40

175 38 0
                                        

"Haaa ... anaknya ya, Tuan? Mau makan?" seorang pelayan perempuan berjalan membungkuk menghampiri Raden Aditama dan Pratiwi yang sudah duduk di bangku.

Pratiwi celingak-celinguk. Anak gadis itu memperhatikan keadaan rumah makan. Tangannya menyentuh bangku yang terkesan licin saking sering orang duduk di sana.

"Rumah makan ini laku, selalu ramai. Untungnya kita memperoleh tempat duduk." Aditama seakan bisa menerka isi pikiran sang anak.

Pratiwi mengangguk ketika paham maksud dari sang ayah. Alisnya terangkat sedangkan matanya masih enggan untuk bisa menatap kepada satu benda. Banyak hal menarik di sana untuk diperhatikan.

"Nyimas, mau makan apa?" pelayan tua itu tersenyum ramah pada kedua tamunya.

"Saya ... mau makan ...."

"Makan ikan?" Si Pelayan Perempuan menawarkan pilihan.

Pratiwi mengangguk. Tanda setuju. Si Pelayan Perempuan meninggalkan tamunya dan berjalan ke dapur demi memasak hidangan yang dijanjikan. Membutuhkan waktu hingga pesanan dihidangkan. Kesempatan itu digunakan untuk membicarakan satu hal penting.

"Ayah, kita mulai pencarian dari mana?" Pratiwi penasaran dengan ajakan Ayahnya.

"Ssstttt ...," Raden Aditama mendekatkan telunjuk di bibir. Pratiwi paham maksud ayahnya.

Sambil menunggu hidangan datang, Pratiwi asyik memperhatikan dinding rumah makan itu. Warna merah mendominasi ornamen ruangan itu. Lampion bergelantungan di langit-langit ruangan. Berbagai lukisan dan tulisan Cina menjadi pertanda jika pemiliknya orang Cina perantauan. Ketika matanya tertuju ke langit-langit, tampak deretan papan kayu yang berfungsi pula sebagai lantai atas. Dia bisa mendengar papan yang berderit tatkala ada orang yang berjalan di atasnya.

"Nyimas, ini pesanannya." Ternyata seorang gadis seusia Pratiwi menghampiri sembari menyodorkan hidangan berupa ikan bakar dan nasi hangat.

"Terima kasih." Pratiwi tersenyum ramah pada gadis itu.

Si gadis pelayan membalikkan badan hendak pergi kembali ke dapur. Tapi, Raden Aditama memegang tangan kirinya. "Sebentar, Nak. Saya mau bertanya?"

"Bertanya apa, Tuan?"

"Apakah kamu punya adik?"

"Tidak. Saya anak tunggal." Si gadis bermata sipit itu menggelengkan kepala.

"Oh, saya pikir kamu punya adik. Tapi ... tamu di penginapan ini ada anak kecil?"

"Tidak ada, Tuan. Malam tadi, hanya orang-orang dewasa yang menginap di sini."

"O begitu, terima kasih."

Gadis pelayan itu pun pergi ke dapur untuk menemani ibunya yang sedang memasak. Mereka menyiapkan hidangan untuk dijual hari itu.

"Sudah makannya?" Raden Aditama menatap serius anak gadisnya.

"Ya, Ayah."

"... Tadi malam Ayah menginap di sini. Dan melihat ada anak kecil yang disekap di dalam salah satu kamar di penginapan ini."

"Ha?" Pratiwi terheran-heran sekaligus senang. Sekarang dia tahu alasan sang ayah lebih dulu mengajaknya ke tempat ini bukan segera mencari Pranata.

"Kamu tunggu di sini. Ayah mau memeriksa ke dalam. Ini uang untuk membayar makanan." Raden Aditama bicara setengah berbisik pada anaknya.

Lelaki itu bangkit dari bangku kemudian melangkah ke arah tangga yang terpasang tidak jauh dari deretan bangku.

Raden Aditama berjalan menyelinap perlahan melalui lorong menuju deretan kamar-kamar yang tersedia untuk menginap. Tidak banyak kamar yang tersedia di sana. Makanya,  dia ingat kamar mana yang akan dituju.

Semalam aku lihat anak kecil ada di kamar ini. Begitulah pikir Raden Aditama.

Tangannya memegang daun pintu untuk membuka ... tapi ... belum sempat dia membuka, ada seseorang bertanya di belakang punggungnya.

"Tuan, mau kemana?"

Raden Aditama membalikan badan, dan dia menyaksikan seorang lelaki tua sedang berdiri.

"Euu ...."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang