20

200 46 0
                                        

"Memulai dari mana ya ... aku sendiri tidak tahu," Bajra kebingungan dengan caranya berpikir.

"Tuh ... kan. Kau ini hanya penasaran pada apa yang kau tidak percaya. Kau sering tidak puas jika belum membuktikannya sendiri," Raden Panca mulai memahami cara berpikir sahabatnya. Sejenak, dia menghela nafas sambil tiduran di atas bale-bale tepat di depan rumahnya.

Percakapan dua remaja itu diselingi suara burung hantu yang bertengger di pohon nangka. Diselingi pula suara kentongan yang ditabuh secara bersahutan. Malam yang biasanya membuat suasana lebih tenang, kali ini malah membuat semakin tegang. Tidak ada anak kecil yang berlarian sesaat setelah bedug Maghrib. Tidak ada pula yang bercengkrama di beranda sambil menikmati kacang rebus.

Malam itu sungguh sepi.

Suara serangga dari balik semak-semak hanya menjadi penanda  jeda keheningan yang berlangsung. Malam-malam di mana Désa Pujasari diliputi ketakutan sekaligus kebingungan setelah peristiwa kehilangan Pranata. Suasana yang tidak berbeda dengan malam sebelumnya.

Warga dan tentu saja Raden Panca serta Bajra terbawa suasana. Diam saja tidak betah tapi masih bingung harus berbuat apa.

"Menurutku, kita patuhi saja tugas kita untuk berjaga di sini," Raden Panca mengingatkan tugas yang diberikan Lurah pada mereka berdua.

"Maksudmu, aku harus menunggu sampai kelong wewe itu datang?"

"Mungkin. Atau, besok kita ikut saja mencari Pranata."

"Paman Lurah tidak akan mengizinkan kita. Kita masih terlalu kecil."

Mata mereka melihat ke atas. Antara berharap ada yang datang atau tidak ada yang datang.

Kedua anak remaja itu menghela nafas dalam-dalam. Bajra memperhatikan Panca sedangkan tangannya memegang perut, tidak ada makanan sebagai pengganjal. Pikiran itu datang setelah memperhatikan sampah cangkang kacang tanah yang berserakan. Mereka pikir jika malam pun akan panjang.

...

Tong tong tong!

Raden Panca dan Bajra dikagetkan oleh suara kentongan dengan nada tanpa jeda. Bahaya!

Tanpa aba-aba, mereka berdua memegang golok yang sejak tadi tergeletak begitu saja di atas dipan. Obor pun dipegang untuk memperjelas penglihatan. Mata tertuju pada gelapnya malam. Siapa tahu ada yang datang di antara pepohonan.

Tong tong tong!

Suara kentongan ditalu saling menyahut dari berbagi sudut perkampungan. Bagi warga, ini pertanda jika bahaya melanda. Warga pun diharuskan siap siaga. Suasana benar-benar berbeda dari sebelumnya. Para wanita mendekap anaknya yang mulai menangis karena dikagetkan suara tidak biasa. Di dalam rumah, tidak bisa berbuat apa-apa. Para lelaki dewasa, sigap dengan senjata tajam di tangan kemudian berhamburan ke tempat yang lebih lapang.

"Ke arah sana, ke arah utara!" terdengar seorang warga berteriak memberikan kabar atas penglihatannya.

Raden Panca dan Bajra bersiaga. Mereka paham, arah utara adalah lokasi tempat mereka berada.

"Lihat!" seseorang menunjukan sesuatu ke langit malam. Bayangan melayang, seperti seekor kelelawar, jauh lebih besar dari kelelawar.

Bajra menengadahkan wajah tanpa bicara. Tepat di atas kepala mereka. Sepersekian detik, pikiran anak bertubuh gempal itu kosong. Tidak tahu harus melakukan apa.

Tapi, Raden Panca malah menoleh ke belakang. "Pratiwi, sedang apa di sini?"

Orang yang ditanya tidak menjawab. Gadis itu takjub sekaligus takut pada apa yang dilihatnya. Seperti anak kecil melihat seekor elang melayang di atas perkampungan. Beberapa saat sebelumnya, Pratiwi berada di dalam rumah. Ketika mendengar suara teriakan dari berbagai arah, gadis itu malah keluar rumah.

Panca pun tidak terlalu memusingkan kehadiran sepupunya tersebut. Terlebih, Bajra mengingatkan dia akan sesuatu.

"Raden ... saatnya kita memulai rencana kita ...," Bajra mengingatkan sesuatu pada kawannya.

Untuk sesaat, Panca tidak segera menanggapi omongan Bajra. Walaupun, pada akhirnya dia mengikuti jalan pikiran sahabatnya sendiri.

Bajra pun berlari sambil membawa obor di tangan kanannya.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang