35

167 39 0
                                        

Raden Panca dan Bajra bersembunyi di balik semak-semak. Dari sana, mereka memperhatikan perahu yang menepi di pinggir sungai. Meskipun agak samar, bisa terlihat di atas perahu itu tiga sosok bayangan sedang berdiri.

"Mereka bertiga ... kita kalah jumlah,"  Panca berbisik pada Bajra.

"Kita harus bagaimana?"

"Sebaiknya kita menunggu, berbahaya jika menghampiri mereka."

Dari jarak cukup jauh, Raden Panca dan Bajra bisa melihat gerak-gerik orang-orang yang menjadi objek pengamatan. Cahaya lentera yang mereka bawa cukup memberi penerangan atas apa yang sedang dilakukan tiga penumpang perahu itu.

Tidak lama kemudian, perahu tadi melaju melawan arah arus sungai. Perahu terlihat melaju pelan melawan arus, meskipun lama-kelamaan hanya titik cahaya yang terlihat menjauh.

"Ayo kita ikuti mereka!" Panca berdiri kemudian berlari. Diikuti Bajra, kaki tanpa alas milik anak remaja itu menuruni bukit hingga sampai di pinggir sungai.

Mereka berlari di tengah cahaya yang masih temaram. Langit fajar belum sepenuhnya menyinari air yang mengalir di antara deretan pohon yang rindang. Dahan-dahan membentuk kanopi yang menjulur ke tengah sungai. Membuatnya tampak gelap karena menghalangi cahaya yang menyentuh permukaan.

"Ayo, jangan sampai kita kehilangan jejak mereka!"

***

Cukup lama mereka berlari. Tidak bisa ditentukan seberapa jauh jarak yang telah ditempuh. Terlebih, berlari di tepian sungai tidaklah mudah. Mereka harus melompat dari batu ke batu yang menonjol di permukaan sungai. Hanya tebing curam dan tanah yang landai mengapit daerah aliran air.

"Raden, tunggu! Aku ...."

"Hati-hati, kau bisa tercebur," Panca memperingatkan Bajra yang berlari di belakangnya.

Peringatan dari Panca tidak berlaku. Anak bertubuh gempal itu terpeleset. Untung saja, Panca cekatan meraih tangan kawannya.

"Untunglah."

Bola mata Bajra kini bisa melihat aliran air sungai yang deras. Hal itu menjadi pertanda mereka berada di sekitar sungai yang dangkal. Sudah terlihat seekor ikan kecil yang berenang di antara batu-batu sungai yang lonjong.

Bajra pun bisa melihat rona wajah Panca yang berubah. "Kenapa?"

"Kita kehilangan jejak mereka."

"Mungkin mereka di seberang sungai ... atau ... lihat ... di atas banyak kelelawar beterbangan." Bajra menunjuk ke langit.

"Hehehe ... aku tahu harus pergi ke mana."

"Ya ya ya. Kita ikuti arah kelelawar itu terbang."

Raden Panca dan Bajra kembali berjalan, menyusuri sungai. Kali ini mereka harus menyeberang sungai. Untungnya, sungai itu dangkal. Tidak terlalu sulit untuk menyeberanginya.

"Raden, tunggu. Aku haus. Ingin minum dulu."

"Ya ya ... aku juga."

Sambil menikmati segarnya air sungai, mereka takjub pada begitu banyaknya kelelawar yang beterbangan. Apabila pagi telah tiba, mereka akan kembali ke sarang. Jika melihat arah terbangnya, sarang mereka tidak terlalu jauh.

"Raden, sebaiknya kita sholat subuh dulu."

"Ya, di sana ada batu yang rata. Kita sholat di sana saja."

"Jangan, di sana terlalu terbuka. Sebaiknya kita mencari tempat yang tersembunyi." Bajra memperhatikan sekeliling sambil berkacak pinggang.

"Kita sholat di sana saja. Dibawah pohon yang rimbun itu."

Tidak ingin sholat subuh hingga terlalu siang, mereka menyegerakan ibadah wajib. Dengan perasaan tidak tenang, keduanya menyudahi sholat dan segera beranjak mencari orang-orang yang tadi mengendarai perahu.

"Raden, lihat! Perahu itu digantung di pohon," Bajra menunjuk pohon rindang tidak jauh dari sana.

"Berarti mereka tidak jauh dari sini."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang