"Hahahaha ... kalian kaget melihat aku ada di sini?" Frederik tertawa lepas. Suaranya menggema karena memantul pada dinding gua.
"Jadi ... semua ini ...?" Bajra kaget sekaligus bertambah takut. Ada sebuah kesimpulan dalam pikiran ini.
"Ya ya ya ... aku akui kalian memang anak pintar. Dan, aku sudah tahu itu." Frederik mengangkat alis ketika mengakui kepintaran dua tawanannya.
"Tapi ... kenapa Tuan melakukan ini?"
"Apa salah kami? Apa salah saudara-saudara kami?" Bajra menimpali Raden Panca.
"Kalian tidak salah ... sebelum kalian tahu tempat ini."
Panca dan Bajra merasa terancam dengan ucapan Kapten Frederik. Mereka tahu jika saat ini sedang berhadapan dengan orang yang disegani sekaligus ditakuti. Frederik memiliki sepasukan yang bisa diperintahkan untuk berbuat apa saja. Hal yang menjadi pemahaman umum apabila serdadu di Hindia Belanda merupakan kepanjangan tangan pemerintahan kolonial.
"Kau menjebak kami?" Panca bertanya sekaligus menebak.
"Ternyata kalian menyadarinya."
Tiga pria penghuni gua hanya tersenyum sinis melihat dua anak remaja yang sedang meringkuk di bawah tiang. Tiga pria itu seperti sudah siap melaksanakan perintah selanjutnya dari Kapten Frederik.
"Tuan, kami mohon lepaskan kami. Kami tidak akan menceritakan apapun yang terjadi di sini. Kami berjanji," Panca memberikan penawaran.
"Ooo ... kau mencoba bernegosiasi denganku? Hahahaha ...."
Kapten Frederik tidak mau menerima begitu saja tawaran dari Panca. Lagipula, siapa anak kecil ini? Begitu pikirnya.
"Tuan, teman saya ini anak seorang kepala desa ...," Bajra mencoba menjelaskan.
"Aku tahu itu. Aku tahu siapa bapaknya bahkan aku tahu siapa kakeknya hingga kakek buyutnya." Mata Frederik melotot kepada Bajra.
"Ya, dia bisa dipercaya."
"Hahaha ... justru itu. Karena aku tahu siapa keluarga kalian, makanya aku tidak mau terlalu sering berurusan dengan kalian."
Kapten Frederik berjalan mondar-mandir, sedang berpikir. Akan aku apakan anak ini?
Bajra merapatkan punggung ke tiang. Panca pun melakukan hal yang sama.
Frederik menatap wajah kedua anak itu kemudian berkomentar, "kalian tampak sehat. Terlebih kau ...," matanya menatap Bajra lebih lama, "langka sekali aku melihat anak pribumi bertubuh gemuk sepertimu. Sepertinya Lurah Bakti memberi cukup makan kepada warganya."
Bajra dan Panca saling tatap. Mereka berdua tidak sepenuhnya mengerti maksud dari Frederik.
"Aku sudah membuat keputusan, kalian tidak akan aku lepaskan, banyak pekerjaan yang harus kalian kerjakan. Dan ... kalian harus bekerja untukku ...." Kapten Frederik berkacak pinggang di dekat para tawanan.
"Setelah itu ... boleh kami pergi?"
"Tidak bisa, kalian bekerja padaku ... sampai mati ... hahahaha ...," tertawa Kapten Frederik terdengar menggelegar. Dia berjalan menjauh bersama ketiga anak buahnya.
Suasana gua kembali hening.
Panca dan Bajra saling lirik. Mereka begitu cemas dengan keadaan yang menimpa. Keduanya membayangkan hal buruk akan terjadi serta tidak ada anggota keluarga yang bisa menolong. Frederik sudah memberi penjelasan jika dia anak remaja itu akan bekerja di bawah perintahnya. Menjadi budak, hal yang mengerikan.
Tatkala pikiran kalut, Bajra kembali meronta-ronta. Dia meminta untuk segera dibebaskan.
Sedangkan Panca berusaha untuk tetap tenang. Dia memperhatikan dari kejauhan ada cahaya api yang kembali menyala di ujung lorong. Para penghuni gua itu kembali bekerja.
Bajra berhenti meronta. Pikirannya kembali memantik pertanyaan, "Raden, mungkinkah mereka sedang menambang emas?"
"Aku juga berpikir begitu. Pertambangan ini begitu berharga buat mereka. Sampai-sampai orang lain pun tidak boleh tahu." Panca menatap dengan seksama ke arah empat orang yang sedang bekerja di ruangan yang berbeda.
"Lalu ... kita harus bagaimana?"
"Untuk sementara, ikuti saja keinginan mereka. Kita harus tetap hidup."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
