"Bajra, apakah sebaiknya kita di sini saja. Terlalu berbahaya jika kita mencari Pranata malam-malam begini," Raden Panca masih ragu akan rencananya bersama Bajra untuk mencari anak hilang itu.
"Raden, aku tahu ini berbahaya. Makanya, kita harus menyusun rencana," Bajra menjelaskan.
"Baiklah, aku suka semangatmu. Tapi ini bukan urusan gampang."
"Aku tahu. Hanya saja, ketika aku melihat warga ketakutan ketika dihadapkan pada keadaan ini, aku malah jadi bertambah penasaran." Anak bertubuh gempal itu memperhatikan deretan rumah yang tampak sepi. Jika malam-malam sebelumnya warga biasa bercengkrama di beranda, kini mereka memilih untuk berdiam diri di dalam rumah.
"Bajra, kita bertindak bukan hanya berdasarkan rasa penasaran ... tapi ... harus penuh pertimbangan." Panca pun memperhatikan hal yang sama. Hanya deretan lampu minyak yang membuat suasana kampung tampak menenangkan.
"Raden, sejak tadi siang aku merasakan keanehan.
Pertama, aku tidak yakin jika bayangan yang meneror desa kita ini bisa terbang. Pratiwi sendiri hanya melihat bayangan itu berlari ... tidak terbang.
Kedua, benarkah kelong wewe itu yang dilihat kelompok pencari Pranata? Bisa jadi hanya binatang lain, atau itu hanya ...."
Panca memotong pembicaraan Bajra, "apakah masih tidak percaya pada mereka?"
"Raden ... aku sulit menjelaskan padamu apa yang aku pikirkan." Bajra memegang kepala. "Hanya saja ... firasatku mengatakan jika kejadian dua hari belakangan ini sulit untuk mempercayainya."
Raden Panca terdiam. Suara serangga malam terdengar bersahutan dengan suara kentongan yang dibunyikan warga. Ditambah suara lolongan anjing hutan terdengar dari kejauhan. Suasana malam semakin mencekam. Kalau saja mereka berdua tidak ditugaskan untuk berjaga malam itu, keduanya akan memilih untuk berdiam diri saja di rumah.
"Bajra, apa yang terjadi pada desa kita juga terjadi pada desa lain."
"Justru itu, seperti yang kubilang ... kejadian ini memiliki pola," Bajra pun mengomentari berita yang disampaikan oleh Panca, "Ada anak yang hilang, banyak ternak yang mati karena lehernya terluka, dan diantara warga di setiap desa ada yang melihat kelong wewe."
"Kejadiannya begitu serempak."
Bajra masih menyimpan banyak pertanyaan. Dia pun masih haus akan jawaban. "Pertanyaannya, apakah benar semua ini karena kelong wewe?"
"Sangat mungkin makhluk itu ada."
"Untuk membuktikannya, kita harus mencari di mana sarangnya."
"Cara berpikirmu terlalu jauh." Panca menggelengkan kepala. Ada keraguan tersirat dari cara dia berbicara.
"Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat wujudnya. Hanya bayangannya."
Raden Panca mencoba mencerna kata-kata Bajra. Hawa dingin malam itu membantunya untuk berpikir lebih tenang. Terdengar kentungan dipukul lebih keras oleh warga yang meronda. Dari kejauhan, nampak setitik cahaya obor yang dibawa warga sebagai penerangan. Cahaya yang bergerak-gerak di sela pepohonan tinggi dan besar. Jika siang hari, pohon tersebut menjadi peneduh kampung. Malam ini, pohon-pohon besar menjadi objek yang senantiasa diamati. Khawatir ada sesuatu yang bertengger di sana.
"Begini, bagaimana kalau kita pisahkan setiap kejadian," Raden Panca mengajak Bajra untuk kembali berpikir.
"Maksudnya?"
"Kejadian hilangnya Pranata, matinya ternak-ternak, dan sosok yang dicurigai sebagai kelong wewe itu adalah tiga hal yang berbeda."
"Maksudnya, tidak ada hubungannya?"
"Ya, kita anggap Pranata hilang diculik orang, domba-domba pun diterkam hewan atau makhluk apa pun itu, dan kelong wewe itu adalah hal lain."
"Berarti ada tiga kasus berbeda dan tidak ada hubungan diantara ketiganya."
Panca menganggukkan kepala. Tangan kanan anak itu meraih obor yang menancap di tanah. Kemudian kembali menatap wajah kawannya.
Bajra pun mengakhiri perbincangan dengan sebuah pertanyaan, "lalu, kita harus mulai dari mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
