22

180 48 0
                                        

"Bajra, tunggu!" Raden Panca hendak mengejar Bajra yang berlari mengejar bayangan itu.

Ketika warga kampung heboh oleh kehadiran sosok bayangan di udara, tidak terkecuali Bajra, Panca, dan Pratiwi. Diantara mereka bertiga, Bajra tampak paling bersemangat untuk mengetahui siapa sebenarnya sosok bayangan yang dimaksud. Panca pun membiarkan sahabatnya itu untuk berlari terlebih dahulu. 

"Aku ikut, Panca." Pratiwi merengek ingin turut serta.

Baru beberapa langkah berlari, Panca pun terpaksa berhenti. Dia menoleh ke belakang, "Aduh, Pratiwi. Kamu jangan ikut. Ini bahaya."

Ternyata Pratiwi gadis yang tidak ingin disisihkan begitu saja. "Panca, kamu lupa. Beberapa hari lalu aku yang menyelamatkan Ayah di Batavia."

"Sombong ...."

Memang benar, Panca mengakui jika adik sepupunya itu merupakan gadis yang berbeda dengan gadis kampung kebanyakan. Dia senantiasa ingin disetarakan dengan anak laki-laki, bahkan untuk urusan yang cukup membahayakan.

Suatu hari, Pratiwi berkuda sendirian menuju Batavia demi menyusul Panca dan Bajra. Di sana, mereka terlibat perkelahian. Ternyata, tak dinyana Pratiwi tiba di waktu yang tepat untuk menyelamatkan orang-orang yang nyaris kehilangan nyawa.

Begitupula kali ini, Pratiwi ingin dilibatkan. "Bukan itu maksudku. Meskipun perempuan, aku bisa membantu kamu dan  Bajra."

"Tapi, bagaimana dengan ibumu. Dia tidak ada temannya di rumah. Ayahmu sedang merantau."

"Kan ada yang lain."

"Kau belum memberitahu ibumu, kan?"

"Kalau aku memberitahu Ibu, dia tidak akan memberiku izin."

"Tapi aku tidak mau membuat ibumu cemas. Begini saja, kita bagi tugas."

"Tugas apa?"

Panca mendekati Pratiwi. Dia membisikan sesuatu pada telinga si gadis bergelung. Wajah Pratiwi menampakan keheranan sekaligus takjub pada ide cemerlang Raden Panca.

"Bagaimana? Kau mau kan membantu?"

Pratiwi mengangguk mantap dengan bibir mengatup rapat. "Baiklah kalau begitu. Aku setuju."

"Ehmmm ... sebaiknya aku berangkat menyusul Bajra sekarang juga. Sebelum dia berlari terlalu jauh."

Keduanya berpisah tanpa banyak lagi hal yang harus dibicarakan. Panca pun berlari menjauh sedangkan Pratiwi hanya berdiri mematung serta mesti merelakan saudaranya pergi. Keadaan begitu kacau, tidak ada orang yang sempat memperhatikan bagaimana gelagat kedua remaja tersebut. Terlebih, kegelapan menyelimuti mereka yang ada di sana.

"Hati-hati ...," perhatian Pratiwi tertuju pada Raden Panca yang berlari menembus kegelapan malam.

Panca berlari kencang ke arah hutan. Suara Pratiwi masih terdengar walaupun sesaat ketika sampai di batas permukiman dan deretan pohon-pohon yang telah tumbuh alami sejak lama. Anak lelaki itu mengejar Bajra dan bayangan yang membuat mereka penasaran. Untungnya, cahaya obor yang dipegang Bajra masih terlihat walaupun semakin menjauh.

Di antara pepohonan yang mulai rapat, cahaya obor itu terlihat samar. Raden Panca pun setengah terheran, kenapa Bajra begitu berani kali ini?  Padahal, biasanya dia paling penakut, bahkan lebih penakut dari Pratiwi.

Tapi, keheranan Raden Panca itu tidak lama untuk mendapatkan jawaban. Cahaya obor itu terlihat mendekat. Bajra berbalik arah.

Raden Panca hanya tersenyum geli sekaligus khawatir akan keselamatan sahabatnya. Dia berhenti berlari, kemudian berdiri mematung untuk menunggu cahaya obor itu kembali lagi.

"Raden!" suara Bajra berteriak terdengar mendekat.

"Apa?!"

"Kau tidak mengikutiku?!" Nada suara Bajra terkesan kesal.

"Kamu pikir?"

"Ah ...."

"Kamu berlari kencang sekali. Aku pikir kamu lebih berani dari sebelumnya."

"Ah ... kau bercanda."

"Bagaimana, ke arah mana bayangan itu?"

"Dia ada di sebelah sana. Masih melayang-layang."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang