31. Debat sejarah

380 62 0
                                        

Kalau lo bilang gue berubah, bukannya lo sendiri yang berubah?
***

Angin sepoi-sepoi menyapa seluruh orang yang sedang menunggu datangnya bus SMA untuk pergi ke tempat perlombaan debat sejarah.

Begitu cepat bukan bulan Juni di lalui? Dan banyak meninggalkan beberapa kenangan buruk bagi gadis yang memiliki wajah putih, hidung yang menjulang ke atas, rambut sebahu, dan memiliki pipi gembul itu. Sehingga siapapun yang memandang mukanya antara gemas, cantik, dan jutek ketika sedang melirik orang.

Tempat jam 06.30 bus pengantar lomba untuk SMA bakti pun datang dan hal tersebut langsung di sambut riuh oleh anak Exper Class yang ikut ke tempat perlombaan sebagai pen-support. Sebelum menaiki bus tersebut Una yang memakai baju putih abu-abu di balut blazer moccha menyalami beberapa guru, dan beberapa para Kakak kelas Exper Class juga yang kebetulan ikut menunggu datangnya bus.

"Semangat, Na. Kita disini nunggu kabar baiknya dari kamu," saut Kak Asyrah yang duduk di kelas 11 IPS 1. Ia juga memiliki julukan kakak kelas ter-humbel diantara angkatan Exper Class lainnya dan tidak pernah menganggap yang lain rendah meskipun dirinya anak pandai.

Una setelah berpelukan langsung mengulum sunggingan manis ke arah Asyrah. "Doain ya, Kak."

Dia kembali berpelukan dengan kakak kelas lainnya yang ada di sebelah kiri Kak Asyrah, yaitu Kak Maudy yang dulu pernah mewakili debat sejarah tahun lalu dan meraih juara 2. Sedangkan sekarang ia tidak bisa mengikutinya lagi karena debat sejarah selalu  khusus untuk anak kelas 10 saja.

Maudy yang melihat Una langsung tersenyum ramah dan memeluknya serta menasehatinya. "Aku yakin kamu bisa mengalahkan SMA lain, dan jika memang benar maka musuh kamu itu cuman anak SMA Andromeda. Kelihatannya kalem tapi kadang-kadang dia suka licik."

Una mengangguk dan setelahnya ia mengacungkan jempolnya ke arah Kak Maudy, kemudian beralih saliman dengan para guru lainnya dengan di kasih pencerahan dari beberapa guru yang dia salami.

Sampai tibalah saat dimana dia bersalaman dengan kakaknya sendiri. Una langsung memeluknya erat pada Kakak nya yang tinggi sekali bahkan tinggi dirinya hanya sebatas ketiaknya.

"Ingat Na, bersikap supportif. Mau kalah atau menang itu urusan belakangan, namun saat kamu bersikap supportif disaat itulah kamu yang paling hebat diantara lainnya." Una mengangguk di dalam dekapan Kakaknya.

Dia mendongak menatap Kakaknya yang kini menurunkan pandangannya ke arah Una. "Kakak nanti liat Una kan, sama ayah dan Mamah Lisa?"

Angga yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung mengangguk mantap. "Pasti dong, bintang kecilnya Kakak lagi berjuang masa Kakak enggak liat," kekeh nya yang ikut menular juga ke Una.

"Kak, aku ke bus dulu takut kelamaan." Pamit Una yang setelahnya diangguki oleh Angga.

Kakinya kini berlari kecil namun hanya sesaat lalu menoleh kebelakang lagi sambil melambaikan tangannya ke para guru, dan kakak kelas Exper Class sedangkan siswa-siswi lainnya sudah memulai pelajaran pertama.

"SEMANGAT, UNA!"

"FIGHTING!"

"KALAHKAN ANDROMEDA!"

"KALAU MENANG INGET NANTI KITA RAYAIN OKE!" saut Kak Maudy membuat Una terkekeh lalu menangguk dah setengahnya dia masuk ke bus.

Saat Una mencari bangku kosong dan melewati beberapa siswa yang sudah duduk, netra Una tidak sengaja menatap Ines yang ada di bus?

Bukannya masih di skorsing?

Ia menggidikkan bahunya acuh lalu duduk di belakang kursi Arkan, setelahnya bus pun mulai melaju perlahan.

A Lies || EunkookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang