Part 51

570 65 35
                                        

Kalau ada typo tandai ya.

1,2 K

🍭

🍭

🍭

Pria yang baru kemarin dikenalnya itu masih berbicara dengan Pak Ahmad, Guru Fisika. Lia tersenyum kepada Daffa saat dia meliriknya. Lia bisa menebak kalau Daffa adalah siswa baru di sini. Betapa bahagianya Lia, setidaknya dia memiliki teman lagi selain Stella. Apalagi Daffa adalah pria yang sangat baik, tak ada pengaruh buruk untuknya jika dia berdekatan dengan Daffa.

Lia ingin menunggunya. Dia duduk di kursi yang berada di koridor. Pura-pura membaca berita di koran yang berada di kursi tersebut. Sesekali, matanya akan melihat ke arah Daffa. Setiap kali Lia melirik ke arahnya, pasti saja Daffa menyadari dan ikut melihat Lia. Sehingga tatapan mata mereka bertemu.

Saat pak Ahmad telah pergi, Lia langsung menghampiri Daffa. Dia menyapa Lia dengan senyum lembutnya. Bukan tanpa alasan Lia ingin menghampiri Daffa, tetapi ada yang harus diucapkannya kepada Daffa.

"Apakah kau sekolah di sini juga?" tanya Lia.

"Ya. Aku tak menyangka akan sekolah bersama denganmu." Daffa sudah berpenampilan layaknya siswa bersekolah. Baju seragam yang dipakainya juga adalah ciri khas baju seragam sekolah Garuda. Dapat diperkirakan kalau Daffa akan memulai sekolah di hari ini.

"Ngomong-ngomong kau kelas berapa?" Lia melangkah,'kan kakinya. Mereka berjalan seiring. Membelah koridor yang sangat ramai. Banyak lagi bisikan dan pastinya Lia melihat Julia. Wanita itu memotret dirinya yang sedang bersama dengan Daffa. Mengetahui kalau Lia menyadari keberadaanya, Julia langsung kabur entah ke mana.

"Aku masih kelas 11, ku tebak kau juga sekelas denganku?"

"Kau tahu saja." Lia terkekeh pelan. Lia teringat akan sesuatu, dua melupakan Brian. Apakah pria telah membelikannya makanan? Lia harus cepat menghampirinya. Dia tak ingin pria itu tak mentraktirnya untuk hari ini. Lia sangat lapar dan ingin makan, uangnya kemarin sudah dibuat untuk membayar biaya sekolah, membeli paket untuk satu bulan dan juga beberapa kebutuhan utamanya. Akan sangat disayangkan jika Lia memakainya secara cuma-cuma saja. "Apakah kau mulai sekolah hari ini?"

"Tidak. Aku hanya ingin menyelesaikan beberapa surat kepindahan bersama orangtuaku. Mereka sudah pulang, aku ingin melihat sekolah ini terlebih dahulu. Biar hafal."

Tangan Lia terangkat, melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. Jam istirahat masih cukup lama. "Bagaimana jika aku yang akan memandumu, tetapi sebelum itu kita harus ke kantin. Untuk mengisi perut." Lia memegang perutnya. Terdengar suara demo dari para cacing yang berada di usus nya saat ini. Lia jadi tak tega jika para cacingnya harus mati karena kelaparan saja. Bagaimanapun juga, para cacing itulah yang membuatnya miliki tubuh kurus seperti ini.

Tubuh khas wanita Asia timur. Tak memiliki lemak yang menonjol. Namun, berbeda dengan pemikiran orang Indonesia yang tak menyukai tubuh seperti dirinya ini.

"Ayo!"

Meski sedikit ragu, Lia mengajak Daffa ke kantin. Dia sangat takut jika Brian akan marah, mau bagaimanapun juga, Brian adalah kekasihnya. Namun, mengingat hubungan mereka yang begitu hampa dan dirinya seperti dijadikan pelampiasan semata, Lia jadi yakin kalau Brian tak akan marah jika dia membawa seorang pria.

Melihat gerombolan Brian yang tengah asik makan, hanya ada Dewi saja diantara mereka. Lia ingin duduk di meja yang lain, tetapi Brian lebih dulu melambaikan tangan ke arahnya. "Kita akan duduk di situ, bersama dengan teman-temanku." Lia menunjuk pada kelompok Brian yang saat ini semuanya tengah menatap ke arahnya.

Lia dan Daffa menghampiri meja mereka. Lia tersenyum canggung. Merasakan aura yang berbeda saat dirinya datang ke sini. Ada apa? Perasaan tadi mereka tampak bahagia? Apakah kedatangannya tak disukai oleh mereka? Begitu banyak pertanyaan yang membenak dalam dirinya.

"Hai semuanya. Perkenalkan, dia adalah Daffa. Teman ku," ucapnya. Matanya melirik kepada Brian yang asik dengan makanannya. Terlihat sekali saat dia mengunyah bakso, sangat cepat dan kasar sehingga pertemuan giginya terdengar.

"Kau bisa duduk Lia. Aku telah memesankan kau makanan.'' Brian berucap tanpa memandang Lia. Dia masih asik dengan makanannya sendiri.

Lia mengambil tempat duduk. Dia menepuk bangku di sampingnya, mengajak Daffa untuk duduk bersama. "Tak apa, 'kan dia duduk di sini?"

Tak ada yang menjawab diantara mereka. Lia melihat Dewi yang terlihat canggung. Saat tatapan emtrka bertemu, Dewi langsung menerbitkan senyumnya.

"Tentu saja. Lagian meja ini begitu besar."

Hanya ada keheningan, tak ada pembicaraan lebih dari Brian dan teman-temannya, Lia merasa cukup tersisihkan saat ini. Lia menyesal datang ke sini, jika aura yang mereka sebarkan begitu buruk.

Lia menatap pada nasi gorengnya. Tinggal sisa setengah. Rasanya mubazir jika tak dihabiskan, tetapi Lia juga begitu kenyang saat ini. Perutnya terasa mengerat dan lambungnya sudah penuh. "Brian--"

"Aku akan pergi dulu." Brian beranjak, dia melangkah bersama dengan teman-temannya. Tangan Brian selalu merangkul tubuh Dewi, halnitulah yang menjadi objek utamanya.

'Sepertinya nanti akan ada bertita buruk untukku.' Melihat mereka yang bermesraan dan juga Lia bersama Daffa tadi pergi bersama, pasti akan membuat banyak orang berspekulasi buruk, kalau Lia dan Brian pasti telah putus.

"Mereka tidak menyukai aku sepertinya," ucap Daffa. Dia sendiri dapat merasakan bagaimana mereka yang begitu tertutup padanya dan memandang nya tak suka.

"Tidak. Mereka sedikit tertutup. Makanya cukup sulit untuk berteman dengan mereka. Jangan khawatir." Lia menutup tempat makannya. Dia hendak membuangnya, tetapi tangannya ditahan oleh Daffa.

"Makanannya masih banyak. Alangkah baiknya kalau kau menghabiskannya." Lia berpikir sejenak. Suasana hatinya memang sudah kembali membaik, tetapi untuk memaksakan makan, dirinya tak bisa.

"Aku sudah sangat kenyang," keluh Lia.

"Kalau begitu. Kau simpan saja makannya. Nanti bisa dimakan lagi."

Lia berpikir sejenak. Apa yang Daffa ucapkan adalah sebuah kebenaran. Dirinya juga pasti akan merasakan lapar nantinya dan sangat disayangkan jika harus dibuang. Lia mengangguk. Tangannya menggenggam kuat tempat makan dan menaruhnya di dalam plastik. "Ya, sudah. Aku tak akan membuatnya, sekarang ayo! Kita harus berkeliling sekolah ini."

Berkeliling ke sekolah. Lia selalu menjelaskan tiap ruangan juga fasilitas yang ada di sekolahnya ini. Tak terlalu lebar luas tanah sekolah ini, jadi mereka berjalan dengan santainya.

"Di situ ruang musik. Aku tak menyukai ruangan itu sangat pengap sekali." Lia menunjuk kepada sebuah ruangan. Pintunya terbuka sedikit, menampilkan beberapa alat musik dari luar mereka bisa mendengar lagu POP. "Sepertinya mereka sedang berlatih."

Lalu, Lia dan Daffa menaiki tangga. "Ada dua tangga di sini untuk menempuh lantai di atas. Satu terletak di ruang guru, satunya lagi adalah tangga ini."

Daffa mengangguk. Dia selalu mendengar setiap ucapan Lia.

"Bisakah kita menjadi teman? Kurasa kau adalah orang pertama yang me jadi temanku."














TBC

Sabtu, 28 November 2020.



Publikasi: Selasa, 02 Februari 2021.

Ms. Money (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang