Sore itu semua warga berkumpul di depan rumah Lurah Bakti, demi menyambut Raden Panca dan Bajra. Perasaan was-was mereka bisa terobati ketika Raden Panca dan Bajra pulang dalam keadaan selamat. Walaupun, mereka masih menanti kabar tentang Pranata yang belum bisa dipastikan dimana dia ada dan kemana perginya.
Dan, tentu saja Pratiwi. Mereka tidak menyangka jika gadis itu pun ikut menyusul untuk mencari Pranata. Para warga penasaran atas apa yang terjadi pada Raden Panca dan Bajra. Sontak, warga yang bertemu terus bertanya-tanya. Sampai-sampai dua remaja itu kebingungan harus menjawab apa.
"Sudah ... sudah ... anak ini jangan ditanya ini-itu dulu. Mereka perlu beristirahat. Biar saya yang bertanya-tanya pada mereka." Lurah Bakti mencoba memberi pengertian kepada seluruh warga.
"Kami, hanya penasaran saja Ki Lurah apa yang sebenarnya terjadi," seorang warga mengungkapkan alasan.
"Iya ... nanti saja. Sehabis maghrib, kita berkumpul lagi di balai warga untuk berbagi cerita."
Tanpa banyak lagi pembantahan, warga pun membubarkan diri. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Tentu saja dengan membawa rasa penasaran.
Di sisi lain, Panca mendekat Lurah Bakti. Bibirnya kelu ketika hendak berbicara.
Meskipun agak terbata, untaian kata itu terucap juga, "Ayah, terima kasih sudah membantu kami bagaimana seharusnya bersikap."
"Iya, Paman. Tak seharusnya semua warga tahu apa yang sebenarnya kami alami," Bajra turut bicara.
"Kenapa kau berpikir begitu, Bajra?" Lurah Bakti terheran-heran dengan jalan pikiran Bajra.
"Apa yang kami alami, sebaiknya dirahasiakan saja. Terlalu berbahaya jika warga tahu."
"Benarkah begitu, Panca?"
Raden Panca pun menganggukkan kepala.
"Sudah terlanjur," lelaki itu bicara sambil berlalu meninggalkan anak remaja bertubuh tambun tersebut.
Bajra pun pulang ke rumahnya sedangkan Panca dan Lurah Bakti kemudian berdiri di depan rumah. Mereka berdua memandang ke langit. Dari arah selatan terlihat titik-titik beriringan. Kawanan ratusan bahkan ribuan kelelawar hendak mencari makanan. Di belakangnya, langit jingga menghiasi sore itu.
"Ayah ... ternyata Goa Kelelawar itu benar adanya. Kami sudah sampai ke sana."
"Benarkah kelelawar saja yang ada di sana?"
"Ayah sepertinya tahu jika di sana bukan hanya kelelawar," Raden Panca tersenyum.
"Ayah hanya menduga."
"Ternyata, itu bukan goa alami. Tapi, pertambangan tua yang dihuni banyak sekali kelelawar."
"Termasuk kelelawar raksasa?"
"O, itu tidak ada. Justru ...."
"Apa?"
"Bayangan yang disangka kelelawar itu hanya layang-layang untuk menteror warga. Dan, domba-domba milik warga mati bukan karena kelong wewe atau semacamnya."
"Tapi ...?"
"Oleh penghuni goa itu untuk menjaga rahasia mereka."
"Sampai harus begitu agar warga tidak mendekati Goa Kelelawar."
"Ya, karena di sana masih ada harta yang harus mereka jaga."
"Emas?"
Raden Panca menganggukan kepala.
"Lalu ... Pranata. Ada di sana?"
"Tidak ada. Pranata justru dibawa ke Batavia oleh orang yang sama dengan orang yang menyandera kami."
"Kalian berdua disandera?"
"Ya, untungnya ada Si Pandu yang menyelamatkan kami."
"Si Pandu. Dia selalu datang disaat yang tepat."
"Ya, mungkin sekarang dia sedang beristirahat. Alhamdulillah, dia selamat."
"Lalu, apakah Pranata juga selamat ya?" Lurah Bakti menghela nafas panjang.
"Aku yakin Pratiwi dan Paman Aditama bisa menyelamatkan Pranata."
"Semoga."
Langit mulai gelap ketika anak dan Ayah itu saling bercerita. Mereka berdua pun berbalik badan dan hendak masuk ke rumah.
"O, ya Ayah. Apakah akhir-akhir ini pesanan guci lebih banyak dari sebelumnya?"
"Ya ... ya .... Alhamdulillah, Nak. Kenapa kau bertanya begitu?"
"Karena emas-emas itu diangkut menggunakan guci yang dipesan dari Ayah."
"Bagaimana kau menyimpulkan begitu?"
"Ya ... karena Tuan Frederik sendiri yang mengerjakannya di goa itu. Bersama tiga orang anak buahnya."
"Kapten Frederik?"
Raden Bakti kaget dengan kesaksian anaknya.
----- Selesai ----
__________________________
Terima kasih sudah membaca, berkomentar dan memberi tanda bintang.
Silakan berkunjung ke profil saya untuk membaca Serial Panca yang lainnya.
#serialpanca boleh dibaca secara acak, tidak harus berurutan. Setiap cerita memiliki benang merah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
