Part 54

583 56 12
                                        


Kalau ada typo tandai ya

1,3 K

🍭

🍭

🍭

Pepohonan saling bergoyang, mengikuti alunan angin yang cukup besar. Ranting-ranting terhiasi oleh daun pun ikut melambaikan tangannya kepada siapapun. Buah-buah yang menjadi pencarian utama di sebuah pohon telah berjatuhan. Tanah tersebut sangat kotor akibat dedaunan dan sampah Anorganik.

Di kota ini, menemukan sebuah sampah adalah sebuah hal yang dipandang biasa. Tak ada rasa toleransi yang besar untuk membuang sampah-sampah tersebut. Kota di Indonesia yang paling sering mengalami banjir. Teguran Tuhan untuk memberikan musibah pun tak menjadi penghambat untuk mereka.

Selain sampah, asap yang diciptakan kendaraan atau dari pabrik, juga ikut mencemarkan langit. Tak ada warna biru dari kangit atau awan putih bagaikan kapas yang menghiasai langit. Saat ini, banyak udara kotor yang tercemar sangat luas.

Keegoisan beberapa orang akan menyebabkan kerusakan untuk seluruh orang.

Tak ada henti-hentinya manusia membuat kerusakan untuk bumi ini. Seperti halnya yang terjadi pada taman, Lia menatap kasihan kepada penyapu jalanan. Harus menahan terik matahari atau udara kotor di siang ini. Banyak sekali sampah yang berserakan di jalanan, bahkan di taman ini saja ada banyak sampah.

Tangan Lia sudah sangat gatal. Dia ingin sekali mengambil sampah-sampah tersebut dan membuangnya dalam kotak sampah. Ada 2 jenis kotak sampah di sini, organik dan anorganik.

Seringkali Lia melihat orang yang tak peduli. Ada beberapa orang yang akan membuang sampah plastik di kotak sampah bagian Organik. Orang di kota ini tak terlalu peduli kepada kesehatan lingkungan, padahal sudah banyak edukasi dari berbagai macam media yang ditampilkan, tetapi tetap saja tak ada perubahan.

"Jangan menatap sampah terus." Brian berucap. Tangannya memegang dua piring yang berisi Sosis dengan dihiasi oleh saus cabai juga saus mayones. Brian mengambil tempat duduk di sebelah Lia, dia memberikan piring yang berisi 4 sosis tersebut kepada Lia.

Tentu saja Lia langsung mengambilnya. Dia sudah terhipnotis oleh aroma wangi dari sosis terse ut. Mulutnya tak berhenti mengunyah. Setiap satu suapan, tentu saja porsinya akan besar. Meski sudah banyak makanan yang memasuki lambungnya, sampai saat dirinya belum juga merasakan kenyang.

Empat sosis telah habis dalam waktu yang snagat singkat. Berbeda dengan Brian yang baru saja memakannya satu sosis saja. Brian memang tipikal seorang yang sangat lama dalam makanya. Dia seperti mengunyah sebanyak 33 kali agar dapat membantu penyerapan nutrisi di usus halus.

Brian menaruh piringnya ke paha Lia, menyuruh wanita itu yang menghabiskannya. Mengunyah dengan sangat lama, membuatnya cepat kenyang dalam sekejap. Lagian juga, Brian telah makan sedari tadi, jadinya perut Brian saat ini telah kenyang.

"Kau memang selalu mengerti diriku ini," ucap Lia. Mulutnya masih penuh dengan sosis pemberian Brian. Seperti biasa, pola makan Lia yang terkesan cepat-cepat akan membuat saus menodai sekitar pipinya.

Tisu yang ada di atas kursi, Brian ambil. Dia langsung mengelap seluruh noda makanan yang tersebar di wajah Lia. Seperti anak kecil yang sedang diurus oleh ayahnya, itulah penggambaran yang tepat untuk mereka.

Saat ini, Lia tampak biasa saja. Saat dirinya disentuh Brian. Bukan karena sudah biasa, tetapi karena pria itu yang menggunakan tisu. Brian sangat tahu kalau Lia sangat tak menyukai Brian menyentuhnya di tempat-tempat tertentu, termasuk wajah.

Oleh karena itulah, Brian selalu membawa tisu untuk membersihkan wajah Lia yang selalu ternodai makanan. Tisu bekas membersihkan noda makanan Lia, langsung dibuang asal oleh Brian.

Hal itu membuat mata Lia melotot tak percaya. Dia mengunyah makanan dalam mulutnya dengan cepat dan mengambil minuman. "Hey. Jangan membuang sampah sembarangan. Lihatlah itu, dia sudah membersihka taman ini sedari tadi. Setidaknya, hargai dia." Seorang wanita paruh baya, memegang sapu lidi. Wajahnya terlihat sangat lelah, tubuhnya sudah membyngkuk.

Lia sangat tak tega melihat wanita itu. Dia beranjak, menaruh piring yang telah kosong kekursi dan membuang sampah tisu tersebut ke tempatnya.
"Memang benar kata orang-orang. Negara ini tak membutuhkan orang pintar lagi, tetapi membutuhkan orang yang jujur," ucap Lia. Matanya menatap dengan tajam kepada Brian yang justru tampak tak merasa bersalah sedikitpun.

"Aku lupa. Lagian juga kotak sampah jaraknya sjagat jauh," ucap Brian dengan alasannya.

"Kau masih muda. Namun, untuk jalan beberapa meter saja tak mampu."

"Mengapa kau menjadi marah seperti itu?" Brian tampak kesal. Hanya dengan masalah sampah saja, mereka harus berdebat panjang dan lebar.

"Kau yang membuat masalah. Setidaknya hargai orang lain. Bayangkan! Bagaimana jika ibumu yang berada di posisi wanita itu? Pasti kasihan, 'kan?" Napas Lia tampak berkejar-kejaran. Suasana diantara metdka tampak sangat panas. Bertengkar kecil seperti ini adalah sebuah hal yang biasa. Lia dan Brian memiliki sifat yang berbeda jauh, atas perbedaan itulah yang membuat mereka sering berdebat.

Tentang ucapan Lia, sangat memasuki jati Brian. Tanpa perlu disuruh, otaknya sudah membayangkan bagiamna ibunya sendiri yang bekerja keras dan justru banyak orang yang meremehkan pekerjannya. Hatinya sakit, tentu saja. Tak ada seorang anak yang tak sakit saat melihat orangtuanya yang menderita. "Maaf." Akhirnya Brian menyerah, dia hanya bisa mengucapkan maaf, karena Brian tahu bahwa dirinyalah yang salah saat ini.

"Lain kali, kau harus berpikir lagi sebelum bertindak. Aku sangat kecewa tadi," ujar Lia. Emosinya masih belum mereda akibat dari perdebatan mengenai sampah.

"Baiklah, sekarang ku mohon, lupakan masalah tadi. Ayo, kita makan Papeda atau Siomay. Aku yakin, kau maish lapar." Brian berharap, Lia akan melupakan kejadian tadi. Dengan iming-iming makanan pasti wanita itu akan melupakan kejadian tersebut.

Lia mengangguk. Dia sudah sangat tak sabar untuk menikmati makanan lagi. Setelah mengamuk tadi, tenaga Lia kembali habis dan dia membutuhkan makanan untuk menambah energinya kembali.

"Pesan siomaynya Rp. 20.000 dibagi dua piring." Brian memesan makanan. Mereka langsung mengambil tempat duduk dan menunggu pesanan.

Ini adalah kali pertama untuk Brian. Tak pernah sekalipun dalam dirinya makan di jalanan, dia hanya ingin merasakan sesuatu yang tak biasa dalam hubungan ini.

Seperti sebelumnya. Hubungan Lia dan Brian kembali membaik. Sering ada canda tawa yang meliputi kebahagiaan mereka. Ssperti tak ada masalah pada sebelumnya.

"Kau tahu, aku adalah pria yang sangat tampan.''

"Aku juga adalah wanita yang sangat cantik," ucap Lia.

"Apa iya?"

"Kau tak percaya, 'kan?"

Brian mengangguk.

"Sama, aku juga tak percaya. Bagiku, pria tampan itu seperti Zayn Malik." Lia berucap dengan nada meremehkannya.

"Menurutku juga, kau tak secantik Gigi Hadid."

Lia hanya bisa menatap datar kepada Brian. Memang jika disandingkan dengan Gigi Hadid, maka Lia akan kalau. Supermodel yang dikenal seluruh dunia ingin dibandingkan dengan Upik Abu sepertinya?

"Ya. Aku tahu."

Tatapan mata Lia beralih. Dia memicingkan matanya saat melihat Tika yang bersama dengan teman-temannya. Tangan wanita itu memegang ....

Rokok?













TBC

Sabtu, 28 November 2020.

Publikasi: Jumat, 05 Februari 2021.

Ms. Money (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang