47

155 38 0
                                        

Pratiwi melecut kudanya agar berlari lebih kencang. Ternyata, mencuri dengar dari orang-orang yang tidak dikenal mengundang bahaya.

"Hei, berhenti!"

"Ayo hentikan dia!"

"Dia gadis yang ada di rumah makan itu!"

"Jangan sampai dia lolos!"

Tidak kurang dari tujuh laki-laki mengejar Pratiwi. Teriakan mereka memicu jantung anak gadis itu menjadi lebih kencang. Dengan area pandangan yang terbatas, Pratiwi memperhatikan jika orang-orang itu  berlari ke berbagai arah. Komplotan pengejar itu lebih paham seluk-beluk pelabuhan dibandingkan orang yang dikejar.

Gadis itu tidak mungkin kabur ke laut, pikir anggota komplotan.

Tiga diantara mereka berlari ke arah kuda yang sedang ditambatkan. Menaiki hewan itu hingga bisa diajak berlari lebih kencang. Dengan kecepatan maksimal, kuda-kuda itu berlari mengejar Pratiwi yang menunggangi kuda ke arah timur. Ketika tahu tengah ada keributan, semua orang seakan memberi jalan.

"Hyaa!"

"Hyaa!"

Kuda-kuda yang saling berkejaran menjadi tontonan para kuli pikul yang sedang mengangkut barang. Mereka terhenti sebentar untuk menonton pertunjukan langka.

"Jangan sampai lolos!" Seorang kuli bersorak sehingga mengundang balasan sorak Sorai dari kawan-kawannya.

Dpuk ... dpuk ... dpuk ....

Suara kaki kuda beradu dengan jalanan di pelabuhan cukup menyita perhatian. Para kelasi yang sedang membersihkan kapal di dermaga berteriak menyoraki. Sejenak, mereka sengaja menghentikan kegiatan. Menonton kuda berkejaran selayaknya pacuan bisa menjadi hiburan.

"Ayo! Dasar laki-laki payah, kalah oleh anak gadis!"

"Hahaha ...!"

Suara teriakan itu terdengar oleh telinga si penunggang kuda. Timbul ide untuk mengambil jalan lain, si penunggang kuda pun berbelok arah ke jalan yang lebih sempit. Aku tahu ke mana dia akan menuju. Begitulah pikir si lelaki tanpa alas kaki.

Di sisi lain, Pratiwi terus melecut si kuda tanpa berpikir untuk berhenti. Tetapi, dia merasakan ada keanehan. Suara hentakan kaki kuda di belakangnya mulai hilang. Mereka ke mana?

Pratiwi mengarahkan pandangan ke belakang. Ke mana mereka? Orang-orang yang mengejarnya tidak ada. Pratiwi pun mengurangi laju kudanya. Dia sampai di dermaga yang lebih lengang. Tidak ada kapal atau perahu yang ditambatkan. Pratiwi sudah sampai di ujung pelabuhan.

Anak gadis itu merasa lega tidak ada lagi yang mengejarnya. Tapi, benarkah mereka menyerah begitu saja?

"Ha ...!" Ternyata tiga ekor kuda menyergap Pratiwi. Dia kaget. Pratiwi lengah.

"Mau ke mana kau?" salah satu diantara mereka menyemai ancaman. "Sekali lagi kau kabur, aku akan menembakmu!"

Komplotan lelaki itu menodongkan senapan laras panjang.

"Tenang, Paman. Aku hanya ingin berkunjung ...." Pratiwi bicara gelagapan.

"Hahaha ...."

Ada hal yang tidak terpikir oleh Pratiwi. Salah satu di antara mereka ada yang mengenal gadis berambut digelung itu. "Aku tahu kau anak Aditama, kan?"

"Eee ...," Pratiwi tidak bisa berbohong.

"Kami melihatmu tadi di rumah makan."

"Kau mencari sesuatu, Nak? Mari aku tunjukan," sambil memegang tali kekang kuda Pratiwi seorang lelaki berbaju merah menodongkan senjata ke arah Pratiwi.

Pratiwi tidak berkutik. Dan, hanya bisa mengikuti kata-kata para pria yang menawannya.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang