Part 53

551 58 21
                                        

Kalau ada typo tandai ya

1,37 K

🍭

🍭

🍭

"Ayo!" Lia menaiki motor ninja milik Brian. Seperti biasa, dia akan memegang bahu Brian dengan kuatnya. Lia sudah terbiasa dengan kecepatan tinggi Brian saat mengendarai motor, jadinya Lia tak perlu takut lagi.

Dilihat dari kaca spion, Brian begitu fokus kepada jalanan. Meski kecepatannya tinggi, dia berusaha mengendarai dengan baik. Saat motor berhenti karena lampu merah, Lia mengedarkan pandangannya. Begitu banyak kendaraan di belakang motor Brian yang berbaris. Pandangan Lia berhenti pada sebuah mobil bewarna merah.

Bukan mobilnya yang menjadi fokus utama Lia. Namun orang yang berada di dalamnya. Lia sangat mengenali orang itu dan sekarang, dirinya dalam keadaan yang sangat gawat. Tangan Lia langsung menutup kaca helm yang gelap. Harapannya adalah, wanita itu tak menyadari keberadaan Lia.

Jika bisa, Lia ingin berlari sejauh mungkin. Dia tak ingin ketahuan oleh orang itu, Lisa. Adik tirinya yang berada dalam mobil bersama dengan kekasihnya. Metrja begitu dekat, tekadang kekasih Lisa mencium wajah Lisa, hal itulah yang membuat Lia meringis.

Remaja kecil itu sudah sangat nakal.

Dia mengalihkan pandangannya. Lampu masih merah dan hitungan mundur yang berada di dekat lampu lalu lintas masih pada angka 10 detik. Sebentar lagi, Lia meremas pelan bahu Brian. Dia harus bagaimana ini? Lisa mulai melihat ke arah motor Brian, Lia tahu itu.

Terpaksa, Lia memeluk erat pinggang Brian dan menaruh kepalanya di atas bahu pria itu. Pelukan tiba-tiba itu membuat Brian terkut. Alisnya mengkerut bingung, mengapa baru sekarang Lia memeluknya? Perasaan motor telah berhenti dan tak ada hal yang ditakutkan.

Namun, Brian tak ingin berpikir panjang. Dia menganggap kalau Lia memeluknya karena hanya ingin saja. Tubuhnya wangi karena parvum mint yang selalu digunakannya, jadi taka da yang perlu ditakutkannya.

"Jika lampu berubah menjadi hijau. Ku harap kau bisa memgendarai motor ini dengan kecepatan yang begitu tinggi," bisik Lia. Kepalanya dimiringkan, mengarah langsung ke leher putih Brian. Jantungnya berdetak dengan kencang saat mobil yang kekasih Lisa bawa, sudah tepat berada di sampingnya.

"Ada apa denganmu?" tanya Brian.

"Tak ada. Aku hanya ingin memelukmu saja." Lia menjawabnya dengan asal saja.

Sepuluh detik telah habis. Lampu telah berubah menjadi hijau. Motor yang Brian gunakan langsung melaju kencang, mengikuti ucapan Lia tadi. Saat itu pula, Lia melepaskan pelukannya dan sedikit menengok ke belakang. Samar-samar dia melihat mobil tersebut memasuki sebuah gedung hotel.

Napas Lia tercetak. Tak tahu akan memberitahu hal ini kepada ayahnya atau tidak. Lia tak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya. Tangan Lia yang gemetar memegang gadgetnya. Lia menundukkan kepalanya, menghidupkan gadgetnya dan membuka aplikasi telepon.

Ayah.

Apakah dia harus menghubunginya? Lia sangat tahu sekali. Saat jarinya akan menyentuh layar gadget, Brian lebih dulu memanggilnya.

"Lia, pegangan! Nanti kau bisa jatuh jika memegang gadgetmu." Brian berucap dengan kesalnya. Meski pandangannya selalu ke depan, dia snagat tahu kalau Lia tak lagi memegangnya, terasa di kulitnya. Brian hanya takut jika terjadi kecelakaan dan tubuh Lia akan mental jauh.

"Ya, maaf.'' Lia menyimpan gadgetnya dalam kantung bajunya. Niat tersebut gagal, biarlah semua terjadi sesuai takdir. Meski mereka bahagia saat melihat Lia menderita, maka biarlah Lia juga ingin melihat mereka menderita.

Apakah dirinya jahat? Lia sudah memberitahu masalah Lisa kepada keluarganha sejak lama akan pergaulannya yang begitu bebas. Jika Clara bisa menghancurkan hubungan keluarganya, maka Tuhan sendirilah yang akan membalas perbuatan Clara.

Aku menunggu hari itu.

Lia terus bergumam. Semua pikirannya begitu jahat saat ini. Ada rasa tak sabar dalam hatinya, menunggu sebuah kehancuran dari keluarganya.

Ingat kata-kata aku, ayah. Aku sudah menyerah. Aku tak ingin lagi menjadi orang yang baik untuk kalian. Aku lelah, aku hanya ingin semuanya terjadi.

Jika kehancuran tersebut terjadi. Aku pun tak tahu, akan tetap bersama ayah atau mencari ibu? Aku sudah sangat muak tinggal bersamamu. Ku harap, setelah aku pergi nantinya, kau dapat menyesali semua ini.

Bukan satu atau dua tahun kau menyiksaku. Hampir 7 tahun lamanya dan saat ini, aku sudah sangat menyerah. Putrimu ini, tak memiliki harapan lagu untukmu. Aku tak membutuhkan lagi kasih sayang, menjadi pengemis mu, membuatku menderita.

Lia menutup matanya. Menikmati semilir angin yang menghangatkan wajahnya. Tampak sangat tenang sekali. Dia mulai menghitung hari, dirinya sudah berjanji, suatu hari nanti, dia akan pergi untuk mencari kebahagiaannya.

Ku harap tak ada yang menangisi kepergian ku.

Saat motor berhenti, Lia membuka matanya. Mengangkat tubuhnya dan melihat motor ini terparkir sempurna di depan taman. Lia mengangkat sebelah alisnya dan menatap Brian dengan bingung. "Apakah kau akan menyusul adikmu yang sedang ada di sini?"

Sangat tak mungkin, seorang Brian akan bermain di taman, memangnya dia masih kecil? Tentu saja tidak. Lia ikut turun dan melepaskan jaket yang digunakannya. "Mengapa kita turun di sini?"

"Aku hanya ingin menikmati pemandangan di sini saja. Seraya menyantao kuliner. Aku yakin, kau pasti menyukai tempat ini." Bria memegang tangan Lia, memasuki taman yang tak terlalu ramai, tetapi sudah banyak pedagang dipinggir taman.

Lia menegukkan saliva dengan kasar saat melihat banyak sekali penjual makanan di sini. Samoai-sampai harumnya saja membuat Lia langsung kelaparan. "Aku ingin makan semuanya," ucap Lia.

"Ayo."

Sangking begitu banyak sekali penjual di taman ini, Lia jadi bingung sendiri makanan mana yang pas menjadi pembuka. Tatapan mata Lia jatuh pada sebuah toko es krim, ramai sekali anak-anak yang mengantri. "Es krim sepertinya snagat lezat jika dijadikan santapan untuk siang hari ini."

"Kau ingin es krim rasa apa?" tanya Brian melihat Lia yang sibuk memandang Baner, di mana terpampang beragam rasa dari es krim.

"Rasa cokelat saja."

Brian mengangguk, dia memesankan es krim untuk Lia. Saat sudah jadi, Lia langsung mengambilnya. Dia melahap dengan begitu cepat. Giginya tak terasa ngilu sedikitpun saat memakan es krim secara cepat-cepat.

"Awas, nanti kau bisa tersedak.'' Brian berucap. Es krim yang berada di tangan Lia kini sudah sisa setengah. Brina meringis melihatnya.

"Waktu akan terus berjalan. Aku tak mungkin membiarkannya es krim ini habis dalam waktu yang lama." Lia mengambil tempat duduk. Dia hanya fokus pada makanannya saja.

Setelah habis. Lia membuang sampahnya tersebut ke kotak sampah. Mengelus perutnya yang cukup kenyang, tetapi tak membuat napsu makannya menurun.

"Kau seperti biasa, akan menjadi wanita rakus di depanku." Brian menundukkan tubuhnya. Sehingga posisi mereka saat ini sejajar. Tangan Brian terangkat mencubit pelan hidungnya.

"Entah mengapa. Aku sangat senang saat kau menjadi wanita rakus di depanku."










TBC

Sabtu, 28 November 2020.

Publikasi: Kamis, 04 Februari 2021.

Ms. Money (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang