Kalau ada typo, tandai ya.
1,23 K
🍭
🍭
🍭
Pertemenan? Biasanya Lia sangat menjauhi hubungan teman, apalagi yang bersangkutan dengan pria. Semuanya sangat ribet. Memiliki teman seperti Stella yang berkepribadian pendiam saja sudah membuat Lia lelah meladeninya, apalagi kalau seorang pria yang pastinya pecicilan dan membuat otaknya lelah.
Namun, berbeda dengan Daffa. Pria yang membawa aura positif nya itu, seolah memiliki sesuatu yang sama dengan dirinya. Lia merasa, saat di dekat Daffa dirinya menjadi lebih baik lagi. Daffa juga tipe orang yang baik, membuat Lia menjadi nyaman di dekatnya.
"Tak masalah. Aku senang jika berteman denganmu," ucap Lia dengan senangnya. Tak dapat dibayangkan dirinya bagaimana reaksi Stella setelah mengetahui kalau Lia sudah memiliki teman baru, selain dia. Pasti Stella akan terkejut dan sangat tak percaya.
Stella selalu menilai Lia sebagai seorang ...
No life
Hidup tanpa alasan yang jelas. Semakin lama, Stella akan menceramahi Lia dengan kalinat pedas-pedasnya. Oleh karena itu, Lia ingin membuktikan kalau dirinya bisa juga berinteraksi dengan orang lain.
Wajah Lia tampak berbeda hari ini. Banyak orang yang merasa heran. Tak ada wajah muram yang biasa Lia tunjukkan, justru Lia saat ini terlihat sangat bahagia. Mereka yakin kalau penyebab Lia bahagia adalah pria tampan di sebelahnya, Daffa.
"Gila. Brian dan Lia sudah putus."
"Ini adalah berita paling heboh. Aku rasa Lia berselingkuh, makanya hubungan mereka telah berakhir."
"Bisa jadi. Astaga, dia adalah wanita yang paling buruk. Aku yakin dia akan menyesal nantinya."
Bisikan demi bisikan berlalu. Tak ada satupun ucapan dari mereka yang masuk dalam hati Lia. "Biarkan saja mereka. Mereka adalah orang yang iri saja. Nanti, kalau ku tegur juga mereka pasti menggigil.''
Daffa mengangguk. Dia sedikit tak nyaman saat sindiran yang memgarah untuk Lia dilayangkan. Apalagi banyak yang menyindirnya adalah wanita. Mula-mula, Daffa tak ingin begitu mendengarnya. Namun, dia sudah tak tahan saat mereka mengucapkan kata-kata kotor untuk menggambarkan Lia. Daffa maju selangkah, dagunya diangkat setinggi mungkin.
"Kalian adalah para wanita. Harusnya kalian menjaga aib teman, bukannya diumbarkan. Apakah begini prilaku seorang pelajar? Membicarakan orang lain dengan buruknya, apalagi perkataan kalian hanya sekedar fitnah saja." Lia memegang tangan Daffa. Sungguh, dia tak ingin membuat citra Daffa menjadi buruk karenanya. Lia menggeleng pelan saat Daffa melihat ke arahnya.
"Disaat kalian sibuk mengurusi Attitude orang lain yang buruk. Tanpa sadari, bahwa kalian lebih buruk dibanding dengan orang yang kalian bicarakan." Daffa menarik tangan Lia dan membawanya pergi drai koridor yang sangat ramai. Ucapannya tentu saja tak akan membawa dampak untuk mereka.
Menasihati orang yang keras kepala adalah sesuatu yang sia-sia. Mereka tak akan berubah, tetap percaya pada fitnah dan mengenyahkan kebenaran. Daffa tak tahu bagaimana citra Lia di sekolah ini sehingga mendapatkan ujaran kebencian. Namun, Daffa bisa melihat sikap Lia yang ramah dan juga tak munafik, membuatnya yakin kalau Lia adalah orang yang baik.
"Aku sungguh tak menyukai perbincangan yang menyebabkan perdebatan. Namun, kalau mereka mengungkapkan suatu kebohongan dan hanya fitnah, aku akan angkat suara. Mereka hanyalah semut, yang menyerang dengan ramai-ramai. Namun, berbeda jika mereka sendiri, mungkin akan kabur," ucap Daffa. Mereka berhenti berjalan, duduk di kursi taman. Taman yang menunjukkan keindahan bunga-bunga dengan warna yang berbeda. "Kau tahu, aku jauh lebih menyukai orang yang ber-etika dibanding orang yang berilmu."
"Kita tak kenal lama, mengapa kau bisa mengenal kalau aku adalah orang yang ber-etika. Seperti yang ada dalam pikiranmu?" tanya Lia. Dia sedikit menjauhkan duduknya, hanya untuk menghindari fitnah lagi yang akan trending topik saja.
"Siswa-siswi yang berada di sekolah mu ini, adalah orang yang sangat lama mengenalmu. Lalu, mengapa mereka memiliki pemikiran buruk terhadap dirimu? Ini bukan untuk urusan waktu, aku bisa mengenalmu dengan baik, karena kau adalah wanita yang berusaha mengedepankan etika dibanding dengan prestasi. Terbukti saat kau dihina, kau tetap diam, karena bagimu menyanggah akan sama saja dengan sia-sia." Daffa berucap. Melihat Lia yang terdiam, masih memikirkan ucapannya yang begitu panjang, membuatnya tersenyum kecil. Dia melihat ke arah jam tangannya. "Sudah waktunya aku akan pulang. Ku harap, besok kita akan bertemu lagi."
Lia hanya menatap kepergian Daffa. Sesekali dia akan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ucapan Daffa selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Memang benar apa yang dia katakan, kalau Lia tak pernah menunjukkan sifat aslinya hanya karena dianggap munafik. Jika Lia akan terus menyanggah ucapan para oembencinya, yang ada hanya mendapatkan serak saja di tenggorokannya.
Percuma berbicara dengan orang yang keras kepala.
"Kau benar. Terimakasih atas ucapannya yang sangat memotivasi diriku ini." Lia bangun dari duduknya. Melangkah menuju ke gedung sekolahnya. Suasana sangat sepi di koridor. Apakah bel masuk telah berbunyi? Lia tak mendengar sedikitpun suara bel.
Saat asik dengan lamunannya, tiba-tibabada seseorang yang menarik tangannya. Ingin rasanya Lia berteriak sebagai bentuk pemberontakkannya, tetapi mulutnya langsung dibekap kuat oleh seseorang.
Tubuh Lia dibawa menuju ke tempat yang cukup sepi. Lia telah menyiapkan pisau dalam kantung nya. Jika orang itu berani menyakitinya, maka tak akan segan-segan Lia menghabisinya.
Orang itu mendorong pelan tubuh Lia. Mendorong ke tembok. Saat itulah, Lia tahu kalau orang itu adalah Brian. Tatapannya penuh kemarahan dan juga datar.
"Ada apa?" tanya Lia dengan santainya. Dia tak begitu terhipnotis dengan tatapan penuh kemarahan milik Brian.
"Kau berdekatan dengan pria lain," ucap Brian dengan seraknya. Terdengar suara gesekkan antar gigi.
Pria telah telah berada di puncak emosinya. Lia harus berhati-hati.
"Aku dan Daffa hanyalah teman biasa, kau harus tahu. Percayalah. Lagian juga, selama ini kau tak pernah melarang ku, 'kan untuk berdekatan dengan. Seorang pria." Lia mendorong tubuh Brian dengan kuatnya. Jarak meteka tadi begitu dekat, membuat Lia sedikit tak nyaman.
"Sampai hari ini, kau belum membuat peraturan. Jadi dalam hubungan kita, aku yang bebas. Satu lagi, jika aku memperbolehkan mu untuk dekat dengan Dewi, maka sebaliknya kau juga harus memperbolehkan aku dekat dengan Daffa. Bagaimana? Hubungan kita sangat adil, bukan?" Lia menyeringai, Brian terdiam saat ini, seolah tak bisa menyanggah ucapannya.
"Jadi, kau ingin aku harus membuat peraturan untukmu?" tanya Brian.
Lia mengangguk. "Ya. Peraturan ditentukan oleh mu, tetapi ingat jangan sesuatu yang berlebihan." Lia menepuk pelan bahu Brian dan pergi dari situ.
Meninggalkan Brian yang tengah melamun saat ini. Memikirkan berbagai peraturan yang akan dibuatnya untuk Lia.
"Tunggu aku. Kau pasti akan menuruti setiap peraturan ku."
TBC
Sabtu, 28 November 2020.
Publikasi: Rabu, 03 Februari 2021.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ms. Money (END)
Dla nastolatkówIni tentang Lia yang menjadi gadis pecinta uang. Seringkali dia memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan uang, salah satunya adalah memanfaatkan seorang pria kaya yang akan diambil uangnya. Niatnya ingin memanfaatkan, justru menjadi sebaliknya. Li...
