Kalau ada typo tandai ya.
523
🍭
🍭
🍭
Lia langsung masuk ke dalam kamar mandi saat sudah berada di puncaknya menahan urine untuk keluar. Lia menghela napasnya lega, setidaknya beban yang sedari tadi dia tahan telah hilang. Fokus Lia saat ini hanya pada cermin yang ada di depannya, membenarkan tatanan rambutnya yang terurai sempurna. Merasakan gerah, Lia mengambil ikat rambut dan mengikatnya dengan tinggi, agar tak menghambat aktivitas Lia nantinya.
Setelah keluar, Lia mengambil tisu dan mengelap seluruh keringat yang menghiasi wajahnya. Tampaknya saat ini, Lia sangat lelah, sudah seharian dirinya beraktivitas tanpa batas, hal itulah yang memicunya tanpa lelah.
Kalau pulang ke rumah juga, pasti ujung-ujungnya Lia akan beraktifitas, membersihkan rumah untuk membantu Bibi Siti.
Keluar dari kamar mandi, menghirup udara yang sangat segar di luar. Keberadaan restoran ini dekat dengan pepohonan yang lebat dan juga tua, sehingga keadaan menjadi lebih sejuk juga udaranya tak begitu buruk.
Wanita yang masih belum Lia ketahui namanya tengah tersenyum padanya. Gadget yang dipegang tangan lentik juga kuku yang bercat hijau toska itu, langsung memasukkan gadget ke dalam tas selempangannya. Dia memasuki kamar mandi, saat ini tinggal Lia yang harus menunggu, setidaknya Dia juga harus menghargai wanita itu.
Akibat posisi kursi yang begitu tinggi, bahkan kaki Lia saja tak bisa menyentuh tanah saat duduk, Lia mengayunkan kakinya hanya untuk mengisi waktu semata. Dia sangat tahu kalau wanita yang berada dalam kamar mandi pasti membutuhkan waktu yang banyak, dari mengeluarkan panggilan alam juga membenarkan make up pada wajah, seperti Lia tadi.
Musik dari restoran, sampai ke telinga Lia. Dia sedikit menikmati musik tersebut yang bergenre Rock. Banyak pria yang mengunjungi restoran ini karena desainnya lebih terlihat cool yang sangat cocok untuk para pria. Lia menatap pada pintu kamar mandi, sudah sekitar 20 menit dirinya menunggu, tetapi wanita itu belum saja keluar.
Lia tak menyangka akan menunggu selama ini. Punggungnya sudah lelah duduk dengan tegap tanpa adanya sandaran. Lia beranjak, hendak membuka pintu tersebut. Hanya saja, sebuah suara begitu mengangetkan Lia, sehingga wanita itu berhenti melangkah.
Seperti suara tamparan. Namun, tak ada seorangpun yang berada di dalam kecuali Dia. Apa ada orang yang menyusup untuk menyakiti wanita itu? Sangat tak mungkin. Lia melihat sendiri tak ada celah yang bisa membuat seseorang akan masuk.
Tangan Lia terangkat, hendak mengetuk pintu kamar mandi. Sekali ketukan, terdengar suara interupsi. Lalu, pintu terbuka. Penampilan wanita itu kini berubah, bukan bertambah cantik ataupun bertambah rapih, kini justru sebaliknya. Lia meringis kecil, rambutnya acak-acakan seperti pakaian yang menumpuk, juga pipinya terdapat bekas tamparan.
Seperti habis terkena rundingan saja.
"Ada apa denganmu?'' tanya Lia dengan anehnya.
Bukannya menjawab, wanita itu justru menangis dengan suara hang sangat kuat, membuat telinga Lia menjadi sakit saja. Wanita itu langsung berlari dengan kencangnya, memasuki markas. Lia menggeleng kecil. Sedikit-sedikit, dia mulai mengerti alur skenario nya saat ini.
"Huh. Sepertinya, Aku harus menyiapkan seribu jenis kesabaran." Lia ikut memasuki markas. Dilihatnya, hampir semua orang menatapnya dengan marah. Aura yang berada dalam ruangan ini juga tampak lebih panas.
Dengan santainya, Lia duduk di samping Brian. Pria itu tampak tak peduli dengan apa yang terjadi saat ini, begitu juga dengan Lia yang tak akan pernah peduli.
"Kau membuat masalah?" tanya Brian dengan suara kecilnya, Dia bahkan tak mengalihkan pandangannya dari gadgetnya.
