-Kalo bisa mulmed nya di play pas sudah di tengah cerita hehe-
***
Plak
Sebuah tamparan yang tiba-tiba membuat Jeno bangkit dari tempatnya dan menatap Jaemin dengan dahi berkerut. Cowok itu masih menatap Jeno dengan mata yang menyala pertanda ada sesuatu yang tidak beres.
"Gue baru tau kalo lo itu pengecut banget."
"Tunggu-tunggu," Jeno menahan Jaemin yang hendak menamparnya lagi membuat cowok itu menghela napas.
"Ini apa maksudnya lo tiba-tiba nampar gue? Gue ada salah sama lo, hm?"
"Gak usah basa-basi Jen, gue udah tau semuanya." kata Jaemin.
"Tau apa?" tanya Jeno. Cowok itu sepertinya masih belum paham arah pembicaraan itu namun Jaemin sudah gatal ingin melayangkan tamparan cinta lagi untuk cowok tampan itu.
"Jangan lo pikir dengan pergi itu bisa nyelesain masalah ya, engga Jen. Itu malah akan menambah masalah."
"Lo?"
"Gue yang ngasih tau."
Jeno menoleh ke arah pintu dan menatap Mark disana. Cowok itu memasukan kedua tangannya ke saku jins lalu berjalan santai mendekati Jaemin dan Jeno di sofa dekat TV.
"Kalo lo bisa lebih gentle juga gue gak akan bilang." ujar Mark masih santai. "Tapi sayang ternyata lo emang pengecut."
Jeno memandang Mark dengan pandangan antara bingung dan juga ingin marah. Sedangkan Mark masih berdiri santai dengan kedua tangan tenggelam di saku celana.
"Tante itu gak habis fikir sama adik kamu itu deh."
"Jeno?"
"Iya Mark, masa dia ikut beasiswa di Jerman tapi gak bilang-bilang sama tante."
"Tunggu-tunggu, maksud tante Jeno mau kuliah di Jerman?"
"Iya. Udah keterima dia tinggal ngurus asrama doang."
"Loh kapan Jeno ikut begituan Tan?"
"Tante juga gak tau, tiba-tiba ada surat undangan gitu menyatakan dia lulus. Tante bangga sih sama Jeno, tapi dia itu kayak nyembunyiin apa gitu yang tante dan om gak tau."
"Maksud tante?"
"Mark, kamu kan lebih deket ya sama Jeno. Coba dong kamu yang nanya, minggu depan Jeno berangkat lho."
"Minggu depan tante?"
"Iya. Tante udah pusing nanya gak pernah di jawab. Bagus sih emang dia dapet itu, tapi kenapa ya.."
"Tante gak setuju Jeno kuliah di Jerman?"
"Kalo tante sih setuju-setuju aja, tapi disini kan dia punya pacar."
"Renjun?"
"Nah-- kamu coba tanya ya Mark sama Jeno."
"Iya nanti Mark coba ya tante."
Mark teringat obrolannya dengan Tiffany seminggu yang lalu ketika tiba-tiba Tiffany datang ke apartemennya dan bercerita tentang Jeno yang akan melanjutkan kuliah di Jerman.
Jujur Mark tidak tahu menahu masalah Jeno. Cowok itu berusaha mencari tahu namun tak dapat info apapun. Dan ketika bertanya kepada teman-temannya dan mereka bilang jika Jeno dan Renjun putus baru lah Mark menemukan titik terang.
Mark juga bercerita kepada Jaemin dan saat itu Jaemin langsung menceritakan semuanya. Ia mengaku jika dirinya yang membuat hubungan Jeno dan Renjun rusak. Jujur Jaemin menyesal waktu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY
Fanfiction[NON BAKU] Huang Renjun tidak pernah merasakan kehidupan berwarna selain hitam, putih, dan abu-abu. Sampai akhirnya Lee Jeno datang memporak-porandakan kehidupan tenang miliknya Warning⚠️ BxB Jangan salah lapak. Walaupun udah selesai tapi tetep vote...
