12

244 49 0
                                        

Raden Panca, Bajra dan Pratiwi memperhatikan Raden Bakti dan Kapten Frederik yang sedang berbincang. Ketiga anak remaja itu mengenal Kapten Frederik ketika mereka berjibaku dengan para bandit yang menawan Raden Bakti beberapa waktu lalu di Batavia.

Kedatangan Kapten Frederik dan anak buahnya, begitu menyita perhatian warga. Termasuk ketiga anak remaja itu, mereka mencuri dengar perbincangan sang kapten dengan Lurah Bakti dari bawah pohon mangga. Meskipun tidak terdengar jelas, mereka bisa menangkap samar-samar suaranya.

Kapten Frederik menoleh pada Raden Panca dan kedua kawannya, dia tersenyum. Senyuman ramah, menandakan mereka saling mengenal.

Kapten Frederik dan Raden Bakti menghampiri.

"Kalian ... apa kabarnya?" Frederik bertanya seakan bertanya kepada kawan lama.

"Kami baik-baik saja, Tuan." Panca menjawab sambil tersenyum. Badan anak itu agak membungkuk sebagai tanda penghormatan. "Tuan sendiri, bagaimana kabarnya?"

"Sebenarnya saya tidak terlalu baik." Kapten Frederik tersenyum kecut. "Bolehkah saya bertanya pada kalian bertiga?"

"Boleh, tentu saja." Panca menoleh kepada Bajra dan Pratiwi secara bergantian. Kedua kawannya itu berdiri tepat di belakang, tampak malu-malu tatkala berbicara.

"Diantara kalian, adakah yang menyaksikan ... atau mendengar sesuatu yang mencurigakan?"

Panca segera menjawab dengan singkat, "tidak, Tuan."

"Benarkah? Kamu ... Pratiwi? Ketika kemarin malam para pria mencari anak yang hilang, kamu di rumah kan?"

"Iya, Tuan." Pratiwi menjawab dengan wajah tertunduk malu. Pratiwi tidak sanggup lagi menyembunyikan apa yang pernah dialaminya malam tadi.

"Tidakkah mendengar sesuatu di kandang domba?" Frederik bertanya penuh selidik.

"Sebenarnya saya melihat keanehan. Hanya saja saya tidak mau menduga-duga."

"Melihat apa?"

"Bayangan yang berlari ke arah hutan."

Frederik mengangkat dagu. Dia berharap ada jawaban yang memuaskan dari Pratiwi. "Berlari? Bukan terbang?"

"Eeuuu ...saya hanya melihatnya berlari beberapa langkah kemudian menghilang." Sesekali Pratiwi memandang wajah Frederik. Meskipun anak gadis itu cenderung bicara sambil tertunduk malu.

"Maaf, Tuan. Kenapa Tuan curiga jika bayangan itu terbang?" Raden Bakti menyela.

"Ya, karena di desa lain ada yang melihat bayangan itu terbang."

"Terbang?" Panca terheran-heran.

"Ya, kata mereka yang melihat ... ada bayangan yang  terbang melesat dari arah kandang ternak ... tidak lama kemudian mereka menyaksikan ternaknya mati menggelepar." Kedua telapak tangan Frederik terbuka. Seakan menganggap kejadian tersebut hal yang dianggap biasa. Padahal, bagi warga desa kehilangan ternak merupakan bencana. 

Raden Panca, Bajra dan Pratiwi saling pandang.  Benarkah begitu?

"Kalian boleh untuk tidak percaya, saya hanya menyampaikan cerita orang-orang di desa lain." Tangan Frederik menunjuk ke arah sembarang. "Silakan tanyakan kembali pada orang di desa lain."

"Menurut Tuan, kematian ternak-ternak ini karena apa ... atau siapa?" Raden Bakti merasa penasaran.

"Untuk menjawab itu, sebaiknya kita lihat dulu bangkai domba itu. Boleh digali kembali? Hanya untuk memastikan saja."

"Boleh, Tuan."

Raden Bakti memerintahkan seorang warga untuk menggali kuburan seekor domba yang telah dikubur sejak malam tadi. Ketika bangkai domba berhasil diangkat, maka warga pun berkerumun, penasaran.

"Sudah saya duga, cirinya sama persis dengan di desa lain. Mereka terluka di leher. Hanya leher. Bagian tubuh lain tidak terkoyak." Frederik mengorek bangkai domba dengan sebatang ranting.

"Setahu saya harimau atau kucing hutan cara memangsanya tidak seperti itu."

"Tepat. Itu yang ingin saya katakan." Frederik setuju dengan pernyataan dari Lurah Bakti. "Besar kemungkinan pemangsanya hanya mengisap darahnya ...," Frederik memandangi wajah para warga, untuk melihat reaksinya.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang