatu yang mengikuti.
"Raden, apakah kau merasa ada sesuatu yang ganjal?" Bajra kembali membuka pembicaraan.
"Bajra, apakah itu sudah menjadi kebiasaanmu, selalu menduga-duga?"
"Hei, kebiasaanku ini terbukti berguna." Jempol kanan Bajra menyentuh ujung hidung.
"Ya ya ya ...."
"Coba kau perhatikan, Raden. Dari tadi, kita mengejar sesuatu yang kita anggap hanya layang-layang ... tetapi, apakah orang yang mengendalikannya tidak tahu akan keberadaan kita?"
Pertanyaan dari Bajra membuat Panca berpikir. "Mungkin, dia sudah jauh."
"Bagaimana kau tahu dia sudah jauh?"
Panca menjawab sekenanya saja, "Hanya perkiraanku saja."
Bajra berjalan sambil berpikir keras. Anak itu memang suka melakukannya. Meskipun terkadang dari hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. Bajra sering berkhayal jika di tengah hutan ada makhluk halus bergentayangan. Untungnya, Panca senantiasa mengingatkan jika makhluk halus hanya rekaan pikiran saja.
Bajra pun mencoba memberanikan diri untuk memandangi tempat-tempat gelap di sekitar. Deretan pohon, siluet tubuh seekor monyet, atau batu yang muncul ke permukaan tanah. "Raden, apa itu?"
Panca tidak menghiraukannya.
Bagi Bajra, penampakan benda-benda itu dianggapnya bukan sesuatu yang lumrah. Dia masih saja khawatir jika siluet yang tampak adalah siluman atau semacamnya. Kekhawatiran itu tidaklah serta merta hilang dalam pikiran.
"Raden, itu ...?"
"Hisss, itu bukan apa-apa!"
Sayang, mereka sudah tidak bisa menggunakan obor karena kehabisan bahan bakar. Tidak bisa memastikan pula bagaimana bentuk asli dari benda-benda yang ada di sana. Andaikan ada ular melintas maka kaki telanjang kedua anak remaja itu bisa saja menginjaknya.
"Raden, bagaimana nih kita tidak punya alat penerangan. Kita cari cara agar obor bisa menyala."
"Ya, kalau kita menemukan pohon pinus, kita bisa menggunakan getah untuk obor."
"Tapi ... sebaiknya kita tidak menggunakan obor." Bajra meralat usulan sebelumnya. "Waktu subuh sudah tiba, fajar sudah terlihat ...."
Raden Panca setuju dengan pendapat Bajra. Berjalan terus.
Perlahan, cahaya redup cukup membantu untuk memastikan bagaimana keadaan sekitar. Perlahan pula bentuk pohon-pohon yang tumbuh kokoh di hutan. Tampak pula seekor burung hantu yang bertengger di dahan. Kemudian datang lagi seekor, mungkin itu pasangannya.
"Raden, berhenti ...," Bajra menarik baju Panca. Ketika berjalan, anak bertubuh gempal itu teringat akan sesuatu.
"Ada apa?" Panca menjawab dengan suara pelan.
"Pandu ke mana?"
"Oo ... aku kira apa. Dia tidur di dahan pohon. Biarkan saja, tidak usah diganggu. Nanti juga dia mengikuti kita."
Bajra pun lega dengan jawaban Panca. Si Pandu hewan yang akan mampu mencium ke arah mana sang majikan berjalan. Kedua anak remaja itu pun kembali meneruskan perjalanan. Menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui warga untuk menuju hutan dari arah kebun. Kini, mereka mulai menapaki sisi lain dari hutan, sisi yang berbatasan dengan desa tetangga.
Dari kejauhan, nampak pemukiman warga dengan tanda titik-titik cahaya seperti kunang-kunang menghiasi malam. Cahaya obor bergerak kesana-kemari. Sama seperti di Desa Pujasari, desa lain pun melakukan ronda malam secara serempak.
"Raden, di depan sana ada sungai," Bajra menunjuk ke arah depan.
"Ya, sungai itu jalan menuju Gua Kelelawar."
Bajra menatap punggung Panca sambil bertanya, "masih jauh kah?"
"Kata ayahku, tempatnya tidak terlalu jauh dari hulu sungai." Panca masih menatap lurus ke depan.
"Berarti masih butuh waktu untuk mencapai ke sana."
"Ya, makanya kita sholat shubuh dulu di pinggir sungai sana."
"Ya, sambil mencari air untuk minum. Aku kehausan."
Raden Panca dan Bajra bersegera berjalan menuju tepi sungai. Langkah mereka dipercepat. Semakin dekat dengan sungai maka jalan setapak itu terasa semakin licin.
Panca mengamati keadaan kemudian memberikan arahan kepada sahabatnya, "sebaiknya kita tidak sholat shubuh di sini."
"Kenapa?"
"Lihat ... di pinggir sungai ada perahu ... kecurigaanmu mulai terjawab, Bajra."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Acción"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
