16

225 50 0
                                        

Kesepuluh pria itu benar-benar ketakutan. Wajah mereka penuh keringat. Dan, tentu saja ketakutan itu menyebar ke benak semua warga, tidak terkecuali Lurah Bakti yang semula meragukan keberadaan makhluk tak berwujud itu.

"Kalian yakin melihat kelong wewe?"

"Saya yakin Ki Lurah," diantara mereka ada yang membuat pengakuan begitu meyakinkan.

"Bagaimana kalian begitu yakin?" Raden Bakti ingin agar mereka menceritakan apa yang dilihatnya. Sekaligus, timbul tanda tanya besar dalam pikirannya.

"Barusan, ketika kami pulang ... hari mulai gelap. Apalagi di hutan terasa lebih gelap ... mungkin karena rimbunnya pepohonan ... terus ... ada sosok hitam melayang tepat di atas kepala kami."

"Kalian melihat wujud makhluk itu, wajahnya?" Lurah Bakti menatap lelaki yang sedari tadi paling banyak bicara.

"Seperti kelelawar ... tapi dia lebih besar ... sayapnya lebar ... lebih lebar dari rentang tangan kita ...."

Warga yang mendengar keterangan tersebut saling lirik satu sama lain. Kecemasan tampak di wajah mereka, terutama anak kecil. Demi menenangkannya, ibu mereka mendekap anak-anak itu. Sedangkan para manula seakan setengah tidak percaya karena mitos yang selama ini tersebar, ternyata benar.

"Baiklah." Lurah Bakti pun menghirup nafas panjang. Dia berusaha untuk menenangkan diri. Tidak ingin jika keadaan terbaru ini malah membuat warga bertambah panik. Meskipun dia sendiri tahu hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. "Sekarang kalian istirahat saja dulu, pulang ke rumah. Biarlah yang lain ganti berjaga malam ini."

Keributan masih terjadi sesaat sebelum tiba waktu sholat. Tidak lama kemudian bedug ditabuh. Adzan maghrib berkumandang. Warga pun segera membubarkan diri. Para wanita dan anak-anak kembali ke rumah dengan langkah terburu-buru. Setelah sampai, mereka pun segera mengunci rapat pintu dan jendela.

Warga yang diberi tugas untuk mengatur lampu minyak di tepi jalan segera menyalakan pemantik. Kampung yang perlahan gelap kini dihiasi lampu-lampu minyak nan menerangi gang-gang dan pekarangan. Tidak terkecuali lampu yang terpasang tepat di dekat Panca dan Bajra tengah berdiri.

Raden Panca menyaksikan sang ayah berdiri termangu. Dari wajahnya nampak kekalutan. Kabar yang belum jelas, membuat lelaki paruh baya itu bingung sekaligus khawatir.

Raden Panca menghampiri ayahnya yang sedang berdiri sendirian. Ada sesuatu yang ingin disampaikan. Meskipun terpikir juga jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bicara. Anak dan ayah itu saling tatap. Dalam beberapa saat mereka tidak bicara, hanya saling menyimpan isi pikiran masing-masing.

Namun, Panca sulit untuk menyembunyikan rasa penasaran. Dia pun bertanya sekedar memuaskan rasa penasaran itu. "Ayah, apakah Pranata bisa ditemukan?"

"Seperti yang kamu lihat, Pranata belum bisa mereka temukan."

"Kasihan dia." Panca menggelengkan kepala. Menghela nafas kemudian menunduk karena sedih.

"Ya, Ibunya tidak berhenti menangis seharian ... khawatir pada keadaan anaknya."

"Tapi, Ayah sendiri percaya jika semua ini karena kelong wewe?"

"Entahlah ...," Raden Bakti berlalu meninggalkan anaknya.

Raden Panca bisa memahami tanggungjawab besar sebagai pemimpin warga Desa Pujasari. Membayangkan apa yang ada dalam pikiran ayahnya. Dia mencoba membayangkan jika nanti dia menggantikan posisi Lurah Bakti. Keadaan genting seperti sekarang memang tidaklah setiap terjadi, tetapi harus menyiapkan diri andaikan sewaktu-waktu terjadi.

"Raden, aku pikir malam ini kita harus bergerak?" dari arah belakang Bajra berkata dengan setengah berbisik. Dalam hal menelorkan ide, anak bertubuh gempal itu memang pintar. Walaupun, si sahabat dekat sering dibingungkan dengan gagasan yang muncul dari kepalanya.

"Bergerak untuk apa?"

"Mencari tahu sebab kehilangan Pranata."

"Bagaimana caranya? sepuluh orang dewasa saja tidak sanggup, apalagi kita, dua anak bau kencur."

"Bukan dua anak, tapi tiga anak dan satu ekor tupai ...," Bajra tersenyum meyakinkan. Dia memberi isyarat dengan menunjukkan tiga jari di depan wajah Panca.

Raden Panca pun menyeringai tanda setuju.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang