Raden Aditama merasakan kelelahan yang melebihi biasanya malam itu. Sekaligus merasa senang karena telah mendapatkan uang yang lebih banyak dari sebelumnya. Pesanan gerabah dari negeri Inggris bisa dipenuhinya hari itu. Sungguh memperoleh untung yang besar.
Baginya, pekerjaan sebagai pedagang baru saja dimulai. Setelah sebelumnya, dia berkelana ke banyak tempat tetapi tidak mendapatkan penghasilan sebagaimana yang diharapkan.
Kali ini, dia menjadi pengepul gerabah dari banyak tempat. Termasuk dari desanya, Desa Pujasari. Ada orang Inggris yang memesan guci dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk itu, dia berkeliling ke beberapa desa untuk mengumpulkan pesanan itu.
Dia senang bisa membantu penduduk desa memasarkan hasil kerajinannya. Karena, selama ini barang pecah belah lebih didominasi oleh barang buatan Cina.
Untuk melepas lelah, malam ini Raden Aditama menginap di sebuah penginapan sederhana milik sebuah keluarga perantauan asal Cina. Ornamen ruangan kamarnya penuh dengan nuansa warna merah, khas orang Cina.
Matanya memandangi dinding yang dihiasi lukisan-lukisan bergaya Cina. Pria dan wanita tampak di dalam lukisan itu sedang menari sambil membawa payung. Pakaian yang dikenakannya, khas daratan Cina.
Ada juga lukisan yang menampilkan seekor bangau sedang mencari makan di pesawahan. Di sekitarnya, nampak pegunungan yang indah khas musim panas. Sungguh menenangkan.
Ketika matanya beralih pada lukisan selanjutnya, dia teringat anak gadisnya. Pratiwi. Lukisan itu menampilkan seorang gadis sedang memainkan erhu, alat musik gesek khas negeri Cina.
Pratiwi. Anak gadisnya yang sedang tumbuh itu bisa menjadi pelipur lara ketika masalah hidupnya semakin bertambah dari hari ke hari. Bagi seorang ayah, bertemu dengan anaknya adalah sesuatu yang selalu diharapkan ketika sudah beberapa hari tidak melihat paras cantiknya.
Sayang, dia tidak bisa berkhayal terlalu lama. Pintu kamarnya diketuk dari luar oleh seseorang.
"Ya, siapa?"
"Saya, mau mengantarkan pesanan Tuan," suara seorang wanita terdengar.
Raden Aditama pun membukakan pintu. Nampak olehnya seorang gadis, seusia anaknya, mengantarkan pesanan makanan.
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama, Tuan."
Gadis pelayan itu kembali meninggalkan kamar setelah menaruh makanan di meja. Dan, Raden Aditama pun tidak banyak menunda waktu untuk bisa menikmati hidangan yang telah diantarkan.
Ikan bakar dan nasi hangat, kesukaan Raden Aditama. Dia memakannya dengan lahap. Dalam sekejap, rasa lelahnya mulai tergantikan karena asupan sumber tenaga.
"Engg ...engg ...."
Terdengar suara anak menangis dari dalam kamar sebelah. Dia berhenti mengunyah. Pikirannya dipusatkan pada suara anak kecil yang menangis itu.
Anak siapa ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Ação"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
