Gerak seekor kuda tidak bebas ketika harus melintasi jalan yang ramai. Raden Aditama kesulitan melecut kuda tunggangannya. Begitupun dengan Pratiwi, dia kesulitan melintasi jalanan yang hiruk-pikuk.
"Hei minggir!" Raden Aditama membentak seorang pria yang berdiri di tengah jalan.
"Siapa kau berani membentakku?" pria itu balik membentak. Bukannya minggir, dia malah berdiri sambil membusungkan dada, menantang. Tangan kanannya memegang golok yang semula tergantung di pinggang.
Aduh, bakal ada keributan. Pratiwi khawatir atas apa yang akan terjadi.
Orang-orang yang sedang duduk-duduk di tepi jalan pun beranjak. Tanpa dikomando, mereka mendekati dua orang yang saling bentak. Warga berdiri mengelilingi dua orang tersebut untuk menyaksikan tontonan menarik yang akan terjadi.
Warga sepertinya kekurangan hiburan. Aneh memang, orang berkelahi pun malah seakan sebuah permainan.
"Ahh!" tanpa aba-aba Raden Aditama melompat dari kudanya.
Si Pria Pengganggu sontak kaget. Tak disangka sang penunggang kuda benar-benar mengajakku berkelahi. Hatinya sedikit gentar ketika menyaksikan Aditama yang melompat di udara padahal dia belum mengeluarkan golok dari sarungnya.
Brugg!
Si Pria Pengganggu itu terpental ke jalanan. Uhh. Pinggulnya terasa sakit, tapi dia tidak mau harga dirinya runtuh gara-gara sebuah serangan tak terduga. Dia berdiri untuk menghadapi serangan berikutnya.
"Menyerah saja ... sebelum kau menjadi mayat ...," Raden Aditama mengitari Si Pria Pengganggu sambil meledek ketidakberdayaannya.
"Ahhh!" Si Pria Pengganggu menerjang dengan golok di tangan kanan. Langsung menyerang ke leher Raden Aditama, tapi dia mengelak.
Ada warga yang menyaksikan kejadian ini dengan tegang. Sebagian di antara mereka menantikan gerangan siapa yang akan menang.
Dari jarak tidak terlalu jauh, Pratiwi cemas memperhatikan dua pria itu berkelahi. Dari atas kudanya, Pratiwi hanya bisa duduk terdiam. Tidak banyak hal yang bisa dia lakukan, kecuali berdo'a. Berharap semoga perkelahian ini terhenti.
Terlihat di sekelilingnya para warga sedang melingkar untuk menonton perkelahian di antara mereka. Tidak ada yang bisa melerai, atau tidak mau melerai.
Dorr!
Tiba-tiba terdengar suara senapan. Semua orang mengarahkan pandangan pada sumber suara itu. Tidak terkecuali Pratiwi yang semula membelakangi kemudian memastikan siapa orang yang melepaskan tembakan.
"Berhenti! Bubar kalian semua, jangan mengacau di sini!" satu regu serdadu menghentikan perkelahian dua pria yang sedang naik pitam itu.
Alhamdulillah, do'aku terkabul. Gumam Pratiwi dalam hatinya.
Bagi Pratiwi, kedatangan petugas keamanan dianggap sebagai solusi agar keributan tidak berlanjut. Gadis itu pernah mendengar jika ayahnya sering bertarung dengan sembarang orang, imbasnya luka di tubuh pun meninggalkan jejak. Untung saja jika nyawa Aditama masih melekat erat dengan raganya. Kehadiran para polisi kota bisa menghindarkan Aditama dari luka baru di tubuhnya.
"Hei, kalian berdua, ikut ke pos dengan kami!" seorang opsir polisi mengarahkan laras panjang pada Aditama dan Si Pria Pengganggu.
Pratiwi lupa berdo'a agar ayahnya tidak ditangkap petugas keamanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
