Raden Aditama akhirnya bisa tertidur di kala rasa lelah menyerang tubuh. Sekilas dia masih mendengar orang berteriak dan saling sahut. Aku tak peduli. Raden Aditama sudah biasa mendengar orang berisik meskipun malam. Suasana khas kota pelabuhan.
Perkelahian atau apapun itu dia tidak terlalu terganggu. Apabila ini terjadi di kampungnya maka keributan sedikit bisa mengundang perhatian semua orang sekampung. Tapi, ini Ibu Kota dimana begitu banyak manusia --dari berbagai penjuru dunia--dengan berbagai kepentingan.
Pratiwi di kala masih bayi hingga tumbuh menjadi gadis cantik kini mengisi pikiran Raden Aditama. Dia bermimpi bertemu dengan anak kesayangannya.
Rasa bersalahnya karena sering meninggalkan anak itu begitu membekas dalam benaknya. Sampai-sampai dia sering memimpikan masa kecil si anak gadis, walaupun di dunia nyata Raden Aditama telah melewatkannya.
Raden Aditama ingin membayar masa-masa yang hilang karena dia lebih sering meninggalkan anak dan istrinya. Berkelana ke banyak tempat, tanpa hasil yang menggembirakan.
Bruukk!
Raden Aditama terbangun oleh suara di kamar sebelah. Ada apa ini, berisik sekali.
Brukk, bruukk, bruukk!
Suara pintu dipukul itu kembali terdengar. Malam sudah selarut ini, masih saja orang berisik. Tidur di rumah sendiri sepertinya bisa nyenyak.
Bruk, bruuk, brukk!
Suara itu terdengar lagi. Raden Aditama pun semakin sulit kembali memejamkan mata. Dia terbiasa terbangun saat tidur, tapi kali ini suara itu sulit membuatnya kembali tidur.
Penasaran, Raden Aditama beranjak dari ranjang kemudian melangkah menuju pintu. Dibukanya pintu kamar dan melongok ke arah kamar sebelah.
Bruk bruk bruk!
Suara itu kembali terdengar lebih kencang. Dia memberanikan diri untuk mendekat ke pintu kamar yang menjadi sumber suara itu.
"Hei, ada apa? Berisik sekali. Kau mengganggu tidurku!" Raden Aditama sedikit berteriak ketika bertanya.
Tidak ada jawaban.
"Hei, jawab dong."
Raden Aditama menampakan wajah kesal. Untungnya ada seseorang yang datang untuk menenangkan.
"Tuan, maaf. Maafkan saya atas ketidaknyamanan ini," seorang pria tua menghampiri Raden Aditama. Pemilik penginapan itu datang melalui lorong yang menghubungkannya dengan dapur.
"Sebenarnya, siapa dia? Berisik sekali," jari Raden Aditama menunjuk ke pintu kamar yang dimaksud.
"Oo, mereka hanya keluarga yang sedang berkunjung ke Batavia. Maafkan saya Tuan."
"Anda tidak perlu banyak meminta maaf. Suruh saja dia tidur."
"Baik, Tuan."
"Ee, kamar mandi sebelah mana, ya? Aku ingin buang air kecil."
"Oo, sebelah sana, Tuan. Jalan terus saja, di akhir lorong ini. Nah, di situ."
Raden Aditama menganggukan kepala. Dia pun melangkah menyusuri lorong dengan gontai. Kantuk masih dirasakannya, kepalanya sedikit pusing.
Ketika sampai di kamar kecil, dia membuka pintu dan masuk ke dalam. Tapi, dia tidak menutup rapat pintu kamar mandi.
Penasaran. Dia mengintip apa yang dilakukan si Pria Tua pemilik penginapan itu. Meskipun tampak samar, dia bisa melihat Pria Tua itu membuka pintu kamar sumber suara berisik itu.
Hah, ternyata ada anak kecil mau keluar kamar. Tapi, si Pria Tua menahannya. Raden Aditama hanya bisa melihat tangan mungil keluar dari balik pintu. Dia tidak bisa melihat wajah anak itu.
Si Pria Tua memegang tangan anak itu. Dia mendorong tangan mungil itu.
Tapi, ada yang aneh. Pikir Raden Aditama. Kedua tangan anak itu diikat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
