21

184 45 0
                                        

Kapten Frederik masih termenung, berpikir tentang sesuatu yang terjadi hari ini. Matanya tertuju pada jenazah yang ditandu warga menuju Rumah Sakit. Dia tidak memperdulikan nyamuk yang mengerubungi tubuh. Dalam beberapa saat, jenazah tersebut sudah menjauh dibawa oleh kereta merta yang ditarik dua ekor kuda.

"Seperti yang kubilang, ada yang menginginkan kita didepak dari jabatan kita saat ini," Walikota masih menduga-duga.

"Semoga itu tidak terjadi, Tuan," Kapten Frederik berharap kejadian hari ini hanya sebuah "kejadian alami". Caranya untuk menanggapi lawan bicara tidak dimaksudkan untuk menganggap masalah ini terkesan dibesar-besarkan. Orang ini terlalu membesar-besarkan masalah, begitulah pikir Frederik tentang walikota Batavia.

"Kau tahu, jujur saja aku lebih mengkhawatirkan jabatanku dibanding semua kejahatan yang sering terjadi di kota ini." Walikota membelakangi Frederik sembari menghisap cerutu favoritnya. Kemudian dia tersenyum kecut. "Kita sama-sama perantauan dari Eropa, aku rasa pikiran kita pun sama."

"Jabatan bisa berhenti ... itu biasa."

"Tidak biasa jika waktunya serasa tidak tepat."

"Ya, kita seperti seekor anjing pemburu yang dibuang di tengah perjalanan."

"Memang begitu, aku setuju denganmu." Walikota mengangguk sambil menggerak-gerakkan tangan kirinya.

"Kehidupan memang kejam, Tuan."

"Ya ya ya," Gaya bicara Walikota yang tenang berubah menjadi cepat karena gugup yang dirasakan. Tangan kanannya menyodorkan cerutu yang diambil dari saku kepada Frederik.

"Tuan, menurut Anda apakah ini sebuah peringatan?"

"Lebih tepatnya ini ancaman."

"Tapi tidak usah merasa terancam. Harus tenang. Dan berpikir waras." Frederik pun menyalakan cerutu menggunakan pemantik yang senantiasa dibawanya dalam saku celana.

"Aku sepakat itu, Kapten. Bajingan itu sepertinya sengaja menebar ketakutan di kota ini. Coba perhatikan, dia meletakkan jenazah Dokter Hewan begitu saja di keramaian."

"Bukan ... 'dia' ... tapi mungkin ... 'mereka' ...."

"Ya ya ya bisa jadi ini pekerjaan komplotan manusia tak bermoral ... bajingan!" Walikota menumpahkan kekesalan dengan  membuang cerutu ke tengah sungai.

Frederik berusaha membayangkan sesuatu di balik kejadian yang tengah di hadapi. Sang wali kota tampaknya terpengaruh oleh jalan berpikir lelaki bertubuh tinggi tersebut. Terlebih, kematian seorang dokter hewan yang diandalkan oleh warga Ibu Kota sungguh mengundang banyak pertanyaan. Sekaligus keanehan.

Malam belum begitu larut, tapi suasana sedikit lebih sepi dari sebelumnya. Sampan yang melintas jauh lebih berkurang dari sebelumnya. Untuk sesaat, warga terpengaruh kabar kematian Dokter Hewan. Ada kemungkinan jika mereka memilih untuk menggunakan jalur lain.

Bagi Frederik, keadaan demikian tidaklah terlalu mengherankan. Malahan membuatnya semakin tertarik untuk terus menelisik kasus yang tengah diurus.

"Buat saya, kasus ini semakin menarik." Frederik mengemukakan isi pikirannya.

"Kau hanya tertarik ada perkara seperti ini." Sang walikota menggelengkan kepala. "Aku? Tidak tertarik."

"Saya hanya menjalankan tugas."

"Benar, tugasmu mengamankan kota ini. Walaupun, perkara di Batavia bukan hanya masalah keamanan."

Frederik tersenyum. Dia ragu dengan ketidaktertarikan Walikota kepada kasus kematian dokter hewan dan bangkai-bangkai hewan yang mengotori sungai. Pernyataan lelaki berperut buncit itu bertolak belakang dengan kelakuannya. Justru dia selalu mendatangi lokasi kejadian meskipun sudah banyak anak buahnya yang mengurus perkara ini. 

Walikota dan Kapten Frederik berusaha menenangkan diri. Sebagai manusia terlatih dengan banyak medan pertempuran, jiwanya memang tidak mudah terguncang. Mereka berusaha tegar di hadapan banyak orang, meskipun di dalam hatinya tidak ada yang tahu.

"Kapten, jika kau pensiun nanti, kau mau ke mana? Tetap di Batavia?" Walikota mengalihkan topik pembicaraan. Dia ingin memikirkan hal selain peristiwa pembunuhan yang terlalu sering terdengar terjadi di Batavia.

"Ya, sepertinya begitu. Anda sendiri?"

"Rencanaku ingin pulang ke Belanda. Atau, mungkin ke Afrika atau Amerika. Yang pasti ... aku ingin suasana baru."

"Ide yang bagus, Tuan."

"Tapi, aku belum siap pensiun sekarang juga. Aku belum mengumpulkan bekal."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang