52

155 40 0
                                        

Panca dan Bajra senang mendengar ada seekor tupai masuk ke dalam goa. Mata mereka berbinar. Untuk sementara, kesusahan yang dirasakan pun hilang.

Kapten Frederik dan anak buahnya tampak tidak terlalu peduli dengan kehadiran seekor tupai ke tempat persembunyiannya. Mereka kembali bekerja. Masih banyak yang harus dikerjakan, buat apa repot-repot memikirkan seekor tupai.

Dalam remang-remang cahaya, binatang itu menghampiri dua tawanan yang meringkuk di bawah tiang. Dia tahu ada orang yang membutuhkan kehadirannya.

"Pandu ...," Bajra senang ketika binatang itu berdiri di hadapannya.

"Sssttt ...," Panca mengingatkan untuk tidak terlihat akrab dengan binatang itu. "Jangan sebut namanya."

"Ayo ... bantu kami untuk melepaskan ikatan ini," Bajra bicara dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.

Wajah lucu Pandu, si tupai, menyiratkan rasa senang ketika bertemu kedua remaja itu. Dia melompat ke atas tiang kemudian berjalan menurun. Tali yang mengikat Raden Panca dan Bajra digigit perlahan ... dan ... terlepas.

"Alhamdulillah ...," Bajra berujar kegirangan.

Satu hal yang tidak diperhatikan oleh kedua anak remaja itu adalah sikap Kapten Frederik. Lelaki berambut pirang mengalihkan perhatian dari tungku yang menyala ke tiang-tiang tempat para tawanan terikat. Dia berdiri sambil berkacak pinggang. 

Dari arah ujung ruangan, Kapten Frederik memperhatikan. Ada yang aneh dengan anak-anak itu.

Suasana hening.

Para penghuni goa diam sejenak. Tangan mereka tidak lagi menuangkan logam cair ke dalam kendi. Tidak pula memompa udara agar tungku tetap menyala. Mereka untuk sama-sama memperhatikan tingkah tawanannya. Anak-anak itu sedang membicarakan apa?

Membutuhkan waktu untuk memahami situasi.

Kemudian, Kapten Frederik menyadari sesuatu.

Sang Kapten melangkah menuju tembok gua. Dia mengambil senapan yang tergantung.

"Hei, kalian bicara apa?"

Tidak hanya Panca dan Bajra yang kaget ketika Kapten Frederik menodongkan senjatanya. Tiga anak buah sang kapten gesit melangkah untuk memegang senjata mereka. Tanpa menunggu diperintah.

"Eee ... tidak ada apa-apa, Tuan. Kami hanya sedang berbincang."

Semua perhatian tertuju kepada dua remaja yang sedang meringkuk di bawah tiang goa. Pekerjaan mereka terhenti sementara. Api di tungku pun  dimatikan.

Si Plontos, Si Jabrik dan Si Pria Besar menghampiri tawanannya sembari memegang senjata laras panjang. Moncongnya tertuju pada dua remaja itu.

Prakk!

Semuanya kaget ketika melihat setumpuk guci yang telah tersusun rapi roboh dan berantakan. Guci-guci itu pecah. Dan terlihat isi di dalamnya ... bongkahan emas yang berbentuk guci.

Guci-guci itu menggelinding ke berbagai arah. Diantaranya, ada yang menggelinding ke arah kaki Panca dan Bajra. Cahaya goa cukup untuk memperjelas benda apakah itu.

Panca dan Bajra pun bertambah rasa kagetnya karena dia mengenal benda seperti itu. Emas yang dicetak ke dalam guci.

Kami mengenal bentuk yang persis sama.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang