Para penghuni goa itu bekerja tanpa banyak bicara. Gerak tubuh mereka seakan mengisyaratkan jika ketiganya sudah terbiasa menangani hal tersebut. Tidak terdengar suara pemimpin yang memberi perintah. Keringat pun semakin mengucur deras seiring meningkatnya suhu di ruangan yang pengap itu.
Bau pembakaran menyeruak ke seluruh ruangan. Andaikan tidak ada cerobong asap, bisa jadi orang-orang di dalam sana akan merasa seakan dalam rumah terbakar.
Goa yang luas dan panjang cukup menolong untuk mengurangi suhu ruangan. Hanya ada sebuah cerobong asap yang berfungsi sebagai ventilasi. Jelas tidak ada jendela ataupun pintu untuk pertukaran hawa.
Suhu ruangan itu meningkat seketika apabila tungku dinyalakan. Hari ini, mereka berniat menyelesaikan pekerjaan tanpa ditunda-tunda lagi. Ditambah, sudah ada penyusup ke tempat persembunyian. Jangan sampai menunggu lebih banyak lagi orang luar yang tahu apa yang dikerjakan.
Kapten Frederik senang mengawasi tiga anak buahnya bekerja dengan giatnya. Ketiganya memang orang pilihan. Tidak salah jika Kapten Frederik merekrut mereka. Sosok-sosok ini bisa melakukan banyak hal. Itulah yang diperlukan untuk sebuah pekerjaan besar.
"Aku ingin semuanya selesai hari ini juga," Kapten Frederik memberikan target waktu.
"Baik, Tuan," anak buah Kapten Frederik menjawab serentak.
"Pokoknya, nanti malam kita angkut ini semua ke Batavia."
"Tuan, sepertinya nanti sore kita sudah bisa mengangkut semuanya. Tidak harus menunggu hari gelap." Si Jabrik berani untuk memberikan pencapaian target.
"Tidak," Frederik menggelengkan kepala, "terlalu menyita perhatian jika kita angkut ketika hari belum gelap."
"Ya Tuan. Saya mengerti," Si Jabrik mengiyakan omongan tuannya.
Kapten Frederik tersenyum sendiri melihat benda-benda di hadapannya. Terima kasih Kakek. Dia teringat pada Kakeknya yang telah lama meninggal. Sudah sekian tahun lelaki Eropa menunggu momen ini. Dan, tinggal sedikit lagi dia menuju ke akhir pengembaraannya.
O, aku ingat sesuatu. Kapten Frederik berjalan ke arah dinding gua tempat dia menggantungkan perbekalannya. Lelaki berbaju putih kusam itu merogoh sesuatu dari dalam tas ransel yang dibawanya. Sebuah buku.
Dia membuka halaman buku catatan itu satu-persatu. Sambil tersenyum bahagia, dia membaca buku catatan di tangan. Kakinya melangkah ke arah tungku yang sedang menyala. Burrr ... dia melemparkan buku itu ke dalam tungku yang sedang menyala. Benda tersebut terbakar sehingga cepat berubah menjadi abu. Lenyap. Hilang bersama catatan-catatan yang ada di dalamnya.
Aku tidak ingin seorang pun tahu isi buku catatan itu, termasuk anak buahku sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
