Kalau ada typo tandai ya.
1,56 K
🍭
🍭
🍭
Terjadi keributan kecil di rumah Lia. Di mana Clara dan Reza melarang para polisi untuk membawa Tika. Wanita itu tetap dijadikan pelaku penguna narkoba, terbukti dia ditangkap saat menghisap salah satu obat-obatan terlarang. Lia tak cukup tahu banyak tentang narkoba, tetapi dia mengenali salah satu jenis narkoba yang terkenal di Indonesia yaitu Sabu-sabu dan juga Ganja.
Ciri khas narkoba yang dipakai oleh Tika hampir sama dengan Sabu-sabu, narkoba itu telah dibawa oleh para polisi untuk dijadikan bukti. Begitu banyak saksi yang melihat Tika sedang menggunakannya, akan sangat sulit untuk mengeluarkannya dari penjara.
Saat ditangkap, Tika masih dalam keadaan sakau. Dia terus mengamuk untuk meminta barang haram miliknya lagi. Tika tak bisa mengendalikan emosinya, dia belum puas menghisap barang tersebut dan membutuhkan lebih. Akal pikirannya sudah hilang sepenuhnya. Dia tak mempedulikan orangtuanya yang terus membelanya, tetapi Tika justru hanya fokus saja pada obat-obatannya.
Lia hanya bisa melihat kejadian tersebut. Tak ada dorongan dalam hatinya untuk membantu saudarinya tersebut. Apa yang akan Lia lakukan? Mengamuk tak jelas seperti orangtuanya? Percayalah, jika mengandalkan emosi saja, masalah tak akan pernah selesai.
Lagian juga, Lia cukup senang melihat Tika yang ditangkap. Pantas saja penampilan Tika sudah berubah, wajah cantiknya dulu, kini mulai betubah, di mana pipinya menjadi kurus sehingga tulang menonjol juga beberapa keriput dibagian tubuhnya. Wajah Tika akan selalu murung, seperti tak ada harapan hidup lagi, emosi juga terkadang tak terkendali seperti mengamuk tak jelas padanya atau pada Bibi Siti.
Biarlah. Jika Lia sudah berusaha untuk memberi tahu akan informasi ini, tetapi tak ayahnya justru tak peduli. Maka ini teguran untuk mereka, yang terlalu percaya pada kedua anaknya tersebut. Baik Lisa dan Tika sudan terjebak dalam lubang kejahatan, semua penyesalan atau kesedihan akan datang kepada mereka.
"Secepatnya." Lia berbalik. Dia memasuki rumahnya, membiarkan Clara yang berteriak tak jelas seraya menangis. Mengumpat, 'kan para polisi yang dengan jahatnya membawa putrinya.
Lia melihat Bibi Siti yang berlari dari arah berlawanan. "Mengapa Nona Tika bisa ditangkap polisi?" tanya Bibi Siti dengan wajah cemasnya. Tangannya yang memegang lap meja, diremasnya dengan kuat.
"Dia dituduh menggunakan obat-obatan terlarang. Mungkin sebentar lagi, dia akan direhabilitasi atau dikurung," ucap Lia. Dia kembali melangkahkan kakinya. Setiap atau kangkah, sepuluh harapan dilayangkan untuk Allah.
Lia membayangkan, bagaimana kehidupannya setelah Tika pergi ke penjara. Apa semakin murung hidupnya? Atau mereka akan mulai mempedulikan keberadaannya? Untuk opsi kedua sepertinya sangat mustahil, selagi Clara tetap ada di sisi Reza, maka dirinya sedang tak baik-baik saja.
Saat akan ke kamarnya, Lia harus melewati kamar Lisa. Satu alisnya naik saat tak melihat keberadaan wanita itu, padahal kakak kandung itu sedang dibawa ke penjara.
Rasa ingin tahu semakin membesar. Perlahan, tangan Lia terangkat untuk menyentuh kenop pintu.
"Lia!" Panggilan tersebut mengagetkan Lia, sehingga wanita itu langsung melepaskan tangannya dari kenop pintu.
Senyum kecil muncul di wajahnya saat melihat orangtuanya yang saat ini tengah menatapnya datar. "Ada apa?"
"Kembali ke kamarmu." Lia mengangguk. Dia berbalik, langkahnya begitu kecil dan juga lambat. Meski dia membelakangi orangtuanya, Lia tahu kalau mereka akan membuka kamar Lisa.
Sama-samar, Lia bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Mengapa dengan penampilan mu yang begitu berantakan?"
