7

308 56 1
                                        

Pagi itu menjadi pagi yang penuh dengan hiruk pikuk sekaligus kekalutan. Desa Pujasari baru saja mendapatkan musibah yang tidak pernah dinyana akan terjadi. Tidak terkecuali Panca dan Bajra, keduanya merasakan hawa yang berbeda tatkala menyambut matahari yang bersinar terang.

Kegembiraan berganti dengan kekalutan yang datang seiring angin berhembus.

Warga pun berkumpul di balai warga untuk membahas hal penting sekaligus genting. Bukanlah sebuah kebiasaan tatkala Kepala Desa mengumpulkan warganya pagi-pagi sekali. Untuk sementara, kegiatan berladang dan membuat tembikar dihentikan. Mereka yang berada di sana tidak lagi memikirkan pekerjaan rutin, beralih memikirkan langkah selanjutnya dalam menghadapi musibah yang tak terkira sebelumnya.

Satu sama lain saling bicara tentang kejadian tadi malam. Suara riuh rendah terdengar oleh Panca, sulit untuk memperhatikan siapa berbicara apa. Hingga, sang kepala desa menyuruh mereka untuk diam. 

"Kawula yang dirahmati Alloh, sejak malam kita mendapatkan musibah yang membuat kita harus lebih waspada pada keadaan," Raden Bakti sebagai kepala desa memimpin pertemuan.

"Pertama, kita kehilangan ananda Pranata. Sejak semalam melakukan pencarian, kita belum mendapatkan hasil. Dan, siang ini kita teruskan pencarian, tetapi dengan lebih teratur dan terarah," Raden Bakti menarik nafas sejenak sembari menatap warga yang berkumpul dengan duduk bersila di hadapannya.

"Kedua, banyak dari ternak kita yang mati mendadak. Jika dilihat dari tanda-tandanya, mereka mati dengan cara yang tidak biasa. Lehernya terluka menganga, tetapi bagian tubuhnya yang lain tidak terluka sedikitpun. Mengherankan ...."

Raden Bakti memberikan ruang pada warga untuk berpikir. Para warga pun mulai paham arah pembicaraan Ki Lurah. Ditandai dengan kepala mereka yang mengangguk-ngangguk.

"Untuk mencari Pranata, kita buat kelompok khusus para pria yang tahu keadaan wilayah tempat tinggal kita. Kelompok ini berjumlah sepuluh orang saja. Mereka dibekali dengan makanan dan minuman secukupnya. Berjaga-jaga jika pencarian memerlukan waktu lama," Raden Bakti memberikan penjelasan.

"Lalu untuk berjaga-jaga di desa kita, sisanya. Kemudian, mulai pagi ini kita membangun kandang khusus untuk mengumpulkan sisa ternak yang ada. Kemudian dijaga bersama. Karena, apabila dalam kandang terpisah seperti biasanya, sulit untuk menjaganya."

Warga yang berkumpul setuju pada arahan sang pemimpin. Mereka paham jika situasi yang dihadapi memang tidak biasa.

Pertemuan pagi itu tidak berlangsung lama. Semua warga kemudian bergerak sesuai dengan tugas yang telah ditentukan. Para pria ada yang menebang bambu dan pohon untuk membuat kandang baru. Sejumlah kecil dari mereka bertugas mencari Pranata ke arah hutan, sebagai tempat yang dicurigai jika Pranata dibawa ke sana.

Raden Panca dan Bajra ikut mengangkut bambu yang telah ditebang oleh pria dewasa yang biasa melakukannya. Lokasi rumpun bambu tidak jauh dari rumahnya. Pekerjaan pun tidak terlalu sulit.

"Raden, aku merasakan keanehan," Bajra membuka pembicaraan.

"Semua orang juga merasakan keanehan," Raden Panca memberikan pendapatnya.

"Aku berpikir jika ... kematian domba-domba itu tidak acak."

"Maksudnya?"

"Coba pikir ... domba milikku ada sebagian yang mati ... domba punya kamu juga ada yang mati," Bajra bicara dengan wajah serius. Kedua matanya memandang lurus ke arah mata lawan bicara. "Bahkan, semua warga yang punya domba pasti ada satu atau dua ekor yang mati  di kandang miliknya ...."

Panca menganggukkan kepala sembari menyeka keringat di kening. "Aku paham maksudmu."

"Kematian domba-domba ini memiliki pola tertentu ...."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang