"Ayah!" Pratiwi memanggil Aditama dengan penuh cemas.
"Kamu pergi sendiri saja! Tahu kan harus ke mana?" Raden Aditama menjawab Pratiwi sambil mengangkat dua tangan.
Tidak kurang dari sepuluh polisi berseragam biru dongker menodongkan senapan ke arah Aditama dan si Pria Pengganggu. Kedua lelaki itu tidak bisa berkutik ketika harus dihadapkan pada situasi yang memaksanya untuk menyerah. Menyerah lebih baik daripada mati ditembak.
Dari atas kuda, Pratiwi hanya bisa duduk tanpa ekspresi menyaksikan ayahnya digiring menuju pos polisi. Gadis remaja itu melihat kuda sang ayah hanya terdiam seakan mengerti jika majikannya sedang dalam masalah besar. Sayang, si kuda tidak bisa berbuat banyak.
Pratiwi menuntun kuda ayahnya untuk dikembalikan ke kandang. Kuda itu biasa dititipkan pada sahabat Aditama yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Dengan langkah gontai, dua kuda itu menyusuri jalan Ibu Kota yang masih hiruk-pikuk. Orang-orang di pinggir jalan menyaksikan betapa kesedihan nampak dari wajah si gadis berbaju pangsi cokelat kekuningan.
Ah, aku tidak boleh sedih terlalu lama. Pranata harus segera ditemukan.
***
Tidak lama setelah perkelahian itu, Pratiwi kembali melecut kuda. Kali ini, jalanan tidak terlalu ramai. Dia bisa memacu si kuda lebih cepat dari sebelumnya. Kaki kuda yang beradu dengan jalan tanah berlapis kerikil membaut debu beterbangan. Suara sepatu kuda pun membentuk irama khas ketika bersentuhan dengan lapisan jalan raya yang keras.
Matahari mulai meninggi, hawa panas menusuk kulit wajahnya. Anak remaja itu sampai di sisi lain kota yang identik dengan keramaian. Pelabuhan Batavia, pelabuhan yang sibuk di Hindia Belanda.
Suasana pelabuhan mulai terasa sesaat sebelum sampai di dermaga. Pemandangan yang langka ditemuinya, deretan kapal berbagai ukuran. Tiang layar yang menjulang seakan muncul dari permukaan laut. Pedati pun hilir mudik mengangkut barang yang baru diturunkan dari kapal. Atau, sebaliknya akan dinaikkan ke atas kapal.
Pratiwi kebingungan. Dia tidak tahu harus mencari Pranata ke arah mana. Di sana-sini banyak bangunan-bangunan besar. Mungkin itu gudang.
Ya, kemungkinan Pranata disembunyikan di salah satu gudang yang ada di sini. Pratiwi benar-benar tidak punya petunjuk. Ayahnya, yang bisa diandalkan malah ditangkap polisi. Dia harus bekerja sendiri.
Mata gadis itu mengarah pada sekumpulan orang yang sedang berbincang-bincang. Mungkin mereka sedang bertransaksi. Pratiwi memasang telinga untuk mendengar percakapan mereka. Meskipun, suaranya terdengar samar.
Orang-orang itu tidak terlalu mempedulikan kehadiran Pratiwi. Kuli-kuli pelabuhan memilih untuk menggunakan indera mereka untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Kesibukan bongkar muat barang membutuhkan banyak tenaga. Apabila mereka leha-leha, maka bisa mengundang kemarahan para juragan. Bahkan, ketika kuda itu perlahan mendekati kerumunan para pria yang sedang bertransaksi tidak serta merta memperoleh sambutan.
Pratiwi mendekat ke arah para lelaki pribumi yang sedang berkerumun. Mungkin ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Setelah semakin dekat, suara mereka cukup jelas terdengar. Salah satu di antara mereka bertanya, "Di mana mereka sekarang?"
"Ada di gudang," jawab yang lain.
Kuda tunggangan berjalan perlahan tepat di hadapan kerumunan orang di sana. Pratiwi tidak bicara atau menyapa orang-orang itu, malah mencuri dengar. Sesuatu yang tidak lumrah.
Di antara kerumunan, ternyata ada yang curiga dengan gelagat Pratiwi.
"Hei, kamu! Kamu yang di atas kuda! Berhenti!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Aksi"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
