Kalau ada typo, tandai ya.
1,34 K
🍭
🍭
🍭
Lia kembali memfokuskan pandangannya. Dia tak salah lihat, orang itu adalah Tika, kakak tirinya. Rasa ingin tahu menyeruak dalam diri Lia, rokok yang ada di tangan wanita itu adalah sebuah bukti kenakalannya. Apa Tika juga sama dengan Lisa yang sudah terhipnotis dalam lubang pergaulan bebas? Sepertinya benar. Saat ini, Tika dan teman-temannya sedang duduk di salah satu kursi taman. Tika mulai membuka bungkus rokok tersebut bersama dengan teman-temannya dia merokok.
Saat Tika mengedarkan pandangannya ke seluruh taman ini, Lia langsung mengalihkan tatapannya dan duduk sedikit menyerong ke arah Brian yang ada di samping kanannya. Lia harus bisa menyembunyikan dirinya. Dia tak ingin tertangkap oleh kakaknya, dan Tika akan playing victim kalau Lia lah yang salah.
Lia kembali melanjutkan makan siomay nya dengan waktu relatif cepat. Dia mengambil teh botol saat sudah menyelesaikan makannya. "Habis ini aku ingin pulang." Lia membisikkan Brian.
Sedikit rasa heran dalam diri Brian. Bukankah Lia sudah menikmati waktu sore hari ini? Mengapa jadi Lia ingin cepat-cepat pulang? Meski banyak pertanyaan dalam pikirannya, tak urung Brian mengangguk, menuruti keinginan Lia.
Uang Rp. 20.000 Brian taruh di atas meja, seraya memanggil penjual dari siomay. Mereka langsung pergi dari tempatnya. Rasa takut kembali muncul dalam diri Lia saat tahu kalau mereka akan melewati keberadaan Tika. Lia langsung memberhentikan langkahnya, dia tak ingin kakaknya itu menemuka. Lia bersama dengan Brian.
Bahkan Brian saja sudah melangkah ke depan, tak menyadari kalau Lia sudah berhenti. Lia harus mencari jalan pintas yang lain, tak peduli jika jalannya lebih panjang yang terpenting Lia bisa menghindari Tika. Lia memundurkan langkahnya, mulai berbalik dan berlari secepat mungkin menuju ke arah parkiran motor. Sangat jauh, karena Lia harus memutar taman ini agar cepat sampai.
Tak lupa, Lia juga berusaha menyembunyikan wajahnya, menggunakan rambut. Hanya rambut panjang dan lebatnya saja yang bisa membantu Lia saat ini. Di saat yang begitu mengkhawatirkan.
Kaki Lia berhenti berlari lagi. Dadanya yang kembang kempis akibat napas yang tak beraturan, menyatakan kalau dirinya sudah lelah. Beruntung Lia tadi habis makan, jadinya tenaga dalam dirinya masih banyak dan bisa digunakan. Tatapannya saat ini tertuju pada Brian yang sepertinya tengah kesal dan marah, pasti sebabnya Lia. Lia meringis kecil, dia melangkah mendekati Brian. Setiap langkahnya, tak lupa Lia bergumam tak jelas, hanya sebagai pelampiasan kekesalannya.
Berada di belakang Brian, sampai saat ini pria itu belum juga menyadari keberadaannya. Tangan Lia terangkat, ingin menyentuh bahu Brian, tetapi dengan cepat pria itu langsung maju, sehingga dirinya gagal.
"Ke mana wanita itu?" Sejak tadi, Brian mencoba untuk menghubungi Lia, tetapi tak pernah ada jawaban yang didapatnya, hanya suara operator saja yang mengganggunya.
Tangan Lia masuk ke dalam kantung seragam sekolahnya. Dia menepuk pelan keningnya, batrai ponsel nya telah habis dan mati. Lia kembali menaruh gadgetnya, maju beberapa langkah hingga berada di dekat Brian.
"Brian," panggilnya.
Pria itu langsung berbalik. Napasnya berhembus dengan lega, melihat seseorang yang sedari tadi dipanggilnya dan kini berada di depan Brian. "Mengapa kau kabur?" Mata Brian melotot tajam, berusaha mengintimidasi Lia yang saat ini sedang tersenyum manis, seolah kekhawatirannya tadi hanya sebuah permainan semata.
"Aku ingin mengerjai mu saja." Lia menjawab dengan entengnya. Dia hanya tak ingin jika Brian mengetahui masalah yang selama ini disembunyikannya. Hanya masalah keluarga biasa dan Brian masihlah asing dalam hidupnya.
"Enak sekali kau menjawabnya." Jari tangan Brian mengapit kuat hidung Lia, hingga wanita itu berteriak kecil dan memukul tangan Brian.
"Lepas. Ayo, kita pulang. Matahari akan terbenam." Brian terkekeh geli saat melihat hidung Lia yang merah sempurna, penggambaran tepat seperti badut.
"Mengapa kau begitu lucu?"
***
Malam ini, ada tamu yang cukup dihormati datang ke rumah Lia. Untuk hari ini, Lia akan membatu Bibi Siti untuk menyajikan pangan untuk tamu. Lia tak masalah jika membantu membuat makanan saja, lagian juga dirinya sedang tak memiliki pekerjaan.
Setiap makanan di saku dengan baik. Makanan khas Indonesia lah yang paling mendominasi. Lia saja sempat tergiur setelah melihat makanannya, napsu makan Lia yang begitu besar, membuatnya harus menahan napsu nya atas semua makanan lezat di depannya ini.
Makanan telah tersaji di meja. Bahkan kudapan telah tersedia. Entah tamu macam apa yang akan tangan, Lia juga tak ingin tahu, tetapi dia yakin kalau tamunya pasti sangat terhormat sehingga ayahnya menyiapkan penyambutan yang sangat baik.
Lia menunggu di meja makan, dia takut kalau akan ada kucing nakal yang akan membabat habis makanan di sini. Mungkin ini adalah ujian terbesar untuknya, karena Lia harus menahan napsu di depan objeknya.
Sekitar memunggu 20 menit, Lisa datang dengan dress indahnya. Penampilan Lisa begitu terbuka, sampai tak menyadari ada sebuah bercak merah di lehernya. Lia menggelengkan kepalanya pelan, apa Lisa begitu polos hingga tak menyadari hal itu? "Aku tak tahu kalau kau begitu bkdoh," ucap Lia tanpa menatap Lisa, dia hanya fokus pada ponselnya kini.
"Apa maksudmu?" tanya Lisa yang sudah tersinggung akan ucapan Lia.
"Kau menunjukkan hasil zina di leher. Astaga, aku bisa menjadikan hal ini sebagai bukti kalau kau memang sudah terjebak dalam pergaulan bebas." Lisa mulai bingung. Leher? Dia beranjak, menuju ke sebuah cermin yang memantulkan tubuhnya.
Matanya terarah kepada lehernya. Apa ini yang Lia maksud? Lisa sangat tak mengerti. Dari penjelasan yang Lia ucapkan tadi, dia dapat menyimpulkan kalau tanda merah iyu snagat berbahaya. Lisa berlalu, menuju kamarnya untuk menutupi merah-merah itu.
"Dia memang wanita yang begitu bodoh. Aku tak tahu, bagaimana masa depannya nanti.'' Lia menutup gadgetnya. Tubuhnya yang sedari tadi bersandar pada tembok, kini sudah berada di depan pintu ruang makan. Tamu akan datang, Lia sendiri bisa mendengar sambutan langsung dari ayah dan ibunya.
Bibi Siti datang, Lia dengannya harus tetap berada di meja makan untuk melayani tamu tersebut.
Wanita dengan penampilan yang begitu elegan datang, wajahnya tampak cantik meski umurnya sudah tak muda, tubuhnya kayak model dengan kulit putih. Sedangkan di samping wanita itu, ada seorang pria yang mengenakan jas. Lia dapat menduga kalau mereka lah tamu yang ayahnya sambut. Lia memang tak tahu siapa mereka, jadinya dia tak begitu terlalu peduli.
Saya tamu memasuki ruang makan, saat itulah Lia dapat mendengar perbincangan mereka dengan jelas. Selagi belum ada perintah dari ayahnya untuk melayani tamu, maka Lia dan Bibi Siti tak bergerak dari tempatnya.
"Saya sangat senang Anda berkenan datang ke sini, Pak Wahyu dan Bu Sarah."
TBC
Minggu, 29 November 2020.
Publikasi: Sabtu, 06 Februari 2021.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ms. Money (END)
Teen FictionIni tentang Lia yang menjadi gadis pecinta uang. Seringkali dia memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan uang, salah satunya adalah memanfaatkan seorang pria kaya yang akan diambil uangnya. Niatnya ingin memanfaatkan, justru menjadi sebaliknya. Li...
