Part 17

1K 79 17
                                        

Kalau ada typo, tandai ya.

375🎉

🍭

🍭

🍭

Mengingat kata 'kencan' berhasil membuat jantung Lia berdetak dengan kencangnya. Selama 16 tahun ini di kehidupannya, tak ada seorangpun yang ingin mengajaknya kencan. Lia hanya bisa menyaksikan kencan dalam sebuah drama yang akan ditontonnya bersama dengan Stella atau pada malam hari sebelum tidur.

Bagian sebagian orang, akan menganggap, betapa menyenangkan kencan bersama orang yang tersayang. Namun, entahlah bagi Lia. Dia belum tahu sensasinya kencan dengan krang tersayang. Karena Lia, tak memiliki orang tersayang, satupun.

"Kau mengajak aku kencan?" tanya Lia dengan hati-hati, Dia hanya takut dianggap terlalu percaya diri oleh pria di depannya ini.

Brian mengangguk. Dia mengambil kopinya dan meminumnya sejenak. "Benar. Namun, aku tak percaya dengan alasan yang kau buat."

Kebingungan menghampiri Lia. "Apa yang kay tak percayai?"

"Saat ini, sudah zaman millenial. Semuanya telah berubah. Mengapa orangtuamu berpikir dengan sangat tradisional yang masih mencegah anak perempuan untuk keluar rumah?"

"Mungkin, Ayahku hanya ingin agar Aku tak mendapatkan pergaulan yang buruk, makanya Dia ingin aku tetap dalam rumah saat malam hari," ucap Lia. Dia sangat tahu bagaimana pola pikir ayahnya yang masih mengikuti adat dan tradisi. Beberapa larangan untuk wanita, di buat oleh ayahnya untuk anak-anaknya, mungkin diantara Lia, Tika dan Lisa, hanya Lia lah yang mengikuti peraturan tersebut.

Karena, tanpa diketahui, ibunya sering membantu Tika dan Lia pergi jika di malam hari. Lia sangat sering melihat Tika yang keluar dari rumah secara mengendap-endap atau Lisa yang akan melewati jendela untuk keluar.

"Apa kau tak bosan? Setelah pulang sekolah akan di rumah terus sampai pagi datang dan bersiap ke sekolah lagi."

"Tidak. Aku sudah terbiasa hidup seperti itu dalam rumah. Untuk hiburan, sudah ku dapatkan dari sekolah. Jadi, kurang bahagia apa hidupku?" Lia dengan santainya berucap. Baginya, dalam hidupnya, hanya ada satu kekurangan, yaitu uang.

Hanya uang saja!

"Kalau aku menjadi mu, maka Aku akan mati akibat rasa bosan," ucap Brian dengan jujurnya. Tak bisa dibayangkan, hidup hanya dengan dua layar saya sekolah dan rumah. Sedangkan Brian adalah orang yang aktif; aktif menghancurkan basecamp geng motor.

"Kebahagiaan orang-orang itu berbeda, dari asalnya dan bentuknya," ucap Lia.

"Lalu, asal dan bentuk kebahagiaan mu dari mana?"

Lia tersenyum kecil, Dia menggeleng pelan. Menolak untuk menjawab pertanyaan Brian. "Jangan sekarang. Aku akan menjawabnya suatu hari nanti. Kau bisa kesal mendengar asal kebahagiaanku," ucap Lia dengan misteriusnya.

Sedangkan, Brian yang mendengar ucapan Lia penuh akan teka-teki, membuatnya ingin tahu apa maksudnya. Namun, niat untuk bertanya, Brian urungkan. Brian tak ingin mendapatkan kesan yang buruk di mata Lia.

Makanan datang, Lia menatap lapar pada pesanannya yang sangat menggiurkan. Burger dengan roti yang memiliki jerawat di atasnya, saos yang terlihat di daun seledri membuatnya air liurnya hampir terjatuh. Lalu Chicken yang sangat menggiurkan, ada saos cabai di dekatnya dengan dipasangkan sebongkah nasi yang terbungkus.

Lia hendak mengambil makanannya, tetapi Brian langsung memukul tangannya. "Ada apa?" tanya Lia dengan kesalnya.

"Kau belum cuci tangan. Aku yakin, pasti tanganmu sangat kotor," ucap Brian. Karena dirinya hanya memesan nasi goreng dan pastinya untuk makan menggunakan sendok dan garpu, jadinya Brian tak perlu lagi mencuci tangan.

Mengakui kalau tangannya kotor, Lia beranjak. Menuju ke tempat wastafel yang tersedia. Mencuci tangannya, mata Lia menatap pada pantulan dirinya yang berada di cermin. Wajah Lia masih putih, tak terlihat kotoran sedikitpun secara mata telanjang. Lia bersyukur, setidaknya Dia tak memiliki masalah kulit seperti kebanyakan wanita diluar sana. Jadinya, Lia tak perlu lagi memikirkan merawat kulitnya.

Setelah selesai, Lia berbalik dan pergi. Melihat lukisan-lukisan yang abstrak tertempel di tembok. Ingin rasanya Lia menyentuh lukisan abstrak tersebut, mengingat kala tangannya sudah bersih, maka Lia urungkan niatnya. Dia hanya bisa menikmati keindahan lukisan tersebut, tanpa harus menyentuh.

Setelah sampai di mejanya, Lia langsung mengambil tempat duduk. Tanpa membuang waktu lagi, Dia memakan burger yang berukuran cukup besar itu. Mulutnya tak terlalu besar, sehingga hanya mampu memakan sedikit saja untuk satu suapan. Namun, kecepatan makan Lia sangat cepat sehingga dalam waktu 5 menit saja, burgernya telah habis.

"Brian. Ku dengar kau adalah ketua geng motor ...." Lia berhenti berucap, Dia lupa apa nama geng motor Brian.

"Mavros," sambung Brian.

"Iya, itu. Apakah kau ketua geng motor tersebut?"

"Ya," ucap Brian dengan percaya dirinya. Baginya, mendapat gelar sebagai ketua geng motor Mavros adalah sebuah kebahagiaan sendiri. Apalagi, geng motor Mavros cukup dikenal oleh orang-orang Jakarta.

"Bagaimana bisa?" tanya Lia. Ini adalah sebuah pertanyaan yang selalu menggenang dalam otaknya dan membutuhkan sebuah jawaban secepatnya.

"Maksudmu?"

"Kau masih berusia 17 tahun. Bagaimana bisa memimpin geng motor mavros dan bahkan membuat 10 geng motor lainnya takluk padamu?"

Brian meletakan sendok dan garpu nya. Dia tampak berpikir sejenak, mencari jawabannya, setelah ketemu, Brian pun berkata, "Kami memang masih remaja. Namun, kelompokku memiliki prinsip solidaritas dan juga kerja sama untuk menyelesaikan masalah. Kami bersatu, dengan kelebihan yang Kami gunakan, maka kekuatan Kami akan terlihat oleh dunia. Bukan hanya karena Aku yang membuat kekuasaan geng motor Mavros menjadi luas saat ini, tetapi persatuan kami untuk mencapai misi yang telah dibuat.''

Lia ternganga mendengarnya. Ini adalah kali pertama Brian berucap dengan sangat panjang dan begitu lembut. "Kau hebat dan juga kelompok kau."

"Tentu," ucap Brian, dia mengakui kalau kerja sama geng motor Mavros sangat bagus, mengesampingkan ego, saling menegur jika ada kesalahan dan tetap menghormati ketua.

Tak terasa Lia telah habis. Dia mengambil minuman soda dan meminumnya sedikit saja. Setelah dirasa lidahnya segar, Lia meminum air putih agar lidahnya menjadi netral.

Melihat Brian yang sangat lama sekali dalam menghabiskan makanannya, membuat Lia bosan. "Lama sekali kau makan," ucapnya.

"Aku sudah kenyang." Brian memajukan piringnya. Dilihat, masih banyak sekali nasi goreng yang tersisa di piring Brian.

Lia jadi teringat dengan ucapan Ibunya, Dia merasa tak tega jika makanan itu akan dibuang secara sia-sia saja.

"Tak semua orang, bisa makan dengan lezat. Oleh karena itu, kita harus menghabiskan makanan yang tersisa, setidaknya untuk ucapan rasa syukur saja. Kau tahu, di beberapa negara yang memiliki cuaca panas,untuk mencari air saja sangat sulit, banyak orang yang kesulitan hanya untuk hidup saja. Bersyukurlah, Lia, Kita masih bisa hidup dengan enak."

"Tidak. Biar Aku saja yang menghabiskannya," ucap Lia. Dia mengambil piring Brian. Saat suapan pertama, terasa sekali organ pencernaannya menolak untuk dimasukkan makanan lagi, tetapi Lia tetap memaksa untuk menelannya.

Menyadari itu, Brian langsung memanggil pelayan. "Kalau kau kenyang, lebih baik jangan dihabiskan, nanti akan ku suruh pelayan untuk membungkusnya," ucap Brian kepada Lia.

Lia mengangguk. Dia menaruh sendoknya di piring. Perhatiannya bteralih ke gadgetnya, melihat begitu banyak notifikasi di grup lambe.

"Bungkus seluruh makanan ini. Juga aku memesan, Spaghetti, Kimbap dan Ayng bakar." Brian berucap dengan nada yang pelan agar Lia tak mendengarnya.

Brian cukup kagum dengan Lia. Mungkin sebagian orang akan berpikir kalau Lia sangat rakus dengan menghabiskan makanannya, tetapi Brian sangat mengetahui alasannya.

'Kau wanita yang cukup mengagumkan, bagiku."













TBC.

Minggu, 22 November 2020.

Publikasi: Jumat, 18 Desember 2020.

Ms. Money (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang