Sore pun tiba, anak-anak tidak berani lagi bermain di tanah lapang. Setelah kejadian anak hilang itu.
Raden Panca, terpukau pada titik-titik hitam yang menghias langit. Kelelawar yang mulai berkeliaran mencari makanan. Jumlahnya begitu banyak, ratusan bahkan ribuan, sehingga lebih menyerupai sekawanan burung yang bermigrasi.
Bajra menghampiri, dia seakan tahu ada sesuatu yang dipikirkan oleh sahabatnya. Anak itu membuka obrolan dengan bertanya sesuatu yang sedang menjadi pembicaraan hangat di Désa Pujasari. "Raden, apakah kau percaya semua ini?"
Panca malah balik bertanya kepada Bajra, "percaya pada apa?"
"Tentang kelong wewe dan tentang bayangan terbang yang menghisap darah domba-domba milik warga." Bajra menghela nafas panjang. "Entahlah, sekarang aku menjadi ragu."
"Ragu jika semua ini karena makhluk yang tak jelas?" Panca sekedar menegaskan apa yang dimaksud oleh kawannya. "Ya memang, diantara kita tidak ada yang pernah melihat makhluk yang disebut-sebut itu."
"Kalau aku malah semakin ragu setelah Kapten Frederik membicarakannya."
"Keraguanmu harus beralasan." Panca pun mengarahkan pandangan ke langit di sisi selatan. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Aku ragu ketika Kapten Frederik mengatakan jika ada orang yang melihat bayangan yang terbang ... seakan itu hanya ... cerita rekaan."
"Ya ... aku bisa paham jika kamu ragu. Tapi, sebagai manusia, kita mencoba rendah hati dan mengakui jika pengetahuan kita belum cukup untuk memahami semua ini. Kau sendiri yang sering bicara begitu." Tangan kiri Panca menyentuh pundak kawannya. "Bajra, makhluk yang belum pernah dilihat manusia itu bukan berarti tidak ada ...."
"Ya, mungkin pengetahuanku yang kurang." Bajra menggaruk kepala sambil tersenyum. Deretan giginya tampak diapit oleh bibir tebal anak itu. "Raden, sikapmu sendiri bagaimana?"
"Begini, aku berusaha berada di tengah-tengah. Karena, aku belajar dari pengalamanku ketika kita bertemu harimau beberapa hari lalu."
"Itu pertama kalinya kita bertemu harimau."
"Ya, selama ini kita mendengar cerita harimau hanya dari desas-desus dan obrolan warga. Aku tidak terlalu percaya, ya ... aku tidak merasa yakin ketika belum melihatnya."
"Tapi, kau semakin yakin jika harimau itu ada setelah melihatnya sendiri."
Raden Panca menganggukkan kepala. Matanya kembali memperhatikan langit yang mulai gelap. Pohon yang rimbun menghalangi cahaya yang menyentuh tanah. Waktu maghrib akan segera tiba. Seperti biasa, mereka berdua pun bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Keduanya menunggu bedug ditabuh sebagai penanda untuk segera menunaikan sholat maghrib.
"Tolooongg ...!!"
Raden Panca dan Bajra dikagetkan oleh teriakan orang meminta tolong. Dari arah hutan nampak berlarian pria-pria yang mereka kenali.
"Mereka kelompok yang mencari Pranata!!" Bajra mulai mengenali sumber teriakan itu.
Warga pun mendengar teriakan. Orang tua dan anak-anak nyaris bersamaan mengarahkan pandangan ke sumber suara. Bagi warga Desa Pujasari, teriakan orang yang meminta tolong bisa menjadi sesuatu yang serius. Hal demikian akan menyita perhatian, pantang bagi mereka untuk bersikap tak acuh. Terlebih, sumber suara itu berasal dari pinggir hutan.
Warga pun berkerumun tanpa ada yang memberi arahan. Semuanya berdiri demi menyambut sepuluh lelaki pribumi yang datang. Orang-orang itu berlari dengan terbirit-birit. Satu sama lain saling mendahului.
Para pria itu nampak ketakutan.
"Ada kelong wewe!!" salah seorang dari mereka langsung menyebutkan alasan ketakutannya.
Panca melirik Bajra, apakah kau masih tidak percaya pada apa yang terjadi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Aksi"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