"Aku baru bangun tidur, Ayah.''
"Ayah ingin memberitahu kalau. Kakakmu saat ini tengah dipenjara akibat mengkonsumsi obat-obatan."
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara barang yang terjatuh, Lia yakin kalau benda itu terbuat dari kaca atau tanah liat.
"Apa itu? Apakah ada seseorang yang ada dalam kamarmu?" tanya Reza. Dia akan menengok ke arah kamar Lia, tetapi dengan cepat Lisa menutup pintu kamar.
"Tidak ada Ayah. Mungkin salah satu vas bunga ku terjatuh di lantai karena angin."
Dengan mudahnya Reza percaya, dia mengangguk. "Baiklah. Ayah tunggu kau diluar. Kita akan melihat kakakmu ke pantor polisi."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Lia langsung mempercepat jalannya dan memasuki kamarnya. jika ayahnya dengan mudah mempercayai Lisa, maka tidak dengan Lia. Dia bukan wanita bodoh yang akan percaya dengan ucapan ringan dari Lia. Dari sekuruh pengamatannya, pasti ada yang tak beres.
"Remaja kecil itu sudah berani bermain di rumah ini." Lia mengamati setiap penjuru kamarnya. "Jika tidak butuh. Aku akan meninggalkan tempat bekas zina ini. Sangat menjijikkan."
***
Hanya Lisa saja yang mereka ajak, tanpa membawa pergi Lia juga, mereka ke kantor polisi, mungkin untuk meminta keterangan. Lia juga tak begitu peduli, jika dirinya diajak maka akan ditolak. Apa yang akan dilakukannya di kantor polisi? Duduk diam lalu melihat keluarganya yang memarahi para polisi.
Drama yang sangat membosankan.
Lebih baik Lia menonton drama asli. Drama asal negri ginseng yang terkenal akan industri hiburannya. Kalau Lia lihat, kualitas drama korea juga sangat bagus. Sudah diakui, lantas saja banyak peminatnya.
Sedang asik menonton drama, sebuah telepon masuk membuat Lia harus menahan rasa kesalnya. Bagaimana tidak, saat itu bagian yang ditontonnya adalah bagian paling ditunggu-tunggu. Dengan kesalnya, dia menjaab telepon dari Brian.
"Ada apa?" Lia bertanya dengan nada kesalnya.
"Aku sudah berada di depan rumah mu. Keluarlah! aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Lia melotot, 'kan matanya. Dia bangun dari duduknya, menuju ke arah jendela dan membuka tirainya. Benar saja, saat ini Brian tengah berada di depan rumahnya. Beruntung orangtuanya sedang tak berada di dalam rumah, jika tidak, maka habislah dirinya. "Tunggu, aku akan mengganti baju dulu." Lia memutuskan sambungan telepon.
Menuju ke lemarinya dan mengambil salah satu baju kaos juga celana levis. Memakainya dalam waktu yang begitu cepat. Lia tak perlu memoleskan make up ke wajahnya teelbih dahulu, tak ada waktu.
Setelah selesai, dia keluar dari kamarnya. Berlari dengan kecepatan tinggi, menuruni tangga. "Aku akan pergi dulu, Bibi." Lia berucap setelah melewati Bibi Siti.
Brian yang tengah bersantai di atas motornya dengan memainkan gadget, Lia langsung menghampirinya. "Ada apa? Kau ingin membawa aku ke mana?'' Brian yang melihat Lia kelelahan langsung memberikan botol mineralnya kepada wanita itu.
"Ke rumahku." Brian mengambil helm yang sengaja dibawanya 2, agar Lia bisa memakai helm. Dia sangat tahu, kalau Lia tidak bisa diandalkan untuk membawa helm saja.
"Ya, untuk apa?" Lia sedikit menaikkan dagunya saat Brian berusaha untuk mengancingkan helm tersebut. Dia membuka tutup botol dan meminum isinya.
"Untuk bertemu dengan ibuku."
Seketika, seluruh cairan yang ada di mulutnya langsung keluar.
"Bertemu dengan orang tua Brian?"
TBC.
Minggu, 29 November 2020.
Publikasi: Sabtu, 13 Februari 2021.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ms. Money (END)
Teen FictionIni tentang Lia yang menjadi gadis pecinta uang. Seringkali dia memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan uang, salah satunya adalah memanfaatkan seorang pria kaya yang akan diambil uangnya. Niatnya ingin memanfaatkan, justru menjadi sebaliknya. Li...
