24

187 42 0
                                        

Raden Panca dan Bajra setengah berlari hendak masuk hutan. Karena pertimbangan keamanan, kedua anak itu memilih untuk berhenti di pintu masuk hutan yang belum jauh dari perkampungan. Dengan obor di tangan, mereka berdua mencari bayangan yang terlihat sebelumnya.

"Kita kehilangan jejak, Raden," Bajra tampak antusias, mengalahkan ketakutannya.

"Tenang, Bajra. Aku yakin dia tidak jauh dari sini."

"Bagaimana kau yakin?" Pertanyaan Bajra dicampuri rasa takut bukan semata penasaran.

"Ini malam perburuan. Kecil kemungkinan dia kembali ke sarang." Panca masih berpikir jika bayangan itu makhluk buas nan menyeramkan yang mengintai ternak-ternak milik warga. Dia pun mengira jika bayangan yang dilihatnya adalah makhluk pemangsa sebagaimana harimau atau serigala. Perbedaannya, bayangan ini bisa terbang.

"Baiklah. Kita tidak usah terburu-buru masuk ke hutan." Terpikir oleh Panca untuk menunggu bayangan itu datang mendekat tanpa harus mengejar lebih jauh.

Bagi Bajra, itu ide yang bisa diterima. "Aku setuju."

"Dia pasti akan kembali masuk kampung." Perkiraan hanyalah berdasarkan pengalamannya memperhatikan hewan-hewan liar yang sering masuk pemukiman untuk mencari makanan. Percobaan pertama gagal, biasanya hewan liar akan kembali mencoba untuk kedua kalinya.

Raden Panca dan Bajra berlari kemudian berdiri dimana kaki bersikap membentuk kuda-kuda. Satu kaki di depan, satu kaki di belakang. Obor yang dipegang menjadi satu-satunya alat untuk memastikan apa yang ada di balik pohon-pohon yang berjejer. Deretan pohon seakan menghalangi manusia untuk datang, bukan sebuah sambutan hangat.

Setelah memperhatikan keadaan sekeliling, mata mereka mengarah ke langit. Ternyata, tidak tampak sesuatu yang diharapkan datang. Apalagi kala itu langit masih gelap, awan menutupi rembulan yang bersinar di belakangnya.

"Raden, kamu pernah lihat elang yang terbang di atas kampung?" Bajra mengingatkan sesuatu pada sahabatnya.

"Ya, aku sering lihat. Dia melayang, biasanya jarang hinggap di pohon," Raden Panca mengingat-ingat ketika seekor elang biasa melayang tidak jauh dari perkampungan.

"Bayang-bayang itu, seperti elang yang melayang."

"Ya, dia tidak mau hinggap di pepohonan."

"Aku juga berpikir jika bayang-bayang yang kita kejar itu hanya melayang-layang seperti elang."

Raden Panca mulai memahami bagaimana cara bayang-bayang itu bekerja.

"Bagaimana, kamu setuju dengan perkiraanku?" Bajra meyakinkan Raden Panca.

"Apakah pendapatmu didasari karena ketidakpercayaanmu pada keberadaan makhluk pengganggu itu?"

"Mungkin," Bajra menjawab dengan suara rendah.

Sudah cukup lama mereka berdua menunggu kehadiran bayangan itu. Tidak ada yang datang. Tidak terdengar pula suara mencurigakan yang bisa dijadikan acuan. Hanya suara serangga dan kicauan burung malam.

"Raden, jika makhluk itu menginginkan mangsa, kenapa dia tidak mendatangi kita?" Bajra mencoba berspekulasi.

"Perkataanmu terdengar menantang, Bajra."

"Aku bukan menantang. Tetapi mengajakmu berpikir."

"Ya ... mungkin saja dia mendapatkan mangsa di tempat lain."

"Kalau begitu, kita harus mencari dia. Siapa tahu, Pranata dibawa ke tempatnya bersarang."

"Ya, kita harus menemukan tempatnya bersarang. Kemungkinan besar Pranata dibawa ke sana, atau Pranata berada di tempat lain."

Raden Panca dan Bajra melangkah ke arah hutan. Mereka berdua memberanikan diri menembus kegelapan. Tanpa tujuan yang jelas. Hanya dituntun oleh rasa penasaran.

Kaki melangkah dengan hati-hati. Walaupun pikiran terkadang tidak hati-hati. Dalam keadaan yang penuh ketegangan, anak-anak remaja itu sulit untuk mengendalikan pikiran. Apabila demikian, tidak ada daya pula untuk mengendalikan keadaan.

Raden Panca tiba-tiba teringat pada Pratiwi, bisakah dia menjalankan rencana yang sudah disampaikan. Beberapa waktu lalu, anak gadis itu diberi tugas oleh Panca. Mengenai hasilnya, suatu waktu mereka akan bertemu di tempat yang telah disepakati. Selain teringat kepada Pratiwi, terbersit pula dalam pikiran bagaimana keadaan keluarga di rumah. Wajar jika terlintas pikiran demikian, sebelum berangkat kedua anak lelaki itu tidak memberi tahu anggota keluarga tentang kepergian menyusuri hutan saat malam.

Srukk...!

Ketika berjalan di sela pohon-pohon besar, Panca mendengar sebuah suara yang tidak biasa.

Begitu pun Bajra. "Apa itu?" dia terkaget-kaget, sifat aslinya pun nampak, ketakutan.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang