Api yang berkobar agak jinak, tidak sempat membesar. Gedung bertembok kokoh itu masih bisa terselamatkan. Ruang kerja Kapten Frederik yang semula tenang berubah menjadi heboh untuk sementara.
Berkat para serdadu yang sigap, kehebohan itu pun mereda. Mereka berdatangan membawa ember berisi air untuk memadamkan api yang melahap ruang kerja Kapten Frederik. Kekalutan sempat terjadi tetapi serdadu-serdadu itu sudah terlatih bagaimana menghadapi situasi demikian. Meskipun masa istirahat sempat terganggu, bagi mereka hanya gangguan kecil jika dibandingkan geger di medan perang.
Tidak membutuhkan waktu lama, api pun padam. Yang tersisa, hanya tembok berwarna hitam penuh jelaga.
"Ah, nyaris habis." Kapten Frederik mengawasi anak buahnya yang sedang menyiramkan air untuk menghilangkan sisa-sisa api.
"Kita bereskan saja, Kapten?" salah seorang di antara mereka memberikan saran.
"Jangan. Biarkan saja apa adanya." Frederik berdiri mematung sembari memperhatikan ruangan yang telah terbakar tersebut. Dia berkacak pinggang, raut wajahnya menyiratkan jika membutuhkan banyak jawaban.
Rona wajah sang kapten terbaca oleh anak buahnya yang berdiri tidak jauh. "Apakah kita beritahu para perwira di Markas Besar?"
"Jangan dulu. Ini masalah kecil. Tidak usah membebani para Jenderal dengan urusan kebakaran kecil di ruang kerjaku."
"Baik, Kapten."
Lampu-lampu yang terpasang di sekitar tangsi militer cukup untuk penerangan. Keadaan ruang kerja Kapten Frederik yang berantakan terlihat cukup jelas. Apalagi, rembulan menjadi penerangan tambahan bagi sekumpulan serdadu yang sibuk karena peristiwa tak terduga.
Tidak terduga pula, Wali Kota menghampiri tempat kejadian.
"Aku mendengar ada kebakaran di sini?" Sang Wali Kota bertanya dengan berteriak. Dia datang menumpang kereta kuda, tanpa ditemani siapa pun kecuali seorang kusir.
"Ya, begitulah, seperti yang Anda lihat, Tuan."
"Kau baik-baik saja, Kapten?" Lelaki bertopi bundar itu turun dari kereta dengan langkah tergesa. Orang-orang mengenalnya sebagai pria yang lincah meskipun usianya tidak bisa dibilang muda.
"Saya baik-baik saja. Tapi ruang kerja saya ... tidak ada yang bisa diselamatkan."
Sang Wali Kota meraih lentera yang tergantung di pagar. Penglihatan lelaki itu tampaknya agak bermasalah. Mesti ada penerangan tambahan dalam ruangan yang tidak luas. Dia masuk ke ruang kerja yang terbakar, memperhatikan. Rasa penasaran sang walikota begitu besar. Tampak sekali dari cara dia memperhatikan detail ruangan. Masih ada mebel yang bisa terselamatkan. Setidaknya negara tidak akan mengeluarkan uang banyak untuk memperbaiki kerusakan.
"Oh, Anda diserang." Walikota memperhatikan golok dan kapak tertancap. "Bajingan!" Lelaki Eropa itu marah dengan kekacauan ini. Walaupun Frederik bisa menduga jika kemarahannya bukan hanya tentang perkara ini.
"Saya kaget. Padahal baru saja saya mau tidur. Setelah seharian ini mengurus banyak hal." Frederik menggelengkan kepala kemudian menoleh kepada Walikota.
"Kapten, ada yang hilang?"
"Tidak ada. Mereka hanya mengincar nyawa saya."
Walikota menatap wajah Frederik. "Berani sekali mereka masuk ke sarang serdadu. Berapa orang yang datang?"
"Dua orang. Dengan wajah ditutup topeng. Sekarang mereka sedang dikejar oleh beberapa prajurit."
"Kapten, aku yakin mereka menginginkan kita pergi dari Batavia." Walikota mengangguk. "Dasar licik."
Frederik mengerti maksud dari Walikota. Topik percakapan mereka masih bersambung dengan percakapan di pinggir sungai beberapa saat sebelumnya. Mereka berdua memperbincangkan tentang kemungkinan ada orang yang menginginkan keduanya pergi dari Batavia.
"Tuan, Anda datang ke sini sendirian?"
"Ya. Hanya ditemani kusir." Walikota memandang ke pekarangan yang mulai lengang.
"Istri dan anak Anda? Anda tinggalkan di rumah?"
"Ada penjaga yang berjaga semalaman."
"Maaf, bukan saya meremehkan. Mereka telah berani datang ke sekumpulan serdadu dan berhasil membakar ruang kerja saya. Bagaimana dengan keamanan rumah Anda?"
Menanggapi pertanyaan dari Frederik, wajah sang Wali Kota menegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
حركة (أكشن)"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
