Sebenarnya keberadaan kamu itu tidak salah dalam kehidupanku, hanya saja aku yang terlalu tinggi berekspresi membuat aku lupa bahwa kamu belum tentu bisa memenuhi ekspektasi aku.
***
Perempuan yang memakai baju tidur pink itu keluar dari kamarnya masih dengan mata terpejam, kemudian ia mengangkat kedua tangganya ke atas supaya tidak mengantuk lagi.
"ASTAGHFIRULLAH!" teriak Una saat matanya terbuka sambil selesai menguap.
"Kalau nguap jangan besar-besar nanti kita kesedot masuk ke mulut lo," celeketuk Hasbi.
Una menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil mendekati mereka yang sudah duduk rapi di meja makan yang panjang.
"Kebiasaan," ujar Reyhan saat Una menarik bangku untuk duduk di dekat Rey.
Una mencibik sesaat dan tidak mau mengambil pusing ia langsung memilih sarapan pagi-nya.
Semuanya benar-benar diam, tidak ada yang berani berbicara hanya dentingan sendok dengan piring saja yang saling sahut-menyahut. Una yang merasa semuanya memasang muka tegang sambil sesekali meliriknya, kini mengangkat kepalanya menatap mereka jengkel.
"Kenapa? Mau ngomong ya ngomong aja gak usah natep gue kaya gitu," dumel Una membuat semuanya diam.
Gadis yang masih memakai baju tidur itu mengibaskan rambutnya kemudian melihat semuanya diam saja, tak mau ambil pusing ia melanjutkan makannya mengabaikan semua orang yang sudah selesai makan.
Brak!
"Kenapa sih liatin gue mulu!" gentak Una dengan nada sedang.
Bagas yang tau semua mata menatap ke arahnya kini berdiri menatap Una dengan takut. "Hm ... Una, gue minta maaf soal kejadian waktu malam."
Una diam.
"Gue bukannya sengaja ngelakuin itu ke elo. Gue terlalu asik nari-nari sampai gak tau kalau lo ada di belakang gue dan berakhir ...."
"STOPP!" potong Una langsung. "Gak usah bahas waktu malam lagi. Lagian gue gak papa kok. Lihat." Una berdiri sambil memutarkan badannya di depan Bagas yang masih terlihat khawatir sekaligus takut.
"Lagian ini salah gue sendiri udah tau gue punya trauma tapi malah ngadain acara di kolam renang." Una terkekeh kecil namun sangat memilukan untuk sang pendengar.
"Ah udah-udah, masa pagi-pagi di isi yang melow-melow gini, sih. Gak seru tau," ujar Galuh.
Sowon melirik Una yang sudah duduk sambil memakan kembali sisa makanannya. "Btw, Na. Ada acara gak untuk hari ini?"
Una mengangguk cepat. Selanjutnya ia langsung menelan makanannya dan meminum air putih kemudian berbicara, "ke pantai enak tau. Syukur-syukur di pantainya sampai sore biar liat sunset."
Semuanya dia menatap satu sama lain lalu menatap Una kembali dengan bingung.
"Na. Lo, kan punya trauma, udah gak usah di paksain," ucap Bryan.
"Una cuman punya trauma saat liat kolam renang aja, kalau pantai enggak," jawab Umey cepat yang di balas senyuman dan kedua acungan jempol dari Una.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Lies || Eunkook
Fanfiction[Romantis-Komedi-sad] Kau tau hal apa yang palingku benci didunia ini? PERSAHABATAN. Ya persahabatan, persahabatan bisa sejahat iblis dan bisa sebaik malaikat. Namun, yang ku temui di dunia ini adalah sahabat yang sejahat iblis. Se...
