Kalau ada typo tandai ya.
1,5 K
🍭
🍭
🍭
Dalam kedatangan tamu semalam. Lia diperkenalkan sebagai pembantu atau anak pembantu. Lia tak masalah, lebih baik dia memiliki orang tua seperti Bibi Siti yang baik hati, dibanding memiliki Reza dan Clara sebagai orangtuanya. Orang tua yang sekalipun tak pernah menjaga dan membimbingnya.
Entah apa alasan ayahnya untuk melakukan hal tersebut, Lia juga tak tahu. Semakin hari, sifat ayahnya semakin dingin. Apakah sifatnya terpengaruh dari Clara? Iblis itu memiliki lidah yang sangat manis, sangking manisnya Lia ingin sekali memotong lidahnya dan memberikan pada hewan karnivor.
Lia membersihkan seluruh makanan dari makan malam para tamunya. Sangat banyak pekerjaan malam ini yang harus dibereskan nya. Sedari tadi, Bibi Siti sudah memintanya untuk pergi dan beristirahat saja, tetapi dengan tegasnya Lia menolak. Dia ingin membantu Bibi Siti yang tampak sudah kelelahan. Lia tak mungkin melupakan jasa Bibi Siti, selama hidupnya, dia selalu diurus olehnya. Ibunya sampai kini belum kembali, membuat peran seorang ibu harus berpindahtangan ke Bibi Siti.
Clara tak akan sudi mengurus dirinya ini. Clara adalah orang yang rasis, dia tak menyukai siapapun orang yang memiliki darah Asia Timur. Lia sendiri blasteran Indonesia dan Taiwan, mungkin karena alasan itulah yang membuat Clara membencinya.
Seringkali, Clara menghinanya karena memiliki mata yang sipit. Saat itu, Lia ingin sekali mengumpat wanita yang menjadi ibunya itu. Apakah dia buta, kalau mata Lia ini tak terlalu sipit? Bahkan di negara ibunya, mata Lia ini termasuk besar, berbeda jika tinggal di Indonesia yang memiliki lipatan mata ganda. Namun, bukan hanya Clara saja yang sering menghinanya seperti itu, banyak orang lain yang menghinanya sebagai 'orang cina' karena bentuk tubuhnya.
Tubuh tinggi.
Kurus.
Kulit mulus dan putih.
Bibir tipis.
Mata sipit.
Lia sampai sudah malas jika bertrmu dengan orang asing lagi karena mereka selalu menilainya buruk, hanya dengan sekali sekali pandang.
"Kita harus mensyukuri nikmat Tuhan," ucap Bibi Siti. Beliau sangat mengerti bagaimana perasaan Lia yang selalu dihina. Tangan Bibi Siti menyentuh permukaan kulit Lia dan mengelusnya pelan. Senyum lembut bagaikan seorang malaikat untuknya, dapat menenangkan Lia.
"Selama ini, Bibi selalu mengawasimu. Jangan pernah patah semangat jika dunia ini jahat. Selama ini, kau melakukan hal yang benar dengan membuktikan kalau kau adalah wanita yang sangat kuat," ucap Bibi Siti.
Lia tersenyum kecil. Dia mengangguk dan berbalik. Benar apa yang Bibi Siti katakan, harusnya sampai saat ini dirinya harus mensyukuri nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan untuknya. Dia ingat sekali kata-kata Bu RA Kartini yang dapat memotivasinya.
"Habis gelap terbitlah terang."
Ada rasa semangat dalam hatinya. Tinggal menghitung tahun, Lia berencana akan pergi. Senyum selalu terpampang jelas di wajahnya, dia tampak sangat bahagia saat ini.
"Semua akan indah pada waktunya."
***
Hari libur adalah hari yang paling Lia senangi. Seperti ada sebuah kebahagiaan sendiri saja, saat dirinya tidur di ranjang yang cukup empuk dan tak diganggu oleh siapapun. Lia yang sedari tadi asik berkelana dalam mimpinya, tak memperdulikan setiap aktivitas yang ada diluar ruangan.
"Lia. Bangun kamu!" Suara tegas dan juga keras berhasil membuat mata Lia sepenuhnya terbuka. Dia bangun dari tidurnya, membenarkan ranjangnya gang berantakan dan penampilannya. Setelah selesai, dia membuka pintu. Melihat ayahnya yang melotot tajam ke arahnya. Lia meringis kecil. Apalagi kesalahannya malam ini?
"Ada apa, Ayah?" tanya Lia. Dia maju selangkah dan menutup pintu kamarnya.
"Jangan jadi gadis pemalas. Bantu Bibi Siti untuk membereskan rumah ini. Ayah sangga muak padamu yang sangat pemalas." Ayahnya berucap dengan marah. Di belakang Reza terdapat Clara yang selalu mengikuti Reza sedari tadi.
Lia jadi heran, sebenarnya Clara itu Iblis apa parasit, ya?
"Maaf, Ayah. Aku ketiduran." Setelah mengucapkannya, Reza dan Clara pergi. Clara sempat menengok ke belakang, dengan cepat Lia langsung menghinanya dengan ekspresi yang terlihat menjijikkan. Clara melotot tak percaya, dia memberikan tatapan tajam pada anak tirinya tersebut.
Clara menunjukkan kepalan tangannya kepada Lia. "Lihat saja nanti, aku akan memberimu pelajaran." Clara berucap tanpa adanya suara yang keluar. Meski begitu, Lia tetap mengerti ucapan Clara.
"Akan ku tunggu," ucap Lia yang tak mengeluarkan suara juga. Lia sangat tahu, emosi Clara sudah terpancing hanya dengan ucapannya.
"Betapa menyenangkannya mengganggu dia." Clara beranjak. Dia melangkah menuju ke dapur, membantu Bibi Siti di Pagi hari ini.
"Hai, Bibi." Lia menyapanya dengan senyum ceria.
"Hai, Lia." Bibi Siti berucap, dia sedang memasak ayam yang di opor.
Tumpukkan cucian piring begitu banyak sekali, membuat mata Lia merasa sakit melihatnya. Dia beranjak, dan mulai membersihkan setiap piring. Pekerjaannya selesai dalam waktu yang cepat. Lalu, Lia mengambil sapu dan membersihkan lantai.
"APA MAKSUDMU!"
Teriakan itu sangat mengangetkan Lia. Bahkan Lia sampai menjatuhkan sapu yang dipegangnya tadi. Matanya mengarah ke pintu, ada apa di sana. Ayahnya terdebgar sangat marah. Apa karena masalahnya tadi yang memghina Clara? Kalau iya, matilah dirinya.
Kaki Kia melangkah. Dia sangat ingin tahu kejelasan ayahnya marah. Kalau marah sama dirinya, mengapa ayahnya tak menghampirinya?
Suara tersebut tersmdengar dari arah pintu masuk. Lia berjalan dengan pelan-pelan, berusaha untuk tak menimbulkan suara. Setelah sampai, dia bersembunyi di balik pilar yang cukup besar hingga tubuhnya tertutupi.
Samar-samar, Lia melihat beberapa polisi yang datang. Siapa yang mau mereka tangkap? Tak ada satupun anggota keluarganya yang sering melakukan tindak kriminal, meski mereka sering menyiksanya.
"Anak kami tak pernah sekalipun mengkonsumsi obat-obatan yang kau katakan," ucap Clara. Wajahnya sudah merah akibat rasa marahnya saat ini, dia sangat tak suka jika putrinya harus di tuduh seperti itu.
"Putri kalian dianggap tersangka dalam kasus ini. Cepat panggil, putri kalian." Salah satu polisi berucap.
"Tidak. Kami tak mengizinkan kalian untuk masuk." Reza memundurkan langkahnya, hendak untuk menutup pintu.
Namun, dia kalah cepat karena para polisi tersebut sudah lebih dulu menahan dan mendorongnya. Melihat keras kepalanya kekuarga tersangka, membuat mereka sedikit kesal, cara sedikit kasar akan mereka lakukan untuk menangkap salah satu tersangka.
Para polisi tersebut memasuki rumah. Lia yang masih bersembunyi hanya bisa menahan napas saja. Tak menyangka kalau saudarinya telah melakukan tindak kejahatan, mengkonsumsi obat-obatan? Astaga, Lia tahu pasti yang dimaksud adalah Tika.
Lia harus menemukan jawabannya. Oleh karena itu, dia mengikuti para polisi tersebut. Mencari keberadaan Tika, keliling rumah ini. Salah satu polisi pun mengecek kamar Tika dan Lia pun mengikutinya.
Matanya melotot saat melihat pemandangan apa yang dilihatnya pada kamar Tika.
Wanita itu sedang mengkonsumsi narkoba?
.
..
TBC
Minggu, 29 November 2020.
Publikasi: Selasa, 09 Februari 2021.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ms. Money (END)
Teen FictionIni tentang Lia yang menjadi gadis pecinta uang. Seringkali dia memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan uang, salah satunya adalah memanfaatkan seorang pria kaya yang akan diambil uangnya. Niatnya ingin memanfaatkan, justru menjadi sebaliknya. Li...
