2. A lies✓

1.6K 163 143
                                        

A/n: sedang dilakukan revisi, jadi jika kalian baca di chapter yang belum di revisi trs berbeda dengan versi sudah di revisi atau bahkan beberapa di jelaskan kembali di chapter yang belum di revisi harap maklumi><

~~~^^~~~

Berhati-hatilah kau ketika memilih seorang teman, lebih berhati-hati lagi kalau kau memutuskan untuk mengakhiri persahabatan mu.

~~~~^^~~~~

2 bulan kemudian.

"Na, besok ada ulangan harian, ya?" tanya Ines sambil berjalan beriringan menuju gerbang.

"Iya."

"Kisi-kisinya dong Una cantik," mohon Ines sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada tak lupa juga ia menunjukkan puppy eyes nya.

"Iya, chat aja." Una menghentikan langkahnya dan menatap Ines. "Nes, gue pulang duluan ya."

Ines mengangguk lalu tersenyum pada Una. "Hati hati ya."

Una mengangguk lalu pergi menuju Arkan yang sudah duduk di motornya.

"Udah ngerumpinya?" tanya Arkan pada Una yang baru saja sampai.

"Udah, ayok." Una langsung duduk di motor Arkan, kemudian setelah mengetahui gadisnya sudah duduk, Arkan pun menjalankan motornya.

"Na, tadi lo ngomongin apa sama Ines?"

"Itu tadi Ines minta kisi-kisi buat ulangannya Ibu Silvi."

"Jangan sering-sering kaya gitu, nanti di manfaatin," kata Arkan sambil menatap Una dari kaca spion.

"Dia sering bantu aku, jadi ya yaudah aku bantu."

"Iya sih tapi inget ada batasannya kalau ngebantu orang." Arkan memberi nasehat seraya menuntun tangan Una agar memeluknya.

"Hm."

"Ini rumah karena rumah kamu deket sama sekolah, kamu enggak ada niatan buat kemana gitu biar bisa lama bareng aku?" tanya Arkan mulai memelankan motornya, lebih pelan dari awal.

"Enggak deh, aku belum ngeringkas materi biologi, terus ada Mas juga lagi pulang pasti di suruh belajar," kata Una sedikit tidak enak karena terus menolak Arkan yang mengajaknya jalan dari beberapa Minggu lalu.

Arkan pun menghentikan motornya ketika sudah sampai di rumah Una, sedangkan Una langsung turun dari motor Arkan dan kemudian memberikan helmnya, "makasih Arkan," ujar Una sambil tersenyum.

"Arkan apa?" goda Arkan sambil menarik turun kan alisnya.

Una yang tak tau maksud Arkan apa ia hanya bisa mengerutkan keningnya bingung.

"Arkan ... Gan ...," ucapnya sengaja digantungkan supaya Una paham maksudnya.

"Gan? Arkan ganjen?"

Arkan menepuk mukanya pelan lalu mendesah, ah iya lupa bahwa Una itu orang yang gak peka.

"Bilang gini dong 'makasih Arkan ganteng' bukan Arkan ganjen!" jelas Arkan yang disambut tawa oleh Una.

"Lagian kalau ngomong itu jangan setengah-setengah, salah ngarti kan bisa bahaya loh."

"Ya kali Na, cogan nya SMA Bhakti ganjen."

Una terkekeh. Merasa masih bersalah pada Arkan, Una kembali meminta maaf. "Maaf ya gara-gara aku belajar terus jadi jarang jalan."

Arkan yang mendengarnya kurang setuju pun langsung mendekati Una. Cowok itu memeluk Una sambil berbisik. "Jangan ngerasa bersalah gini dong, kan masih bisa jalan lain waktu lagi."

A Lies || EunkookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang