Terlalu mengekang akhirnya membangkang.
Terlalu berharap akhirnya juga sakit hati.
Terlalu percaya akhirnya di balas dusta.
Jadi, cukup sewajarnya saja akan semua.
Karena hal yang lebih terkadang akan membuat hati semakin letih. Semua rumit dalam dunia apa lagi dalam kehidupan.
***
Jefan kini berdiri di depan kaca sambil membenarkan jaketnya serta menyisir rambut, bersiap ke rumah Una dan meminta maaf kembali.
Waktu malam dia sempat bertanya ke guru besarnya yang bernama Yoga, sang pakar cewek. Dari penjelasan Yoga ketika seorang cewek marah dia harus membelikan sesuatu untuk sang cewek sebagai tanda perminta maafan. Aneh dan lebai, tapi Jefan harap semua yang di katakan oleh Yoga bisa membuat Una tidak marah lagi kepadanya.
"Jef, kamu pesen bunga?" ujar sang Mamah sambil menyembulkan kepalanya di pintu sang anak.
"Iya, udah datang ya?" Jefan langsung menghampiri Mamah Nesya dan menuntun Mamahnya agar menunjukkan di mana letak bunga pesanannya berada.
"Nih. Untuk siapa?" kata Nesya seraya memberikan satu buket bunga kepada Jefan yang kini menerimanya dengan wajah berbinar.
"Untuk Una mah-"
"Cieee ... Pacarku lima langkah dari rumah," goda Mamah yang kini sudah berjalan mengelilingi Jefan sambil tersenyum usil.
"Apaan sih, Mah. Ini bunga perminta maafan Jefan ke Una," jelas Jefan.
"Tapi kok belinya bunga kayak mawar. Bunga ini kan buat nembak cewek, aaaa ... Jefan ngeles Mamah ya."
Tidak mau berlama-lama Jefan langsung salim ke Mamah Nesya detik selanjutnya dia berlari ke arah pintu sambil berteriak, "Mah, doain anakmu supaya terhindar dari perang ya. Doa Mamah paling mustajab."
Ting nong!
Ting nong!
Ting nong!
Ting!
Ting!
"WOI YANG SABAR NAP-"
"Maaf." Jefan langsung menyodorkan bunga itu pada Una ketika Una membuka pintunya.
Melihat Una yang mengambil bunganya, Jefan langsung membuka mata sambil tersenyum namun senyum itu sirna sedetik setelah Una membuang bunganya ke lantai lalu menginjaknya sadis.
"Mulut lo bilang maaf tapi muka lo gak tulus."
Jefan yang mendengar Una berkata seperti itu langsung tersenyum dan mengulangnya kembali, sebelumnya dia menarik nafas lalu tersenyum hangat. "Maaf."
"Mata lo kelihatan banget benci sama gue, mata sama hati itu satu tujuan gak pernah bisa di bohongin."
Jefan berkedip dua kali dia tidak habis fikir cewek pendek di depannya ini adalah cewek bawel, padahal tatapan matanya emang begini.
"Maaf," ucap Jefan dengan sorot memelas tak lupa juga dengan senyumannya.
"Mulut lo bilang maaf tapi tubuh lo berkata lain."
Fix Una ngibarin bendera perang bareng gue!
"Terus gue harus apa? Minta maaf sambil goyang gitu supaya tubuh sama mulut sikron?" kata Jefan.
Jefan menghela nafasnya berat. Cewek selalu benar dan cowok selalu salah itu prinsip yang menyebalkan, namun bagaimanapun Jefan tidak bisa marah lama dengan Una. Menurutnya dunia bakal sepi kalau sehati tidak menjahili Una.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Lies || Eunkook
Hayran Kurgu[Romantis-Komedi-sad] Kau tau hal apa yang palingku benci didunia ini? PERSAHABATAN. Ya persahabatan, persahabatan bisa sejahat iblis dan bisa sebaik malaikat. Namun, yang ku temui di dunia ini adalah sahabat yang sejahat iblis. Se...