"Tidak," jawab Lia dengan jujurnya. Tangannya mengambil sebuah kertas yang tebal, mengibas nya dengan kuat, sehingga angin mengumpul menyerang kulitnya.
Kevin berdiri. Wajahnya tampak datar dan Lia melihat, tak nada emosi yang tersirat. Lia yakin, Kevin adalah kekasih dari wanita tadi, duduknya saja berdekatan. Lia menyambut kedatangan Kevin dengan senyum manis, Dia tampak biasa saja saat di intimidasi oleh banyak orang di sini. Kevin duduk di depan Lia, sebelum itu Dia melirik ke arah Brian hanya untuk meminta persetujuan saja.
"Apa saja yang kau lakukan di kamar mandi?" tanya Kevin, dengan nada bicara yang kurang bersahabat.
"Tentu saja untuk membuang hajat kecil yang terus memanggil ku," jawab Lia dengan jujur.
Tentu saja Kevin tak langsung percaya. Ucapan Lia yang begitu santai membuatnya aneh. Lia bahkan tak takut sekalipun kepada orang-orang buang saat ini marah padanya. Isak, 'kan tangis dari kekasihnya, mampu menyadari Brian dari lamunannya. "Lalu, mengapa pacarku menjadi seperti itu?"
"Mana Aku tahu."
Hampir semua orang akan menjatuhkan rahangnya saat mendengar ucapan Lia. Disaat semua orang ingin mendengar pembelaannya, Dia justru tak peduli.
"Kau menuduh ku?" Lia mengedarkan pandangannya dan menatap seluruh orang dengan beraninya. "Kalian juga? Huh, Aku saja tak tahu mengapa Dia jadi seperti itu. Mungkin saja terkena siksaan setan.''
"Apa kau bilang!" Hampir saja Kevin membentak Lia, jika tak melihat tatapan tersirat dari Brian.
"Ya. Siapa lagi yang melukainya di kamar mandi jika bukan setan. Aku dengar, kamar mandi adalah habitat setan."
"Ya, setan nya adalah kau." Lia lambsung memukul bahu Brian denga kerasnya. Enak saja dirinya dikatakan setan. Lia juga gak menyukau nongkrong di kamar mandi dalam waktu yang lama.
"Enak saja."
"Berbicaralah dengan obyektif. Jangan membuatku semakin geram, Lia."
"Lalu, kau saja tak percaya ucapanku kalau setan yang melukainya. Ingat, manusia itu tak dapat dipercaya. Lebih baik, kau lihat sendiri kejadiannya dengan cctv yang terpasang. Apa gunanya cctv? Hanya untuk pajangan saja? Noh, lihat sana rekamannya."
Semua pandangan berubah untuknya. Tak ada lagi kemarahan. Dari ucapan Lia yang tak keberatan jika mereka melihat cctv sebagai bukti, membuat mereka tahu kalau Lia bukanlah pelakunya. Kevin beranjak, dia mengambil sebuah laptop yang ada dalam tas nya. Membuka rekaman cctv.
Sedangkan Lia, dia sedang asik mengeluarkan kotoran di kukunya. Sedikit geram karena kukunya yang sangat panjang saat ini. Lia tak menyukai kuku panjang, sepertinya dia harus mengguntingnya nanti. "Bagaimana? Huh, Aku bahkan tak memiliki waktu yang banyak untuk melukainya. Dia menghabiskan 20 menit di dalam kamar mandi, entah ngapain saja." Lia berucap tanpa mengalihkan pandangannya.
Berulangkali, Kevin terus mengulangi rekaman tersebut. Memang benar adanya kalau tak ada waktu dan tempat yang pas, sehingga Lia tak bisa dicurigai sebagai pelaku di sini.
Lia melirik sejenak ke ara wanita itu. Memang firasatnya gak oernah main-main, Lia bahkan sudah merasakan sesuatu yang buruk sebelumnya. Untung saja, Lia sudah waswas dan melihat ada cctv yang tersembunyi di depan kamar mandi.
'Kau ingin menantang ku? oh, tidak bisa.'
TBC
Selasa, 24 November 2020.
Publikasi: Senin, 04 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Ms. Money (END)
Fiksi RemajaIni tentang Lia yang menjadi gadis pecinta uang. Seringkali dia memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan uang, salah satunya adalah memanfaatkan seorang pria kaya yang akan diambil uangnya. Niatnya ingin memanfaatkan, justru menjadi sebaliknya. Li...
