Kalau ada typo tandai ya
5,54 K
🍭
🍭
🍭
Rumah besar yang bertepatan di Pondok Indah, Jakarta Selatan itu tampak berdiri kokoh dan gagah. Pemandangan dari luar, di mana banyak sekali tanaman juga Pepohonan Cemara yang menghiasi pada bagian depannya.
Ada satu pos penjaga di mana seorang satpam tengah menjaga keamanan rumah tersebut. Atau seorang wanita yang memakai pakaian layaknya maid atau pelayan kini sedang membersihkan sampah yang dihasilkan oleh pohon.
Setiap tangkau bunga yang jatuh, membawa wangi menyerbak ke seluruh penjuru wilayah rumah tersebut atau air yang memancar ke arah langit, membuatnya tampak indah. Semua telah di desain dengan seorang Arsitek yang begitu pandai. Rumahnya, dapat membuat orang-orang tergiur untuk menjadikannya sebagai contoh rumah idaman.
Pemandangan taman yang sangat indah, paling baik dinikmati pada pagi hari dengan ditemani oleh segelas teh. Seperti yang dilakukan oleh seorang wanita paruh baya yang saat ini tengah menikmati waktu lenggangnya.
Kupu-kupu yang berterbangan, menyerap sari bunga membuat perpaduan antara indahnya warna bunga juga cantiknya motif sayap kupu-kupu, menambah kesan indaj pada pemandangan pagi ini.
Gadget yang ada di atas meja, dekat dengan nampan yang menaruh gelas teh nya saat ini berdenting. Wanita itu menghela napasnya kasar. Dia sangat menyesali telah menaruh benda pipi herbenyu persegi tersebut di dekatnya.
"Untuk bersantai saja sulit." Dia melihat sebuah pesan yang dikirim oleh asistennya.
Satu alisnya naik. "Dewi ingin ke sini? Tak masalah." Dia mengirimkan pesan persetujuannya kepada aasistemnya tersebut.
Teh dalam teko dan juga cangkirnya telah habis. Dia akan menyambut tamu kesayangannya, tak mungkin dia tak menyediakan minuman. Wanita itu menghubungi salah satu pelayannya da mengatakan, "Sediakan Teh Hitam Kayu Aro sekarang!" Setelah mengucapkan apa yang diinginkannya, dia menutup teleponnya.
Matanya melihat ke arah pintu masuk. Kenop pintu yang terbuka, senyum langsung terbit di wajahnya saat melihat wanita cantik yang menjadi tamu kesayangannya. Kulit eksotis nya disorot oleh sinar matahari yang sangat panas, meski begitu dia tetap ceria. Pakaiannya yang cukup rendah dan terbuka, membuat beberapa bagian tubuhnya dapat dilihat dengan mata telanjang.
Dewi datang dengan membawa satu paper bag berukuran besar, juga terdapat sebuah logo dari sebuah perusahan produsen barang mewah. Dewi berjalan dengan cepat, menemui wanita tersebut. "Tante Sarah. Aku rindu padamu.''
Kedua wanita yang berbeda generasi tersebut melakukan cipika-cipiki. Sarah menunjuk ke arah kursi yang kosong, menyuruh Dewi untuk duduk di kursi tersebut. "Aku juga rindu padamu. Kamu bertambah cantik saja."
Mendengarnya, membuat senyum manis Dewi terbit. "Tante, bisa saja," ucapnya.
Seorang pelayan datang, dengan membawa satu nampan minuman teh hangat. Di taruh dua cangkir ke bagian Dewi dan Sarah. Pelayan tersbeut menyajikan teh hangat tersebut pada cangkir masing-masing.
"Bagaimana?" tanya Sarah. Tangannya mengambil secangkir teh dan meminumnya sedikit. Caranya meminum dan juga duduk tampak anggun, seperti wanita bangsawan. Sarah memang dikenal sangat elegan oleh orang diluar sana. Setiap penampilannya akan selalu di puji karena sangat cocok. Kecantikan dia tak pernah terhalang oleh waktu yang terus berjalan.
"Bagaimana apa, Tante?" tanya Dewi dengan herannya. Dia melirik sejenak ke arah teh yang sudah tersaji untuknya. Tak ada rasa tertarik untuk mencicipinya saat ini, karena asap yang keluar.
"Hubunganmu dengan Brian. Sudah sedari dulu, Aku menunggu kejelasan dari hubungan kalian."
"Sampai saat ini, dia belum menembakku, Tante. Aku harus apa? Dia bahkan sudah menjalin kasih dengan wanita lain." Dewi berucap dengan nada sedihnya. Sedetik kemudian senyum terbit kembali di wajah cantiknya. Berusaha tak begitu peduli pada pemikirannya saat ini.
"Aku juga sudah mengenalnya, dia sangat cantik. Keturunan Indonesia dan Taiwan."
"Benarkah?" tanya Sarah tak yakin. Selama ini, dia sangat tahu bagaimana attitude atau penampilan dari para kekasih anaknya tersebut dan jujur, tak ada satupun dari mereka yang bisa membuat Sarah merasakam kebahagiaan.
"Ya. Namun, dia sedikit keras kepala dan juga cukup dibenci oleh orang-orang ... Ups." Dewi langsung menutup mulutnya, seolah saat ini dirinya tengah keceplosan dalam berucap. Sudut bibirnya terangkat saat melihat kemarahan di wajah Sarah. "Aku tak bermaksud untuk membicarakan hal tersebut. Dia adalah wanita yang sangat baik sekali dan juga ramah."
"Sudah Dewi. Kau tak perlu lagi menceritakan kebaikan seseorang, padahal dia adalah orang yang jahat." Sarah berucap dengan nada kesalnya. Satu cangkir teh langsung dihabiskannya, hanya dengan meminum teh saja dirinya sudah merasa lebih tenang. Matanya tertutup, sejenak dan kembali terbuka.
"Tante marah, ya. Maafkan aku," ucap Dewi seraya menundukkan kepalanya. Kuku-kuku jarinya saling bertautan, untuk menghilangkan rasa gugupnya saja.
"Tidak. Tante tidak marah kepadamu. Namun, Tante hanya marah saja kepada Brian. Anak itu tdlalu bodoh. Tante sudah sangat lelah menceramahi dia," ucap Sarah. Pandangannya beralih kepada sebuah paper bag yang dibawa oleh Lia tadi. "Apa itu?"
Dewi mengangkat kepalanya. Dia melihat ke arah tunjuk Sarah saat ini. Dewi mengambil benda yang dibawanya dan menaruh di atas meja. "Ibu dan ayah kemarin baru pulang dari Prancis. Dia menitipkan ini kepada Tante sebagai oleh-oleh.'' Dewi memajukan benda tersebut hingga berada di dekat Sarah.
Sebuah logo yang sangat terkenal di dunia ini, membuat Sarah sangat tertarik. Dia cukup menyukai barang-barang mewah yang diciptakan oleh perusahaan asal Prancis. Mulutnya ternganga saat melihat barang yang diberikan oleh Dewi. Barang tersebut adalah tas hitam yang berbentuk persegi panjang.
"Sangat indah sekali. Ucapkan terimakasih pada orangtuamu Dewi." Sarah kembali memasukkan tas tersebut ke dalam paper bag. Dia melihat ke arah jam nya. "Ayo, kita menghampiri Brian. Tante ingin bicara dengannya."
Dewi mengangguk. Dia beranjak, berjalan seiringan dengan Sarah. Paper bag yang dibawa oleh Sarah, diberikan kepada salah satu pelayan, menyuruhnya untuk menaruh di ruangan khusus aksesorisnya.
Bunyi air yang berasal dari kolam renang, mereka mengarah ke tempat itu. Salah satu pelayan mengatakan kalau Brian saat ini tengah berolahraga renang. Sarah menggeleng kecil melihat putranya yang masih saja berenang, padahal ibunya telah datang. "Brian," panggilnya.
Brian berhenti berenang. Senyum terbit di wajahnya saat melihat ibu dan sahabatnya tengah berada di pintu. Brian berjalan, menaiki tangga dan menghampiri kedua wanita tersebut. "Ada apa, Ibu?"
"Kau memiliki kekasih yang tak benar lagi?" tanya Sarah dengan datarnya. Brian melirik sejenak ke arah Dewi untuk mempertanyakan, mengapa ibunya bisa tahu. Namun, Dewi menggeleng.
Aku tak tahu.
Gerakan bibir Dewi mengarah pada kalimat tersebut. Brian pun percaya dan mengangguk. "Ya, Ibu."
Sarah menghela napasnya dengan kasar. Dia menatap anaknya dengan tegas.
"Putuskan!"
TBC
Minggu, 29 November 2020.
Publikasi: Kamis, 11 Februari 2021.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ms. Money (END)
Teen FictionIni tentang Lia yang menjadi gadis pecinta uang. Seringkali dia memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan uang, salah satunya adalah memanfaatkan seorang pria kaya yang akan diambil uangnya. Niatnya ingin memanfaatkan, justru menjadi sebaliknya. Li...
