"Tuan, Anda mencari sesuatu?" Pria Tua itu bertanya sekali lagi pada Pangeran Aditama.
"Tidak, saya hanya lupa kalau saya tidak tidur di kamar ini."
"Iya, Tuan. Tapi, pagi ini tuan sudah membayar biaya menginap semalam. Atau ... tuan mau menginap lagi di sini." Dialek khas Hokkian lelaki tua tersebut tidak hilang meskipun hidup di tengah warga pribumi Batavia.
"Tidak, terima kasih."
Raden Aditama berlalu meninggalkan pria tua itu. Baru beberapa langkah, Raden Aditama berbalik badan dan mengajukan beberapa pertanyaan. Aku masih penasaran.
Si pria tua tadi tampak heran dengan sikap Aditama.
"Maaf, Tuan." Tangan kirinya memegang pundak. Mengelusnya dalam beberapa saat. "Bolehkah saya bertanya?"
"Tentu boleh, Tuan." Sikap ramah si pria tua tidak berubah.
"Tadi malam ada sekeluarga yang menginap di sini kan?"
"Iya, betul." Mengangguk sambil terus tersenyum, memang begitulah sikap dia kepada setiap pelanggan di penginapannya.
"Apakah mereka masih menginap di sini?"
"Tidak, mereka sudah pergi."
Sembari melihat jendela yang terbuka, Aditama kembali bertanya, "anda tahu mereka pergi ke mana?"
"Saya tidak tahu. Dan, saya tidak pernah bertanya ke mana tujuan pergi para tamu saya."
Ketika menatap bingkai jendela model jelusi, Aditama membayangkan tempat-tempat yang mungkin disinggahi oleh Pranata. Batavia terlalu luas, jika tidak ada di sini ... anak itu pergi ke mana? Dia pun menghela nafas demi mengatur emosi. Bau udara kota yang terhirup berbagai rupa membuat pikirannya semakin tak tenang.
Si pria tua tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Aditama. Namun, dia mulai merasa tidak nyaman berhadapan dengan orang ini.
Kemudian Aditama mengalihkan pandangan. Mata mereka saling bertatapan. Dia membaca raut wajah yang berubah dari orang di hadapannya. Lelaki berbaju pangsi hitam tersebut menatap langsung mata si pria tua sambil mengangkat kedua alisnya, "Anda yakin?"
"Ya, Tuan."
"Baiklah, maaf saya terlalu banyak bertanya."
Raden Aditama berlalu sambil tersenyum pada Pria Tua itu. Mereka saling tatap untuk beberapa saat, kemudian mata Raden Aditama tertuju pada benda yang dibawa si Pria Tua.
Aku kenal benda itu. Itu kan guci buatan Desa Pujasari.
Pria Tua itu pun tersenyum sambil membuka salah satu pintu kamar di penginapan itu. Setengah badannya telah masuk ke dalam ruang tidur.
Aditama tahu jika orang tua itu kembali menoleh dan memperhatikan dirinya. Berbekal kecurigaan yang ingin dituntaskan, maka Aditama pun kembali melangkah dengan langkah cepat menghampiri Si Pria Tua.
"Pa Tua! Darimana kau dapatkan benda itu?" Raden Aditama menunjuk wajah Si Pria Tua dengan mata melotot.
"Hei, jaga bicaramu! Kau bicara dengan orang tua!"
"Mengaku saja, dari mana kau dapatkan guci itu?"
"Bukan urusanmu." Si pria pemilik penginapan bicara dengan nada kesal. Tangan kanannya memegang daun pintu, hendak membukanya.
"Ahhh ... banyak bicara!" Raden Aditama mengarahkan tinju pada Pria Tua itu.
Raden Aditama naik pitam, dia curiga dengan gelagat orang tua itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Acción"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
