23

184 48 0
                                        

Frederik lelah dengan pikirannya, setelah bertemu Walikota dia kembali beristirahat di ruang kerjanya. Saat-saat seperti ini, lelaki itu jarang menghibur diri. Tak ada keluarga yang menyambut, tapi sudah terlalu tua untuk bercengkrama dengan para serdadu yang berbeda selera.

Saat ini, dia hanya ingin tertidur nyenyak agar lupa apa yang telah terjadi hari ini. Walaupun itu susah. Urusan pekerjaan, masih banyak anak buahnya yang bisa diandalkan. Tapi, memecahkan teka-teki kematian Dokter Hewan dan bangkai-bangkai ternak yang mengotori sungai, jelas itu menjadi tanggung jawabnya.

Tugas ini bertambah pelik karena karena perkara pembunuhan harus diserahkan kepada polisi reserse yang diberi wewenang oleh negara. Padahal, Frederik ingin menyelesaikan kasus ini sendiri tanpa campur tangan orang-orang sipil.

"Frederik, tugasmu hanya menjaga keamanan di jalur perlintasan bukan mengurus perkara pembunuhan." Demikianlah omongan atasannya di tangsi militer. Para pejabat di sana sudah memperingatkan Frederik agar tidak terlalu dalam mengurusi perkara pembunuhan. Namun, bagi lelaki itu perkara ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti.

Aku bosan jika terus-menerus berpatroli.

Wajar saja jika rasa bosan itu datang. Tidak ada perang di Batavia. Seorang militer dipersiapkan untuk berperang bukan sekedar berpatroli hilir mudik melintasi sungai dan kanal padahal tidak ada tanda-tanda akan terjadi pemberontakan.

Batavia sudah aman.

Setidaknya, begitulah kesimpulan dari Frederik. Apabila ada kasus-kasus ringan biarlah polisi kota yang mengurusi. Baginya, tidak dianggap bakal mengganggu stabilitas kota. Hanya saja, perkara bangkai-bangkai hewan yang mengambang di sungai dalam jumlah besar bisa dianggap sebagai pertanda "pemberontakan kecil".

Frederik ingin dianggap sebagai orang yang berjasa di kota. Walaupun, dia harus mencari cara agar memperoleh perhatian dari pembesar Batavia.

Itulah tujuan dari Frederik. Malam ini dia akan merencanakan tindakan selanjutnya. Bola matanya kembali menatap peta yang terpasang di dinding.

"Hueee .... grrr ...," terdengar suara kuda yang khas. Kuda itu baru saja tiba. Karena itu pula, perhatiannya beralih ke pintu berbahan kayu yang tertutup rapat.

Didorong rasa penasaran, Frederik mendekati jendela untuk memastikan siapa yang datang. Jika itu anak buahnya, maka dia akan menamparnya. Tapi, anak buahnya jarang menggunakan kuda untuk sekedar patroli di area tangsi.

Siapa?

Bruukk!!!

Pintu ruang kerjanya dibuka dengan paksa dari luar. Kapten Frederik kaget.

Dua orang pria bertopeng "bertandang" ke rumah dinasnya. Tanpa basa-basi, salah satu dari mereka menyabetkan golok ke arah wajah Kapten Frederik.

Sang  Kapten mengelak, golok itu malah menancap di rak buku. Sebelum tercabut kembali, golok itu tertinggal di rak buku. Karena, Kapten Frederik menendang dada Si Pemilik Golok. Dia terjerembab hampir menabrak dinding.

Temannya, mengayunkan kapak ke arah kepala Kapten Frederik.  Lagi-lagi Sang Kapten bisa mengelak. Kapaknya menghantam dinding, peta yang tergantung di dinding robek oleh tajamnya kapak itu. Kapten Frederik tidak berani maju, dua orang tak dikenal ini nampaknya orang terlatih.

Apalagi, pedangnya tergeletak di meja. Tangannya sulit menjangkau. Sang Kapten tersudut. Panik.

Celakanya, kapak itu kembali mengarah ke kepala Sang Kapten. Dari arah kanan, sisi tajam si kapak hampir menyentuh hidungnya.

Si Pemilik Kapak tidak bisa mengendalikan senjatanya. Tenaganya tidak terkontrol, kapak itu malah mendarat di meja. Tertancap.

Ketika Kapten Frederik berusaha menyelamatkan nyawanya, Si Pemilik Golok terlihat sibuk mencari sesuatu. Apa yang dia cari?

"Aahh ...," pria bertopeng itu nampak marah. Dia lihat ada lampu tempel di atas meja, dilemparkannya ke arah tumpukan kertas di rak buku. Dan, bluurrr ... api menyala dengan besarnya.

Kapten Frederik tidak menghiraukan api yang berkobar di ruang kerjanya. Dia berlari mengejar dua manusia tidak beradab itu ke halaman. Frederik berteriak kencang menyuruh anak buahnya mengejar kedua orang itu.

Para serdadu datang berhamburan. Ternyata mereka mendengar keributan di kediaman pimpinannya.

"Tangkap dia!"

Api membesar, membakar ruang kerja Kapten Frederik. Dia hanya terdiam menyaksikan si jago merah yang mulai menjilati langit malam.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang