Kapten Frederik termenung di belakang meja kerjanya. Ditemani lilin yang menyala, dia membolak-balikan halaman demi halaman sebuah buku. Sampul cokelat kulit rusa membungkus buku catatan tersebut.
Aku sudah menantikan momen ini begitu lama. Bertahun-tahun aku mempelajari isi buku catatan ini. Akhirnya, aku menemukan titik terang.
Kapten Frederik memikirkan kembali tujuannya datang dari negeri Belanda. Banyak hal yang dipertaruhkan oleh lelaki itu demi berada di tempat ini. Dia semakin yakin atas langkah yang telah ditempuh, sambil beharap jika hal yang dipertaruhkan tersebut bakal setimpal dengan apa yang akan diperolehnya.
Jika saja aku tidak menemukan benda ini, sepertinya aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku cari.
Hatinya semakin berdebar-debar. Ada semangat baru yang menyala padahal sebelumnya pernah redup. Semangat itu datang ketika berhasil menemukan benda-benda di hadapannya. Ditemukan tanpa sengaja kemudian ada titik terang dari misteri yang selama ini menyelimuti pikiran.
Mata Kapten Frederik beralih menatap empat buah guci yang dijejerkan di tepi meja kerja. Benda-benda itu menjadi pemicu semangatnya untuk kembali menjalankan rencana. Padahal, sebelumnya dia pernah berpikir untuk membatalkan rencana itu.
Aku masih belum paham, kenapa guci-guci ini berisi emas.
Dia pegang salah satu guci, kemudian diperhatikan seluruh bagian guci tersebut. Ukurannya tidak begitu tinggi untuk sebuah guci, tidak lebih dari sejengkal tangan. Sebagaimana guci yang mudah ditemukan di Batavia, guci itu berbahan tanah liat berwarna kecokelatan.
Dalam keheningan malam itu, tiba-tiba dia kembali terkenang masa kecilnya. Kenangan indah bersama ayah dan ibunya di negeri Belanda. Masa-masa dimana tidak perlu memikirkan banyak hal.
Dalam kenangannya, Frederik Kecil berlari-lari di padang rumput luas diantara sapi-sapi berwarna hitam-putih. Mentari yang bersinar terang membuatnya semakin bersemangat berlarian mencari serangga yang biasa menempel di semak-semak.
Dari kejauhan, dia melihat benda berkilauan terpapar sinar matahari. Frederik kecil pun terpukau. Tanpa melepaskan seekor belalang di tangan, anak kecil itu berlari menuju sumber cahaya yang berkilauan.
Dia begitu terkesan setelah melihat benda di hadapannya. Satu keping koin emas berukuran sebesar uang logam yang sering didapatkan dari orang tuanya.
Frederik tersenyum akan kenangan masa kecil. Untuk mengobati rasa rindunya pada saat-saat itu dia membuka laci, kepingan emas yang pernah ditemukan kala masih kecil kini masih tersimpan. Dia menganggap itu sebagai koin keberuntungan.
Ketika melamun tentang kenangan masa kecilnya, Frederik terhenyak oleh suara ketukan pintu ruang kerjanya.
"Kapten, saya hendak melapor," suara seorang pria terdengar dari luar.
"Ya, tunggu di luar."
Frederik beranjak dari kursi menemui pria itu. Tatkala pintu terbuka, cahaya lampu gas di halaman kantor memperjelas sosok yang datang. Didapatinya seorang pria dengan seragam tentara berwarna biru tua sedang berdiri. Sang kapten mengenal persis wajah anak buahnya, seseorang yang telah diberi tugas khusus beberapa hari sebelumnya.
Semoga dia datang membawa kabar baik, pikir Frederik.
Gelagat prajurit itu menampakan kecemasan bercampur semangat yang meluap-luap. Dia bicara dengan nada berapi-api, "Kapten, ternyata orang yang suka membuat guci itu adalah orang yang Anda kenal."
Frederik menatap tajam prajurit di depannya. Sejenak, dia memperhatikan pekarangan tangsi militer yang agak ramai oleh para prajurit yang lalu-lalang.
"Orang itu membuatnya di Desa Pujasari, di kaki gunung, dekat Buitenzorg."
Frederik pun mengangguk pelan. "Ya, aku tahu di mana tempat itu."
"Dia pengrajin tembikar di sana," sang prajurit menimpali.
"Kalau begitu ...?"
"Raden Bakti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Aksi"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
