"Paman, bagaimana Paman bisa ada di sini?" Bajra terheran melihat Lurah Bakti sedang berjalan menuju ke arah mereka.
"Paman tahu kalian akan ke sini. Kalian baik-baik saja?" Lurah Bakti menoleh kepada Panca yang berdiri tepat dekat dengan Bajra.
"Ya. Kami baik-baik saja."
Lurah Bakti melepaskan tangan kanannya dari pundak Bajra. Sejenak, dia merubah arah tatapan sembari memasang wajah datar. Dia tahu kenapa Panca enggan menatap balik; anak itu tertunduk setelah memperhatikan rona wajah sang ayah.
Maaf, Ayah. Ini semua salahku.
Lurah Bakti enggan untuk bicara lebih lanjut dengan Panca. Satu sisi dia bersyukur karena anak sulungnya pulang dalam keadaan selamat. Namun, di sisi lain dia kesal karena kelakuan Panca yang bertindak sendiri tanpa bicara dengan orang dewasa. Kau hanya cari mati saja.
Semua mata para pria yang menyertai Raden Bakti berbinar. Mereka merasa senang bisa menemukan orang yang mereka cari. Setelah melakukan pencarian selama berjam-jam, melihat wajah mereka berdua tanpa cela mendatangkan kelegaan.
"Sebenarnya ada apa, Raden?" seorang warga bertanya.
"Nanti saja kita ceritakan. Sekarang ... lebih baik kita cepat-cepat pulang." Lurah Bakti segera mendahului Panca yang hendak bicara.
Ayah benar-benar enggan mendengar suaraku, begitulah pikir remaja berbaju pangsi tersebut.
Raden Bakti dan puluhan pria lainnya paham ada bahaya yang mengejar dua anak remaja ini. Terlihat jelas dari wajah keduanya.
Mereka bergegas berjalan menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui warga menuju sungai. Di sekeliling mereka terlihat rumput ilalang tumbuh tidak beraturan. Sesekali nampak batu menonjol di permukaan tanah. Pemandangan khas tanah yang tidak bisa ditanami.
Dor!
Tiba-tiba terdengar suara letupan senapan dari kejauhan.
Dor!
Suara letupan itu terdengar berkali-kali. Sayup-sayup terbawa angin yang berhembus dari lereng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Acción"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
