"Ah! Kita kehilangan jejak mereka!" Kapten Frederik memuntahkan kekesalannya.
"Sepertinya mereka sudah menyeberang sungai, Tuan," Si Plontos mengira-ngira. Tidak tampak objek yang dimaksud. Suara-suara binatang liar menjadi penanda jika tidak ada manusia di sana kecuali mereka berempat.
"Kita kejar mereka!" Si Jabrik memberikan saran.
"Jangan! Biarkan saja dia pergi. Kita urus mereka nanti." Kapten Frederik menyanggah.
"Sebaiknya kita selesaikan pekerjaan kita."
Keempat pria itu hanya berdiri di tepi sungai. Keluar umpatan dari mulut Sang Kapten pertanda rasa kesal yang tidak terbendung.
Sejenak, keempat orang itu hanya memandangi lingkungan sekitar tempat mereka berdiri. Suasana hutan bersanding dengan aliran sungai yang tenang memberikan efek menenangkan pula kepada pikiran. Setelah sekian jam berada di tempat yang pengap, menghirup udara segar menjadi sesuatu yang lebih berharga.
Kapten Frederik menghela nafas sambil memejamkan mata. Sedangkan anak buahnya memilih untuk duduk-duduk di atas akar yang menonjol ke permukaan tanah. Senapan pun disandarkan ke batang pohon agar otot tangan tidaklah tegang.
Namun sayang, istirahat mereka tidak bisa lebih lama lagi.
"Angkat tangan!" tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara dari kejauhan. Seseorang berteriak dari atas perahu.
"Kapten Frederik, Anda ditahan atas tuduhan pembunuhan!" Segerombolan serdadu menodongkan senapan laras panjang kepada para penghuni goa yang sedang ngaso.
"Ha, pembunuhan apa? Kalian mengigau!"
Aneh, bagaimana bisa mereka tahu kita ada di sini? Si Jabrik mencium kejanggalan.
Tiga orang pribumi berbaju pangsi itu saling lirik. Tangan mereka sigap mengambil senapan yang terletak tidak jauh.
"Cepat! Angkat tangan!" si pemimpin serdadu itu berteriak sekali lagi. Dia datang bersama tiga perahu menyusuri sungai. Para penumpangnya menodongkan senapan ke arah para penghuni goa.
Kita kalah jumlah, demikian pikir Frederik setelah memperhatikan jumlah serdadu yang mendekat.
Empat penghuni goa itu tidak bisa berkutik. Mereka melemparkan senjata tanda menyerah. Kemudian mengangkat tangan.
Ketika tiga perahu itu berhenti, berhamburanlah para serdadu yang menumpanginya. Mereka berlari sembari mengitari empat pria penghuni gua.
Mata Si Jabrik justru lebih fokus tertuju pada Kapten Frederik. Sebenarnya, para serdadu ini memihak siapa? Bukankah mereka anak buah Kapten Frederik?
Pikiran Si Jabrik bisa dimengerti. Toh, mereka mengenakan seragam biru dongker sebagaimana Kapten Frederik. Seharusnya mereka berkawan.
Timbul ide dalam pikiran Si Jabrik. Sesuatu yang diluar dugaan siapa pun. Termasuk teman-temannya .... Tangan Si Jabrik mengambil senjata andalannya yakni pisau bermata tiga dari balik bajunya dengan kecepatan kilat.
Srebbb!
"Ah ...! " Kapten Frederik tidak sanggup berteriak ketika ketiga mata pisau itu menggorok lehernya. Dia hampir terjungkal, tetapi tangan kiri Si Jabrik meraih bajunya. Tertahan.
"Kau mengkhianatiku, Kapten."
Dan ...
Dor!
Dor!
Dor!
Letupan peluru mengarah ke tubuh Si Jabrik secara bertubi-tubi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
